Membahas bahasa dan peradaban memang sangat menarik. Bahkan proses menuju era society 5.0 yang digambarkan secara teramat gamblang oleh Prof Yasraf Amir Piliang dalam diagram transformasi teknokulturalnya yang dipresentasikan di event Rating Kota Cerdas Indonesia 2021 belum lama ini menunjukkan bahwa perubahan peradaban dan pertumbuhan kecerdasan yang mendorong transformasi kultural yang menyertainya tak terlepas dari kapasitas pengolahan data dan pemanfaatannya dalam mengakomodir pemenuhan kebutuhan dasar secara efektif dan efisien.

Bahasa sebagai produk peradaban juga memiliki dinamika yang luar biasa. Hal ini sesuai dengan kaidah perkembangan peradaban yang bersifat siklikal. Cakra manggilingan. Selalu lahir produk cendekia baru dari hasil olah akal budi manusia yang memang ditakdirkan bersifat prokreasi. Salah satunya adalah bahasa. Bahkan dari yang semula verbal dan literal, dengan pendekatan semantik dan gramatikal, kini berkembang menjadi coding dan algoritmik konseptual yang menjembatani terlahirnya sistem dan aplikasi yang bersifat fungsional.

Ini seolah menggambarkan bahwa pengetahuan yang dilahirkan proses pemenuhan kebutuhan akan melahirkan suatu fondasi bagi pengembangan yang berorientasi menyempurnakan.

Sebagai contoh fungsi bahasa yang kemudian dapat memicu optimasi sirkuit neuronal di area tertentu untuk menghasilkan kapasitas fungsional dalam rangka membangun kemampuan mengartikulasikan pesan dan memaknai serta memahami pesan yang diterima dan dikirim sebagai perancah suatu proses interaksi yang diperlukan dalam mengonstruksi model komunikasi yang bersifat mutualisma dan komensalis.

Dalam perkembangannya ilmu linguistik bahkan menghasilkan banyak pranata, padan kata, dan hukum-hukum dalam perkara bahasa yang menjadi landas kesepakatan dan rambu agar ada jaminan kepastian bahwa model komunikasi ini dapat menciptakan saling pengertian dan kesetaraan dalam memaknai sebuah pesan. Pesan tak lagi asimetrik karena memiliki panduan yang terbangun dari proses berkecerdasan koloni yang kadang tanpa disadari telah menghasilkan banyak konsensus terkait definisi dan atributisasi serta label yang merepresentasi makna denotatif suatu objek.

Lahir pula kemudian sebagai ikutan ilmu turunan seperti fonetik dan fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik yang pada dasarnya menjaga esensi fungsi bahasa agar dapat terus menjadi pemantik terjadinya proses komunikasi setara dan adekuat.

Saat ini perkembangan ilmu linguistik bahkan telah mengajarkan kita sampai struktur baku kalimat dan kata (gramatikal), peran dan jenis kata (kerja, benda, sifat), dll. Bahkan di setiap konstruksi budaya ada pula pendekatan lisan dan tulisan dengan pola yang menjadi konsensus spesifik di lokus dan populasi khusus pengguna aktifnya. Dalam tradisi bahasa Yunani misalnya, yang sudah sangat tua, konsep deklensi dalam penggolongan kata benda misalnya, bisa menunjukkan sifat atau karakter khusus benda tersebut. Misal kecenderungan gender seperti feminin atau maskulin.

Sedangkan dalam struktur gramatikal nya ada dikenal penisbatan 3 kelompok gender: feminin, maskulin, dan neuter.

Maknanya apa? Tentu saja ini untuk memudahkan munculnya saling pengertian dengan memandu proses pemaknaan perseptual pada suatu simbol yang dijadikan titik temu dan titik pandu kognisi dalam mengarahkan/memvektoring proses kognisi yang memproduksi definisi.

