Mengenal Intimidasi Anak & Remaja dalam Dunia Maya (Cyberbullying)

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi saat ini turut ambil peran dalam mengubah pola pikir dan sikap pelajar. Di satu sisi, internet membawa pengaruh positif bagi remaja karena mereka bisa membangun identitas sosial yang berkaitan dengan kegelisahan “Siapa Aku” dan “Di kelompok mana aku sesuai” (Kirsh, 2010: 21 dalam Rezha hal : 19). Di sisi lain, internet membawa pengaruh negatif pada maraknya cyberbullying yang menunjukkan masih minimnya penerapan etiket berinternet di kalangan pelajar (Pratama: 2014: 335 dalam dalam Rezha hal : 19).

Pelajar sebagai digital native disajikan beragam pilihan teknologi komunikasi yang mutakhir, tetapi mereka masih minim menerapkan etika selama berkomunikasi menggunakan internet. Di Indonesia, literasi digital masih difokuskan kepada kompetensi teknis menggunakan internet. Padahal berdasar individual competence yang disusun European Commisision (2009) untuk mengukur tingkat literasi media seseorang, setidaknya ada tiga komepetensi yang harusnya dipenuhi, yakni kemampuan teknis, pemahaman kritis, dan kemampuan berkomunikasi dan berpartisipasi.

Cyberbullying adalah kejadian manakala seorang anak atau remaja diejek, dihina, diintimidasi, atau dipermalukan oleh anak atau remaja lain melalui media internet, teknologi digital atau telepon seluler.

Cyberbullying dianggap valid bila pelaku dan korban berusia di bawah 18 tahun dan secara hukum belum dianggap dewasa. Bila salah satu pihak yang terlibat (atau keduanya) sudah berusia di atas 18 tahun, maka kasus yang terjadi akan dikategorikan sebagai kejahatan dunia maya atau pembuntutan dunia maya (atau sering disebut cyber harassment).

Motivasi pelaku cyberbullying juga beragam. Ada yang melakukannya karena alasan marah dan ingin balas dendam, frustasi, atau ingin mencari perhatian, atau ada juga yang melakukannya hanya untuk iseng. Tidak jarang motivasinya terkadang hanya bercanda. Pelaku atau tindakan cyberbullying tentu saja tidak pantas untuk ditiru.

Anak-anak atau remaja yang melakukan cyberbullying terhadap temannya terkadang tidak memikirkan apa dampak buruknya. Orang yang ia ejek tersebut bisa kecewa, sedih, hingga merasa tertekan, dan bisa menarik diri dari lingkungannya karena tidak punya rasa percaya terhadap dirinya sendiri. Hal ini sangat merugikan dan membuat orang lain mendapatkan efek negatif atas perbuatan cyberbullying. Untuk itu, peran orangtua sangatlah penting dalam pencegahan terjadinya cyberbullying.

Cyberbullying dapat mempengaruhi kesehatan mental. Pelaku bullying ini mencoba untuk masuk ke dalam kepala  dan membuat korban merasa tak berharga dan sengsara. Korban juga selalu takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Hal ini dapat menyebabkan beberapa kerusakan serius pada kesehatan secara keseluruhan. Korban cyberbullying pada umumnya mengalami masalah kesehatan secara fisik dan mental.

Gejala Fisik: Selera makan hilang, sulit tidur atau gangguan tidur, keluhan masalah kulit, pencernaan dan jantung berdebar-debar.

Gejala Psikologis: Gelisah, depresi, Kelelahan, rasa harga diri berkurang, sulit konsentrasi, murung, menyalahkan diri sendiri, gampang marah, hingga bunuh diri (Dinkes, 2015)

Fenomena cyberbullying akan terus mengerogoti kesehatan mental remaja, sehingga perlu perhatian banyak pihak dalam mengatasi persoalan ini. Dibutuhkan peran stakeholder kesehatan dan pendidikan serta didukung oleh orang tua untuk bisa ikut serta dalam menanggapi masalah ini yang berjalannya waktu terus menghampiri para remaja.

Dibutuhkan adanya program untuk meningkatkan pemahaman pada remaja di sekolah atau kampus, para pendidik dan juga orang tua agar mengenali bahaya cyberbullying dan dampak jangka panjang yang bisa merusak perilaku dan kesehatan mental para anak & remaja.

Lalu apa yang dapat kita lakukan untuk korban cyberbullying?

  • Ajak korban bicara. Sarankan ia untuk berbicara dengan orang yang ia percaya tentang apa yang ia alami dan rasakan. Sebab jika korban diam saja dan memendam semuanya sendirian, ini bisa berbahaya.
  • Jika berbicara tidak memungkinkan, minta dia untuk menulis lewat surat.
  • Agar korban tidak semakin depresi dan merasa makin diintimidasi di media sosial, sarankan agar ia tidak membuka media sosial untuk sementara waktu. Kalau perlu tutup akunnya.
  • Jangan hanya jadi penonton. Agar aksi ini tidak semakin berkembang, kita bisa melaporkan aksi cyberbullying ini ke pihak media sosial terkait dengan mengklik tombol “Report Abuse”. Jika kita membiarkan, apalagi ikut menyebarkan, ini sama saja kita menjadi pelaku bully.

Dalam era keterbukaan seperti saat ini setiap orang menjadi merasa memiliki kebebasan untuk menyatakan pendapat tanpa mempertimbangkan berbagai aspek yang menyangkut kesejahteraan psikologis korban

 

Sumber Bacaan :

Amelila, R. R. (2016). Literasi Digital, Individual Competences, Pelajar, Internet, Netiket, Digital literacy, individual competences, student, internet, internet ethics. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Ayu, S. I. (2017, Maret 11). Retrieved from binus.ac.id: http://scdc.binus.ac.id/himslaw/2017/03/cyber-bullying-di-indonesia/

BEM FK UNUD. (2016, September 23). Retrieved from BEMFKUNUD: http://bemfkunud.com/2016/09/23/kajian-cyberbullying-di-indonesia/

Ningrum, D. W. (2016, April 16). Retrieved from detik.com: https://inet.detik.com/konsultasi-cyberlife/d-3188716/bahaya-cyberbullying-depresi-hingga-bunuh-diri

Wikipedia. (2018, februari 27). wikipedia. Retrieved from https://id.wikipedia.org/wiki/Intimidasi_dunia_maya