Home Artikel Adiksi Penggunaan Internet dan Gadget

Adiksi Penggunaan Internet dan Gadget

351
0
adiksi

Perkembangan teknologi sudah kita akui dan rasakan mampu mengubah wajah dunia menjadi lebih dinamis dan penuh warna. Sesuatu yang booming saat ini, dalam hitungan bulan, atau bahkan hari, dapat menjadi sesuatu yang sudah dilupakan, atau sebaliknya, hal-hal yang baru muncul bagai cendawan dimusim hujan. Oleh karena sifatnya yang dinamis tinggi inilah yang membuat teknologi ini memaksa manusia untuk selalu dinamis, beradaptasi dengan kondisi yang selalu berubah.

Teknologi yang paling dirasakan cepat berkembangnya adalah internet dan gadget. Internet dan gadget menjadi alat bantu utama untuk bekerja dan kegiatan sosialisasi sehingga tanpa disadari individu menghabiskan banyak waktu untuk menggunakan internet. Peningkatan angka penggunaan internet ternyata menyebabkan konsekuensi positif dan negatif. Akhir-akhir ini, terdapat pertambahan jumlah laporan mengenai konsekuensi negatif dari penggunaan internet yang berlebihan.

Perkembangan teknologi dan pola hidup tersebut menyebabkan adanya pengelompokan generasi. Individu yang lahir antara tahun 1977 dan 1997 (Generasi Y) disebut generasi milenial. Generasi Z (Generasi net, gen I (internet), gen 911, atau gen M (muti tasking) adalah generasi yang lahir pada tahun 1990 dan awal tahun 2000. Generasi Z tumbuh dengan internet dan merupakan penerima langsung dari perkembangan teknologi modern. Individu yang termasuk dalam generasi ini tumbuh dengan komputer rumah, internet, video games dan berbagai gadget lainnya. Oleh karena itu, secara sadar mereka menjadi tergantung terhadap internet, email, media sosial dan lainnya.

Saat ini, isu sosial yang diakibatkan oleh pemakaian internet secara berlebihan menjadibahan perdebatan di seluruh dunia. adiksi atas penggunaan internet ternyata dapat menyebabkan permasalahan dalam otak kita, gangguan psikologi, serta permasalahan sosial, yang dampaknya dapat menghancurkan hidup manusia. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Weinstein et.al 2010 (Weinstein & Lejoyeux, 2010) terhadap para pengguna internet di Eropa dan Amerika Serikat, ditemukan bahwa adiksi atas penggunaan internet memiliki tingkat kelaziman antara 1.5% hingga 8.2% dari total pengguna internet di Kawasan tersebut. Untuk Kawasan Asia, diwakili oleh penelitian di 6 kawasan; China (879 responden), Hongkong (839 responden), Jepang (744 responden), Korea Selatan (936 responden), Malaysia (969 responden), dan Philippines (999 responden), terhadap remaja berusia 12 – 18 tahun, ditemukan bahwa kawasan-kawasan di Asia ini lebih rawan terhadap permasalahan adiksi internet. Dari hasil data, didapati bahwa remaja sebagian besar mengakses (78.5%), dan Philippines (19.4%). Selain dari rumah, mereka juga mengakses internet ditempat umum, perpustakaan sekolah, dan rumah teman. Terkait dengan aktivitas yang para remaja lakukan saat mengakses internet, mereka sebagian besar menggunakan internet untuk melihat email, jejaring sosial, browsing, dan bermain game online (mak et al., 2014).

Sebenarnya masih banyak perdebatan yang terjadi menentukan cara terbaik dalam mengklasifikasikan perilaku yang dicirikan dengan waktu yang dihabiskan didepan komputer/internet/video games yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan (Czincz & Hechanova, 2009). Perilaku yang diikuti dengan adanya perubahan suasana hati (mood), keasikan yang berlebihan dengan internet dan media digital, ketidakmampuan untuk mengandalikan waktu yang dipakai untuk bermain teknologi digital, diperlukannya waktu yang semakin lama atau jenis permainan digital baru untuk mengembalikan suasana hati, gejala untuk mengucilkan diri ketika tidak bermain dengan digital teknologi, dan keberlanjutan perilaku ini dapat mengakibatkan berbagai macam permasalahan mulai dari konflik dalam keluarga, terganggunya pekerjaan ataupun kegiatan belajar-mengajar, hingga hilangnya kehidupan sosial (Beard, 2005; YOUNG., 2009).

Beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan internet yang berlebihan adalah salah satu ciri dari penyakit mental yang lain seperti ketakutan (anxiey) atau depresi, bukan penyakit mental yang berbeda, misalkan hasil penelitian yang ditulis oleh Kratzer dan rekan (Kratzer & Hegerl, 2008). Adiksi internet juga dianggap sebagai gangguan kontrol secara impulsive. Namun masih ada konsensus yang berkembang mengkategorikan gejala ini sebagai adiksi (Grant, Potenza, Weinstein, & Gorelick, 2010). American Society of Addiction Medicine (ASAM) baru baru ini merilis definisi baru tentang adiksi sebagai penyakit yang berkaitan dengan otak kronis, yang secara resmi mengusulkan pertama kalinya bahwa adiksi tidak terbatas hanya pada penggunaan obat-obatan atau zat adiktif lainnya (ASAM, 2011). Semua kecanduan, entah kimiawi atau perilaku, memiliki karakteristik tertentu yang dominan, seperti penggunaan yang berlebihan hingga kehilangan kendali atasnya, suasana hati yang berubah-ubah, berkurangnya toleransi, pengucilan diri, dan kelanjutannya yang memiliki dampak negatif.

Para pengguna internet menjadi kecanduan karena mereka memperoleh berbagai penghargaan saat mereka menggunakan berbagai aplikasi, baik penghargaan yang bersifat nyata maupun yang bersifat maya. Apapun jenis aplikasi digital yang digunakan, seperti internet browsing, chat room, video game, SMS, cloud game, pornografi, dan lain-lain, semua kegiatan ini dapat menyebabkan rasa penghargaan dan rangsangan dengan tingkatan yang berbeda dan bervariasi (Young & Abreu, Oct2010). Rasa penghargaan dan rangsangan ini akan semakin meningkat jika digabungkan dengan konten yang meningkatkan mood, misalkan rangsangn seksual dari kegiatan melihat porografi, memperoleh penghargaan sosial semisal menjadi superhero dalam video game, fantasi yang romantis disitus kencan, bahkan keuntungan finansial dari situs poker online (Amichai-Hamburger & Ben-Artzi, 2003).

Remaja merupakan kelompok yang paling banyak menerima dampak dari perubahan teknologi yang menyediakan berbagai fasilitas seperti Pendidikan, dunia hiburan, permainan, dan media sosialisasi. Terkadang remaja menggunakan internet sebagai salah satu cara untuk menghindari realitas kehidupan dan memasuki dunia fantasi yang mudah ditemukan di internet seperti perangkat lunak Second Life, World of War Craft, dan lainnya.

Dampak buruk gadget terhadap anak-anak

Alasan sebagian orangtua memberikan gadget untuk anak adalah supaya mereka tenang dan tidak merepotkan. Gadget memiliki banyak manfaat apabila digunakan sebagaimana mestinya. Namun, perlu Anda ketahui bahwa gadget sebaiknya tidak dikenalkan pada anak usia dini karena memiliki resiko negatif terhadap perkembangan anak. Terlalu dini mengenalkan gadget pada anak maka resikonya semakin besar.

Berikut Dampak Negatif Gadget Terhadap Perkembangan Anak :

1. Resiko terkena radiasi

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang cukup tinggi sehingga ketika melihat orangtuanya menggunakan gadget pasti berusaha untuk meraihnya. Sebagian orangtua terkadang langsung memberikannya supaya si kecil tenang dan tidak rewel. Memang tidak ada salahnya memberikan gadget bagi anak, namun apabila hal tersebut menjadi kebiasaan akan berbahaya bagi si kecil.

Menurut sebuah penelitian mengatakan bahwa anak kecil sangat rentan terkena radiasi bila dibandingkan dengan orang dewasa. Gadget tidak hanya menimbulkan radiasi yang berbahaya bagi anak, akan tetapi pancaran sinar dari layar tersebut sangat membahayakan kesehatan si kecil. Oleh karena itu, sebaiknya anak-anak usia balita sebaiknya terhindar dari gadget supaya tidak membahayakan kesehatannya. Anak-anak masih mengalami perkembangan sistem saraf sehingga sangat rentan terkena radiasi.

2. Menjadi sebuah kebiasaan

Seperti halnya orang dewasa, anak-anak juga sangat beresiko kecanduan bermain gadget. Pada awal-awal mungkin anak Anda hanya sebatas menggunakan gadget untuk bermain game, namun lama kelamaan ketika si kecil sudah menemukan kesenangan dengan benda tersebut maka akan menjadi sebuah kebiasaan yang berdampak negatif terhadap perkembangannya. Apabila sudah menjadi kebiasaan maka hal ini bisa menyebabkan anak tidak berminat untuk berinteraksi dengan orang lain. Kondisi seperti ini tentunya sangat tidak baik bagi perkembangan kemampuan anak dalam hal bersosialisasi

Selain berdampak terhadap kemampuan berinteraksi, kebiasaan menggunakan gadget bisa berpengaruh terhadap kesehatan anak. Biasanya ketika si kecil sudah kecanduan bermain game di gadget tidak akan terkendali sehingga lupa makan dan berakibat terhadap kesehatan tubuhnya. Maka dari itu, alangkah lebih baiknya apabila Anda sebagai orangtua membatasi penggunaan benda tersebut.