Secara neuro linguistik sendiri munculnya kesepakatan atau konsensus dalam berbahasa selain melibatkan banyak struktur dan area khusus seperti pembagian Broca dan Broadman yang didalamnya ada aspek pengelolaan memori, sistem auditorik, sistem visual, sistem limbik, motorik, sampai pengaturan gestur yang tentu saja melibatkan secara paralel banyak unsur: PFC (prefrontal cortex), sub kortikal area, lobus temporal, area motorik (premotor dan supplementary motor cortex), sampai hipokampus dan syaraf sentralis.

Juga yang tak kalah penting adalah proses dan mekanismenya. Bagaimana terjadi proses aktivasi area-area khusus tersebut? Apa peran neurotransmiter? Bagaimana dengan konsep neuroplastisitas dan juga epigenetika? Bagaimana dapat muncul konsensus terkait definisi yang melahirkan basis data vokabulari dan juga pranata bahasa yang disepakati sebagai konstruksi ilmu yang menjadi infrastruktur untuk menjamin interaksi setara yang dapat saling memahami dan mengerti?

Sebagian data dan hasil penelitian disajikan dalam artikel berikut, meski dipublikasi pada 2011 tapi secara keseluruhan kandungan informasinya masih sangat relevan dengan perkembangan neurolinguistik saat ini.

https://journals.physiology.org/doi/full/10.1152/physrev.00006.2011

Sedangkan kajian ilmiah keterkaitan perkembangan linguistik dengan aspek genealogi yg bersifat genetik dalam konteks migrasi dan sejarah evolusi manusia Nusantara telah diteliti Prof Herawati Sudoyo dan tim Eijkman, serta menghasilkan beberapa publikasi ilmiah yang tentu sangat berguna bagi kita semua untuk mempelajari konstruksi peradaban dan data sains yang dapat menjelaskan proses serta mekanismenya.

Konsep riset terkait filogenetik (rekonstruksi filogenetik) melalui penelitian peran kromosom Y (haplotip) utk jalur ayah, mtDNA jalur ibu, dan DNA autosomal untuk jejak gabungan, yang diintegrasikan dengan data arkeologi dan linguistik menjadi metoda yang menarik dalam memetakan arus migrasi dan diversitas genetika yang terjadi.

Sementara hasil riset terkait dinamika diversitas genomik di Nusantara bisa disimak di :

https://journals.plos.org/plosgenetics/article?id=10.1371/journal.pgen.1008749

Sedangkan yang berhubungan dengan perkembangan bahasa dari aspek linguistik dapat dibaca di paper riset Prof Herawati Sudoyo et al yang berjudul Coevolution of languages and genes on the island
of Sumba, Eastern Indonesia.

Sementara paper Prof Herawati Sudoyo et al yang tautannya ada di atas dan berjudul:
Genome-wide DNA methylation and gene expression patterns reflect genetic ancestry and environmental differences across the Indonesian archipelago,
menunjukkan bahwa kondisi lingkungan fisik mempengaruhi keragaman genomik. Bisa melalui aspek meteorologi seperti iklim dan cuaca, juga dari sumber makanan dan berbagai aspek geologis di habitat yang didiami populasi terkait.

Maka dengan berbekal berbagai pengetahuan terkait perkembangan bahasa dan peradaban itu, kita dapat memetakan potensi dan mengonstruksi suatu upaya untuk mengoptimasi segenap kompetensi dan kapasitas yang menjadi elemen penting dalam konstruksi peradaban. 🙏🏾

Serem amat ya judulnya? Seperti judul disertasi atau sekurangnya proposal riset yang diajukan untuk mendapatkan pembiayaan dari lembaga funding global ya? 🤭 Apalagi menggunakan kata teorema segala. Apa ya teorema itu? Kalau kata Wikipedia sih: Teorema adalah sebuah pernyataan, sering dinyatakan dalam bahasa alami, yang dapat dibuktikan atas dasar asumsi yang dinyatakan secara eksplisit ataupun yang sebelumnya disetujui.

Ya kira-kira begitulah. Nah, dalam konteks kita hari ini Medan Bentur dan Ruang Lentur ini adalah sejenis asumsi yang dihasilkan dari pengamatan dari dinamika interaksi sosial yang saat ini tengah terjadi, dan tentu saja sedang kita alami.

