Smart Antrophomorphic City

Smart Antrophomorphic City

23
0
SHARE

Sebuah kota itu pasti berjiwa dan akan “menjiwai” setiap jiwa yang hidup di dalamnya. Lalu jiwa kota dan jiwa-jiwa manusia di dalamnya akan bersintesa dan bersimbiosa. Mereka saling mengomplementasi, saling melengkapi. Dalam tinjauan psikologi klasik, pengondisian ditentukan oleh stimulus yg diterima dari lingkungan.

Dan ketika kota dan manusia-manusia di dalamnya bersintesa maka lahir makhluk bergenre “chimera”. Dalam mitologi Yunani makhluk ini adalah penghabluran karakteristik biologis dari berbagai spesies. Artinya apa ? Kita dan kota adalah makhluk yang menyatu dan kehilangan salah satunya dapat menimbulkan fenomena “phantom limb”. Maka otak kota adalah akumulasi dari otak kita. Insula, ACC, dan PFC kita semua.

Makhluk yg tumbuh dan lahir serta saling mempengaruhi secara vis a versa. Smart Anthropomorphic City tepatnya. Saat kota punya sistem hemat energi maka setiap sel/manusia di dalamnya akan menjalankan program yang sama dalam level subordinasi berskala lebih mikro, demikian pula pada berbagai fungsi lainnya.
Maka desain dan infrastruktur yg didayai energi regulasi (energi itu siklus dan regulasi potensi loh, ingat hukum kekekalan energi dan termodinamika. It’s all about conversion).

Konversi tentu perlu regulasi dan struktur peta jalan yang menjamin arah gaya dari energi kinetik kota yang menggerakkan strategic business unit berupa manusia sebagai warga, mengalir dan menciptakan resultante-resultante dari berbagai arah gaya yang tervektoring untuk mendorong perubahan yang terukur dan terintegrasi. Kota dan Kita akan menjadi jaringan syaraf maya yang nyata, virtual konseptual tetapi sekaligus nyata dan faktual. Jika mengacu pada konsep Neuromorphic yang dinisbatkan pada machine, maka machine punya MCS atau machine common sense, saya yakin bioma, habitat, dan kota, juga ekosistem akan punya “common sense”.

Neuromorphic principles mendorong lahirnya teknologi memristor yang menyajikan performa belajar dengan kemampuan membangun sinergi komunikasi melalui adaptasi fungsi sinaptik yang didukung ilmu material dan mikrosirkuit. Intinya kota dan kita akan membangun jejaring very-large-scale integration yang menjadi node-node syaraf yang bisa mendistribusikan kecerdasan ke setiap simpul dan level pengambilan keputusan. Kota dan Kita akan membangun “consciousness”nya, seperti Insula yg hadirkan kesadaran dan kontrol homeostasis atau hasilkan keseimbangan.

Mikro-mikro sirkuit ini dapat dimulai dari penataan ruang publik seperti taman piknik, JPO, dll. VSLI yang terdiri dari mikro-mikro sirkuit juga dapat berupa integrasi antar komponen infrastruktur seperti LRT-MRT-Busway-Trotoar-dan jalur sepeda. Sistem yang diberlakukan akan menjadi layer of learning dan menjadi aktuator knowledge growing system.Budaya tertib, antre, dan cashless misalnya. Akan lahir nilai sebagai bagian dari maturasi kesadaran, goalnya tercipta masyarakat Madani berakhlaq mulia.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.