Pandemi #untiltomorrow

Hari ini kita melihat bertebaran posting bertagar #untiltomorrow di istagram. Hastag itu artinya, foto kita hanya akan dipublikasikan hari ini kemudian dihapus esok. Hastag until tomorrow ini. Seperti dilansir dari The National, #untiltomorrow merupakan challenge untuk para pengguna media sosial yang belakangan ini banyak menghabiskan waktu di rumah akibat karantina dari mewabahnya virus corona (Covid-19). 

 

Hastag ini juga menerapkan jebakan bagi siapa saja yang menyukai unggahan bertagar tersebut, maka sang pemilik akun akan mengirimi pesan  “Aku melihat kamu menyukai unggahanku. Berarti kamu juga harus mengunggah foto dirimu yang memalukan dengan keterangan until tomorrow. Kamu bisa tandai aku lalu mengirim pesan yang sama ketika ada yang menyukai fotomu. Foto harus diunggah dalam waktu 24 jam. Semoga berhasil mengikuti gim ini.” 

 

Posting dengan hastag #untiltomorrow merupakan unggahan foto yang dirasa paling memalukan menurut dirinya. Banyak warganet mengambil foto pada masa sekolah atau kuliah dahulu.

 

Menariknya dengan adanya hastag ini banyak orang menghilangkan persona dia media sosial. Kadang ada orang yang terbiasa merapikan feed, seraya memberikan gambaran paling sempurna tentang dirinya. Namun dengan tagar ini seseorang bisa menjadi dirinya sendiri tanpa takut di cemooh. Bahkan, ada juga orang yang tidak kena jebakan  tagar #untiltomorrow dia mem-post foto memalukan dirinya sendiri. Ada juga orang yang mengunggah berkali-kali dengan hastag ini.

 

Tagar viral  ini memberikan gambaran yang jelas untuk kita, kadang menjadi diri sendiri lebih nyaman. Tidak usah terlalu mempedulikan cemoohan warganet, atau sekedar hitung-hitungan jumlah like yang sebenarnya hanya sebatas statistik belaka. (Khemal Andrias)

 

Orang Dewasa lah yang kecanduan Gadget, Bukan Anak-anak!!

Baru-baru ini kita melihat video beredar di lini massa media sosial yang merekam sejumlah anak-anak melakukan demonstrasi. Kejadian di dalam Video berlangsung di Hamburg, Jerman. Video tersebut diunggah pula oleh akun DW.Com ( Deutsche Welle) salah satu media terkemuka dari Jerman.

Demonstrasi yang dilakukan oleh anak-anak tersebut ditujukan pada orang tua mereka yang lebih memperhatikan gadget daripada anak-anak mereka. “We are here. We are loud. Because you are just looking at your mobile phone” Orasi yang diterikan anak-anak tersebut sambil berjalan.

Meskipun terlihat orang tua yang mendampingi anak-anak saat demonstrasi namun kegiatan demonstrasi tersebut terlihat begitu serius. Anak-anak tersebut turun ke jalan dengan membawa spanduk dan tulisan tuntutan. “Bermain dengan saya, bukan dengan smartphonemu (orang tua).”

Salah satu Anak yang berorasi pada demonstari tersebut adalah Emil yang berusia 7 tahun, dia berharap setelah dilakukan demonstrasi anak-anak minta orang tua matikan handphone, waktu lebih banyak dihabiskan bersama.

Jadi Siapa yang Kecanduan Gadget ?

Dari berbagai penelitian ilmiah siapaun berpotensi mengalami kecanduan. Namun sebenarnya orang tua lah yang memiliki potensi lebih besar. Berapa jam anda menggunakan smartphone ?

Otak manusia didisain untuk bekerja efisien kemudian otak akan lebih “menyukai” kegiatan yang paling simpel dan semua kemudahan itu ada pada smartphone. Berbeda dengan anak-anak yang tingkat keingintahuanya masih tinggi dan ingin mencoba hal-hal baru. Meraka akan sangat mudah untuk dialihkan. Anak-anak kecanduan gadget karena sebenarnya mereka tidak memiliki pilihan kegiatan lain. Orang tua melarang ini dan itu kemudian yang dianggap paling aman oleh orang tua adalah dengan memberi mereka smartphone.

Menurut Adrian Ward, seorang psikolog yang meneliti keputusan konsumen. Ia merilis sebuah jurnal yang diterbitkan oleh Journal of the Association for Consumer Research. Dalam jurnal itu, Ward menuliskan bagaimana smartphone memiliki efek unik.

Efek unik smartphone bekerja pada otak kita seperti halnya sebuah nama yang kita miliki dari kecil. Ketika kita dipanggil dengan nama tersebut otak kita akan terdistrak atau otomatis fokus untuk merespon panggilan tersebut.

Begitu halnya dengan smartphone, otak kita akan selalu terfokus pada benda itu. Memang prosesnya membutuhkan waktu , namun lambat laun smartphone akan menjadi bagian dari kehidupan kita. Sehingga kita akan selalu tertuju pada smartphone.

Bila kita melihat kasus di Jerman. Negar tersebut merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah kepemilikan smartphone paling tinggi. Sekitar 72 persen penduduk Jerman memiliki smartphone. Sedangkan di Indonesia sendiri menurut Lembaga riset digital marketing E-marketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang.

Angka tersebut merupakan angka yang potensial bagi industri digital, namun ibarat mata pisau yang terdiri dari dua sisi. Di sisi lain bayang-bayang kecanduan pada smartphone akan terus mengintai.

Orang tua harus mulai sadar dari sekarang. Karena yang sebenarnya kecanduan dan bahkan membuat anak-anak kecanduan adalah orang tua sendiri.

Mari kita luangkan waktu bermain bersama anak-anak kita. Simpan jauh-jauh smartphone saat anda sedang bersama anak-anak dan kawan.

Kita tidak perlu menunggu anak-anak demostrasi kepada kita untuk menginggalkan smartphone seperti yang dilakukan oleh anak-anak di Jerman Kan?