Benturan, gesekan, gerakan, kecepatan, percepatan, itu pada gilirannya akan mengonversi energi menjadi kalor atau panas, demikian hukum fisikanya. Artinya ada perubahan massa yang diikuti dengan adanya perubahan bentuk energi, meski pada hakikatnya massa dan energi itu kekal kan ya.

Jadi bentur membentur dan lentur melentur ini hanya perkara sederhana yang kira-kira kalau mau diilmiah-ilmiahkan ya jadi semacam metoda optimasi eskalasi resiliensi sosial lah 🤭
Kedengaran keren ya bahasanya? Padahal mah…

Saya harus kembali ke cerita dan diskusi dengan seorang sahabat yang bekerja di PT Kereta Api Indonesia, karena dari beliaulah saya terinspirasi menulis perkara ini.

Teman baik sekaligus guru saya ini bernama wingit tenan: Yudho Pandowo. Nah menurut Ki Gede Yudho Pandowo ini, pada dasarnya motif dan sudut pandang seseorang sedikit banyak ditentukan oleh beragam faktor termasuk pengalaman dan proses belajar yang pernah dialaminya.

Tak terlepas pula dari karakter dan kondisi pribadi serta dinamika kehidupan yang yang telah melahirkan berbagai respon secara berulang kali sehingga membentuk pola replikatif-repetitif yang antara lain maujud dalam terbentuknya sirkuit neuronal yang sedikit banyak akan turut menentukan respon yang diberikan pada berbagai situasi yang dihadapi.

Mengacu kepada kondisi tersebut kita dapat belajar untuk menerima dan memberi ruang lentur dalam sebuah interaksi, alih-alih memperbesar medan bentur yang berpotensi memberikan efek destruksi ataupun hilangnya energi.

Pilihannya bisa 2 : menerima benturan dan mengubahnya menjadi Foton dan Elektron terhambur seperti di efek Compton, atau vektoring gaya agar benturan gelombang justru menjadi interferensi yang saling menguatkan dengan arah yang disepakati menuju kebaikan.

Ndilalah dalam dimensi kehidupan kita yang sarat dengan kepentingan dan kebutuhan, ilmu pengetahuan dan teknologi terus saja melahirkan wacana-wacana baru yang “menggelisahkan”. Sesuatu yang baru itu tentu menghadirkan kekhawatiran, kecemasan, ketakutan, kegemparan, dan bahkan kegaduhan bukan? Takut tidak bisa beradaptasi, ketinggalan, dan sunyi sepi sendiri. Bak dinosaurus yang gagal berevolusi, demikian kata para pakar dan akademisi.

Salah satu yang kini kita cintai sekaligus menjadi sumber obsesi yang menghadirkan benci sekaligus kerinduan adalah sosial media. Dunia tanpa batas, juga tanpa identitas yang membuat kita seolah menemukan habitat alternatif yang dapat membuat kita membangun kehidupan baru tanpa tersandera masa lalu di dunia nyata.

Bagi sebagian kita sosial media dan internet adalah harapan. Dunia Baru nya Columbus dan juga Magellans. Tetapi bagi sebagian lainnya, dunia ini adalah dunia barat yang keras dan kejam. Wild wild west katanya. Banyak yang belum diketahui, menyaru sebagai pesona yang sesungguhnya mengandung ancaman yang tersembunyi.

Ini menarik. Karena platform digital dalam space baru yang dikonstruksi media sosial menjadi sebuah habitat ataupun ekosistem yang memungkinkan setiap partisipan menempatkan dirinya sebagai komunikator independen yang tidak dipengaruhi oleh pranata ataupun norma konvensional yang selama ini kerap menjadi hendaya saat ingin mengekspresikan diri di pola komunikasi klasik di dunia nyata.

Mirip bukan dengan para perintis, pionir, penjelajah dan banyak petualang nasib yang seolah mendapatkan cakrawala impian baru saat mendapati adanya dunia yang belum disarati serta disurati dalam berbagai bentuk aturan yang memberi ikatan, meski juga menghadirkan kepastian.