3. Lambat memahami pelajaran

Kebiasaan anak-anak yang asik dengan gadget akan berpengaruh terhadap kemampuan otak dalam menangkap informasi. Salah satunya yaitu ketika anak mendapatkan pelajaran di kelas cenderung susah untuk memahami apa yang disampaikan oleh guru. Selain itu, anak-anak juga cenderung malas untuk belajar dan membaca buku akibat dari kecanduan untuk bermain gadget sehingga prestasi secara akademik menurun.

4. Beresiko terhadap perkembangan psikologis anak

Terkadang sebagian game ataupun tontonan pada gadget memperlihatkan kekerasan sehingga hal ini bisa berdampak negatif terhadap perkembangan psikologis anak. Anda sebagai orangtua harus membatasi penggunaan gadget pada anak dan sebaiknya mendampingi anak ketika menggunakan benda tersebut supaya tidak memberikan pengaruh buruk terhadap perkembangan anak.

Menangani Kecanduan Internet dan Gadget

Ada pendapat umum dari para peneliti yan menyimpulkan bahwa pelarangan total menggunakan internet untuk para adiksi internet jangan menjadi tujuan dalam proses intervensi penyembuhan orang dengan adiksi internet. Yang menjadi tujuan utama dari proses penyembuhan ini adalah tercapainya keseimbangan dan kendali atas penggunaan internet dengan media digital yang digunakan. Misalkan jika orang adiksi internet memiliki kecanduan aplikasi media sosial seperti facebook, maka orang dengan adiksi ini tetap boleh menggunakan internet untuk melakukan kegiatan digital lainnya, dengan catatan bahwa penggunaan media sosial tersebut harus dibatasi dan diawasi dengan benar (Petersen et al., 2009).

Mengacu kepada buku karya Young “Internet Addiction: Symptoms, Evaluation, and Treatment” (KS, 1990), ada beberapa strategi penyembuhan yang diturunkan dari metoda pendekatan perilaku-kognitif, yaitu:

  • Penjadwalan aktifitas yang mengganggu proses penggunaan internet; dimana kita harus memetakan jadwal penggunaan internet dari orang yang adiksi internet dahulu, lalu dibuatlah jadwal baru yang mengganggu aktivitas pengguna internet tersebut.
  • Menggunakan metoda stopper eksternal; yang mana kita melakukan aktivitas atau membuat suatu kejadian yang membuat orang yang adiksi internet untuk log off.
  • Membuat goal Batasan waktu penggunaan internet.
  • Menjauhkan diri dari aplikasi digital tertentu yang menjadi sumber kecanduan
  • Menggunakan kartu pengingat; yang mengingatkan orang yang adiksi internet akan bahaya dari adiksi internetnya dan manfaatnya jika sembuh dari adiksi internet.
  • Mengembangkan inventaris aktivitas pribadi yang dapat melibatkan orang yang adiksi internet atau membuat inventaris aktivitas pribadi yang mana saat ini tidak dapat dilakukan karena tidak ada waktu akibat dari adiksi internet.
  • Bergabung dengan grup yang mendukung penyembuhan adiksi internet, sebagai kompensasi atas kurangnya dukungan sosial.
  • Terlibat dalam terapi keluarga; memetakan permasalahan hubungan dalam keluarga.

Mencegah dampak buruk internet dan gadget bisa Anda lakukan dengan cara bersikap bijak dalam memperkenalkan gadget untuk anak. Jangan memberikan gadget khusus untuk anak, biarkan dia menggunakan milik Anda sehingga penggunaannya bisa dibatasi dengan mudah. Apabila anak menggunakan gadget Anda sebaiknya koneksi internetnya diputus supaya anak tidak mengklik situs yang tidak dianjurkan. Selain itu, Anda juga harus senantiasa mendampingi anak ketika menggunakan gadget.

Internet dan gadget memiliki banyak manfaat dalam membantu kehidupan manusia, namun penggunaannya yang berlebihan dapat menimbulkan risiko untuk terjadinya adiksi yang akan menimbulkan gangguan proses berpikir dan perilaku. Deteksi dan penanganan adiksi internet perlu dilakukan secara dini untuk menghindari konsekuensi yang merugikan.

Sumber Bacaan :

Nur Azhar, Tauhid., dkk. (2018) Gence, Membedah Anatomi Peradaban Digital. Bandung: Tasdiqiya
ASAM, A. S. o. A. M. (2011). Public Policy Statement: Definition of Addiction.
Cegah Dampak Buruk Gadget – dr tiwi, SpA, MARS.
Dampak Penggunaan Gadget pada perilaku anak – dr Kristiana Siste, SpKJ(K). 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.