Home Artikel Teori Generasi dan Kerancuan Berpikir Tentang Teknologi Digital

Teori Generasi dan Kerancuan Berpikir Tentang Teknologi Digital

163
0

Simpan sejenak konsep generasi milenial yang populer itu. Bagi kami manusia terlalu unik untuk dikuantifikasi berdasarkan angkatan kelahiran. Tiap daerah punya ragam budaya yang berbeda, tentu hal ini berpengaruh juga pada pembentukan karakter dari masyarakat setempat. Apa mungkin kita mengatakan bahwa seseorang yang lahir di Berlin pada tahun 2000 memiliki karakter serupa dengan orang yang lahir Kalabahi di tahun serupa?

Memaksakan satu ‘konsep generasi’ secara general ke berbagai daerah di dunia merupakan langkah gegabah dan terlalu terburu-buru. Bahkan bila merujuk kajian klasifikasi generasi Strauss-Howe (salah satu tokoh rujukan generasi X, Y, & Z atau lebih dikenal dengan istilah Baby Boom, 13th Generation, Millennial, & Homeland / Post-Millennial), mereka justru menggunakan teori generasi dalam konteks budaya masyarakat Amerika.

Pencaplokan teori generasi dan adaptasi teknologi serampangan di Indonesia merupakan contoh terbaik kekeliruan berpikir masyarakat tentang bagaimana menyikapi suatu perkembangan budaya. Salah satu contoh lain adalah adaptasi internet dan teknologi digital yang terlalu berlebihan. Ada pernyataan menarik yang terlontar dari Kominfo RI dalam perhelatan Siber-Kreasi beberapa waktu lalu. “Indonesia mengalami kesenjangan digital! Tidak semua masyarakat mampu mengakses internet seperti di kota,” begitulah kurang lebih agenda besar pemerintah yang terdengar oleh kami saat acara berlangsung. Perhatian pemerintah pusat tentang kesenjangan digital disambut oleh Kominfo melalui Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI) dengan program “Akses Internet untuk Desa”. Tentu hal ini perlu diapresiasi, tapi tetap kita perlu kritisi dengan melalui pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti; “apa betul seluruh desa perlu internet?”

Internet bak obat ajaib bagi umat manusia dari ‘kegelapan’ informasi dan pendidikan tapi bisa juga jadi petaka, bahkan sumber konflik bagi sebagian masyarakat. Sehingga bagi kami, pemerataan akses internet hingga ke desa dan pelosok perlu dikaji kembali atau minimalnya perlu dibarengi dengan edukasi dan literasi digital secara tuntas. Kita sama-sama melihat bagaimana masyarakat dan pemerintah khususnya memandang teknologi sebatas perangkat dan ‘mengaksesnya’ adalah urusan ketersediaan jaringan, perangkat lunak-keras, dan sebaran BTS. Sehingga tak heran bila kami melihat banyak penyalahgunaan teknologi digital (termasuk didalamnya internet, video games, media sosial, dan sebagainya) di masyarakat. Bagi kami teknologi digital bukan semata urusan peranti lunak dan keras tapi merupakan produk budaya, sehingga penting bagi kita untuk memperlakukannya dalam kerangka kajian sosial-budaya bukan hanya pendekatan sains-teknologi saja.

Sudah saatnya kita merubah cara pandang kita terhadap teknologi dan semua turunannya. Bila dulu kita melihat terdapat dikotomi yang kental antara kebudayaan dan teknologi. Relasi yang tak bersahabat antara kebudayaan-teknologi pernah menjadi kecenderungan paradigma pembangunan di Indonesia, utamanya pada masa Orde Baru. Hingga tak heran, bila jargon-jargon pembangunan di Indonesia cuma urusan infrastruktur semata tapi jarang menyentuh ranah pendidikan dan literasi. Dikotomi inilah yang menurut kami menjadi penyebab utama terjadinya gap-pengetahuan yang begitu luas di masyarakat kita, utamanya ihwal perkembangan teknologi digital, bagaimana menyikapi, dan memanfaatkannya.

Salah satu dampak gap-pengetahuan yang luar biasa adalah salah kaprah tentang teknologi itu sendiri. Misalkan video game, terdapat dua spektrum masyarakat yang sangat mencolok; pertama mereka yang menolak mentah-mentah video game karena menganggap akan ‘merusak’ anak-anak mereka dengan dalih konten-konten negatif di dalamnya; kedua, adalah kelompok yang menerima begitu saja video game tanpa berpikir bahwa didalamnya terdapat konten-konten yang perlu diawasi. Kelompok kedua cenderung berpikir bahwa video game (layaknya mainan anak-anak lainnya) diperuntukan memang untuk anak-anak saja. Kedua kelompok ini merupakan ‘korban’ dikotomi pengetahuan budaya-teknologi yang kental. Masing-masing beranggapan bahwa teknologi dan pengetahuan tentang pemanfaatannya merupakan dunia dua berbeda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.