Ekses di ranah komunikasi bagaimana? Ya tentu saja opini dan berbagai pendapat subjektif mendapat ruang. Sementara opini subjektif kita tahu, dibangun oleh persepsi yang bersifat subjektif juga. Maka persepsi dengan tingkat literasi yang beragam akan mewarnai time line, status, dan chat.

Uniknya arus mayoritas dan trend persepsi yang terekspresi melalui microtext ataupun bentuk pesan lainnya akan menjadi perancah bagi terbangunnya opini massal yang dapat berubah menjadi acuan kebenaran. Referensi yang lahir dari subjektifitas persepsi. Kebenaran yang dibangun atas dasar keyakinan komunal.

Ini semacam konsensus yang digerakkan oleh “jempol hantu” dan kemudian dipercaya sebagai realitas yang objektif.

Istilah Ghost Thumb alias jempol hantu ini sepertinya harus diviralkan ya 🤭

Tapi intinya kan rekonstruksi data dari sekumpulan informasi asimetrik yang lahir sebagai produk persepsi subjektif akan menghasilkan gambaran inadekuat terkait sebuah fenomena atau fakta yang sebenarnya memiliki data atau informasi yang akurat dan bervaliditas tinggi serta bersifat objektif mandiri, tetapi “dibaca” secara parsial oleh banyak “pembaca” dengan kacamata dan cara “mengeja” nya masing-masing. Cilakanya “penulis” faktanya juga menuliskan atau menggambarkan kondisi faktual pada fenomena tersebut dengan cara bertutur yang juga dipengaruhi subjektifitas “selera” dan sudut pandangnya sendiri. Misal, informasi birokrasi yang dihasilkan birokrat akan menempatkan data yang disajikan sebagai data birokrat yang jamaknya diwarnai aspek legal formal.

Dan sebagian besar narasi formal ini memliki nilai “trust” yang justru tidak terlalu tinggi, karena adanya persepsi publik terkait berbagai informasi di masa lalu (traumatik) yang menempatkan informasi resmi sebagai bagian dari upaya memodulasi persepsi publik tentang sebuah peristiwa dalam rangka melegitimasi suatu kebijakan ataupun tindakan yang menyangkut kepentingan banyak pihak di ruang publik.

Tapi generasi terkini sebenarnya sudah tidak tersandera persepsi tersebut, sayangnya sektor-sektor strategis yang terkait dengan kebijakan dan pelayanan publik belum sepenuhnya berinisiatif untuk mengembangkan pola dan metoda komunikasi publik di ranah digital yang bernas dan cerdas.

Lalu sebagai bagian dari dinamika budaya ya akan muncul berbagai “kembangan” yang menata kembali pola interaksi dan budaya komunikasi di alam baru semula jadi (bahasa Melayu ini). Muncul idiom dan simbol gaya hidup yang unik dan tumbuh secara autonomous, alias berkembang secara berjamaah tanpa komando khusus. Ada jejaring tak kasat mata yang tampaknya bekerja di sana.

Jika dulu ada generasi cas cis cus, kini ada generasi wicas wicis. Dimana wicas wicis itu kan gimmick-gimmick cantik ya…wajar saja sih. Para cendekiawan dapat panggung utk unjuk otak, dengan ngeciwis soal teori dan berbagai hipotesa serta analisisnya. Sah sah saja kan ? Yang cantik dan kebetulan sehat bergizi dan berisi ya pamer potensi. Mau gimana lagi ? Kan dari persepsinya itu potensi yang bisa jadi pengungkit benefit, produktifitas dengan effort energi terbatas. Ciamik toh malah.

Ya dalam level ini jangan bawa etika dan norma dulu, lihat motif pragmatisnya kan.

Nah maka tak heran jika ada suatu hal janggal yang bisa menjadi ruang untuk nampil, ya banyak diskursus terjadi sebagai konstruksi ajang X-Factor dan idol yg diikuti dan dibangun oleh para netijen sendiri. Puas kan ? Seperti masturbasi 🤭 kagum pada diri sendiri karena merasa sudah bisa mengaktualisasikan diri dalam ajang kompetisi perjempolan hantu-hantuan 🤭

Tapi intinya kembali pada dialog saya dengan Ki Gede Yudho Pandowo di atas ya. Persepsi itu subjektif dan banyak dipengaruhi oleh pengalaman, pembelajaran, serta terbentuk oleh berbagai mekanisme interaksi yang terjadi di habitat atau lingkungan hayati dan tentu saja sosial.

Manusia dan desanya, manusia dan alamnya, manusia dan komunitasnya, semua akan saling mempengaruhi. Otak tumbuh secara plastis dalam mengkristalisasi fungsi dan standar operasionalnya karena “dicetak” oleh kondisi lingkungan yang menjadi platform belajarnya, selain dari kapasitas biologisnya. Dimana kapasitas dan kompetensi biologisnya juga sebenarnya fak terlepas dari faktor herediter alami yang dipengaruhi oleh alam dimana ancestor kita semua beraktivitas, menjalani hidup di sepanjang usia yang telah dikaruniakan.

Intinya membuka ruang yang memperluas sudut pandang akan membuat kita dapat menganalisa berbagai kondisi dengan lebih tenang. Kita dapat nikmat berenang dan menyelami berbagai makna di balik tanda yang muncul di berbagai fenomena. Mungkin karena sebab itulah musabab kita selalu berpikir dan bahkan karena berpikir itulah kita “ada” menjadi niscaya sebagai alasan keberadaan. Cogito ergo Sum kata Kang Descartes mah. Maka keberadaan kita di alam apa saja pada gilirannya akan menghasilkan pola yang sebenarnya akan dapat diduga, entah di metaversa ataupun di RT sudut kota, manusia akan selalu hadir dalam bentuk pikir, baik diwakili avatar berupa raga ataupun avatar yang berupa data binari saja. 🙏🏾

Bagaimana ya kira-kira jika teknologi sejenis Neuralink nya Elon Musk disintesiskan bersama blockchain, bitcoin nya Sakamoto, juga dengan metaversenya Meta atau Omniversenya NVIDIA? Lalu diadopsilah didalamnya sistem kredit sosial ala Cina sebagai embrio dari model regulasi dalam proses interaksi di dunia meta.

Untuk mensupport mimpi itu dikembangkan lah sumber catudaya hijau yang berkesinambungan dan tidak rakus dalam mengonsumsi materi tak terbaharukan di bumi. Maklumlah untuk mengoperasikan sebuah dunia meta dan berinteraksi di dalamnya diperlukan dukungan energi (listrik) yang tentu saja akan sangat meningkat konsumsinya. Maka reaktor fusi masa depan, angin, gelombang, surya, algae dan biofuel, hidrogen, air, dan konversi berbagai energi kinetik serta bio lainnya akan menjadi pilihan.

Konektivitas juga akan menjadi infrastruktur paling fundamental dalam dunia meta. Selain platform, aplikasi, dan sistem catudaya yang mumpuni, koneksi adalah kata kunci. Maka konsep low latency broadband internet system yang ditawarkan Musk melalui jejaring low earth orbit satelitnya yang antara lain memanfaatkan teknologi delay tolerant network yang “memayungi” bumi akan menjadi solusi nirkabel yang tak membutuhkan banyak kabel optik bawah laut sebagai konektor antar titik di muka bumi.

Jika semua prasyarat itu terpenuhi maka proses konstruksi dunia meta akan terakselerasi. Terlebih jika hampir semua kebutuhan hidup secara fisis (baca: materi) dapat direduksi untuk menekan ekses eksploitatif pada alam yang dengan ledakan hiper populasi akan semakin kehilangan daya dukung dan rawan terjadi bencana ekosistem, maka pilihan migrasi digital akan lebih rasional dan visibel dibanding eksodus ke Mars atau bulan misalnya.

Syarat tersedianya energi dan koneksi serta platform dan aplikasi yang menjamin kebersinambungan dunia meta adalah perancah utama yang harus dibangun. Selanjutnya tentu sistem dan model interaksi harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan populasi manusia maya yang akan menjadi penduduknya. Artinya model interaksi dunia meta secara spontan dan adaptif akan terus mengembangkan berbagai konsep yang dapat mengakomodir berbagai kebutuhan yang lahir dari proses interaksi itu sendiri. Demand pull jika dalam istilah pasar bebas. Ketika ada kebutuhan tentu akan ada penyedia, dan seterusnya.

Secara paralel migrasi digital yang diawali dengan konsep digital twin serta ditandai dengan berkembangnya immersive life yang menghadirkan alter realitas alias identitas ganda, juga akan diikuti dengan upaya konstruktif dalam mereduksi peran fisik dan materi, termasuk dalam aspek biologi.

Manusia yang selama ini konsumtif dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan untuk nutrisi yang sudah berkembang tidak saja sebagai bagian dari proses substitusi energi, melainkan juga sebagai rekreasi dan untuk memenuhinya telah melakukan banyak proses eksploitasi lahan dan sumber daya atas nama inovasi dan strategi ketahanan spesies, akan mulai bertransformasi dengan dipantik oleh disrupsi teknologi. Ke arah mana transformasi biologi ini akan bermigrasi? Ke kuadran dimana efisiensi sumber nutrisi akan menghasilkan super food di skala nano yang dapat dihasilkan oleh sistem smart farming hemat energi dan lokasi karena didesain menyerupai reaktor vertikultur, misal untuk budidaya dan prosesing spesies Algae.

Esensi nutrisi akan didesain dengan pendekatan AI di ranah bioinformatika. Kita hanya butuh molekul ATP, dan blok pembangunan seperti sedikit asam amino dan asam lemak serta beberapa jenis mineral dalam jumlah kecil. Pil nano akan menjadi sumber nutrisi fisis, sementara unsur rekreasi kuliner dapat disajikan dalam sebentuk paket stimulus aneka rasa melalui gerai-gerai gastronomi di dunia meta. Dimana paket rasa itu dapat langsung diterima oleh pusat asosiasi di otak pembeli melalui sistem hibrid yang di jembatani teknologi brain interface seperti Neuralink.

Pasar pasar maya dengan basis Block Chain dengan alat tukar cryptocurrency dan Non Fungible Token akan menjadi pasar tradisional baru, dimana kebutuhan primer disediakan. Dan kebutuhan primer itu berada dalam ranah digital. Seperti kedai gastronomi tadi, yang dijual adalah rasa atau sensasi, karena konsep fisik sudah tidak relevan dengan karakter dunia meta.

Di titik inilah kemudian social credit system berfusi dengan NFT dan block chain, di mana setiap proses interaksi tentu akan melahirkan model model sosial secara autopoietik dua arah. Ekses manipulatif dan eksploitatif akan lahir sebagai bagian dari polaritas konstruktif-dekonstruktif. Sistem hukum kemasyarakatan berbasis kredit sosial akan menjelma menjadi hukum adat baru di dunia meta.

Lalu apa yang terjadi dengan berbagai inovasi teknologi lintas sektor yang saat ini juga tengah marak terjadi? Semua akan menjadi bagian dari sistem katalis transformasi dan proses eksodus besar ke dunia meta. Sistem transportasi hyperloop misalnya, akan menjadi model terotomasi (self operated system) untuk mendukung logistik dunia meta dan bukan lagi untuk mobilisasi manusia secara fisik untuk berpindah dalam ruang geografi. Sistem transportasi nirawak akan menjadi pilihan untuk mendukung rantai pasokan energi dan hal hal esensial yang diperlukan dalam menjalankan platform dunia meta.

Bahkan ke depan jika aspek fisik sudah tidak sepenuhnya bersifat hayati, dimana manusia dan mesin sudah berhasil melakukan mind coding yang gejalanya hari ini sudah dimulai dengan pendekatan deep mind , maka entitas digital bisa saja tak lagi memerlukan tubuh hayati. Mungkin akan lahir tubuh tubuh binari atau entitas koding bernama Homo Codingensis. Bukankah gen dan DNA yang saat ini kita kenal juga adalah kode yang menjalankan operasi biologi beralgoritma?

Sebenarnya konsep menuju migrasi digital ini sudah menunjukkan gejalanya di media sosial. Pendekatan imersif sesungguhnya tidak hanya pada simulasi dan pemanfaatan citra visual untuk berbagai kepentingan saja, tetapi sudah mulai menjadi bagian terintegrasi dalam sistem prokreasi yang menjadikannya tools bagi ekspresi imajinasi. Bukankah kita kerap me retouch foto dan video mulai dari wajah sendiri sampai pemandangan alam yang kita abadikan? Mengapa? Karena kita punya imajinasi atau gagasan ideal tentang tampilan yang sejalan dengan selera dan perspektif estetika yang kita miliki. Maka kelak di dunia meta semua akan cantik dan ganteng serta serba indah sejalan dengan harapan dan gagasan yang dituangkan dalam sebentuk entitas digital yang merepresentasikan proyeksi personal.

Bentang alam pun akan maujud dalam berbagai versi “benua” dan bioma sesuai dengan kesepakatan pembuatnya. Sifat pro kreator manusia akan berkelindan dengan pasukan mesin pendukungnya dan akan memainkan peran tidak lagi dalam domain role playing game tetapi mencoba menjadi the creator of universe. Sebuah permainan yang secara bawah sadar sejujurnya selalu kita dambakan untuk dapat kita lakukan. Bukankah kita selalu ingin mengubah dunia, alih-alih mengubah diri sendiri yang jauh lebih memungkinkan?

Jadi mungkin kelak kita tak lagi akan mendengar lirik lirik lagu seperti “ayumu tenananan, ora editan…” karena kita semua akan tenanan menjadi editan 🤭

Konsep digital twin yang saat ini juga dikaji oleh Prof Suhono⁩ dan tim dari ITB, memang membuka banyak kemungkinan untuk mengembangkan potensi manusia sekaligus mengekstensi fungsi dan juga konsep realitas. Maka ada yang menyebutnya hiper realitas. Saya senang dengan istilah ekstensi realitas.

Isu ini sebenarnya sudah cukup lama menjadi fantasi dan harapan dari banyak cendekiawan serta penggila sains seperti Wachowsky bersaudara yang dengan jenius menuangkannya dalam sebentuk karya cinema yang berbentuk trilogy: Matrix. Kita mengenal Keanu Reeves sebagai tokoh sentralnya. Tak hanya soal teknologi dan paralelitas yg dikupas dan dibahas, melainkan juga soal konsep spiritualitas. Kehadiran the Oracle dan the One seolah mengartikulasikan peran2 yang selama ini kita kenal dalam ranah spiritual.
Tentu sebagian besar dari plot dalam film tersebut adalah refleksi dari opini pribadi dan persepsi penulis skenario terhadap proses hidup dan kehidupan. Tetapi gagasan besarnya terkait hijrah digital dan kehidupan multi dimensi sarat dengan pendekatan filosofis dan tasawuf.

Dalam film lain, peran AI dalam mengekstensi fungsi kognisi, bahkan digambarkan justru terjadi reverse stream dari aplikasi teknologi yang dapat sepenuhnya mengadopsi kapasitas intelektualitas programmernya dapat dilihat di film Transcendence produksi tahun 2014 yang dibintangi oleh Johny Depp.

Fusi ataupun integrasi antara sistem komputasi dengan sistem fisiologi akan sangat terbantu dengan perkembangan teknologi material. Keberhasilan proses rekayasa xenobot atau biobot membuka jendela peluang untuk mengintegrasikan berbagai kemajuan lintas disiplin seperti nanomaterial, optogenetika, sampai bioinformatik (metoda in-silico) terkanalisasi dalam upaya mengembangkan teknologi garda depan yg dapat meningkatkan kapasitas fungsional manusia.

Persoalan etika yang akan muncul adalah perubahan konsep dan persepsi terkait batas dan norma baru yang menyertai kemampuan manusia yang teraugmentasi sedemikian rupa.

Sementara arah pengembangan human centric technology akan menyasar pada perubahan di skala mikro dan makro yang antara lain meliputi perubahan pola interaksi sosial (lintas dimensi-digital twin) dengan berbasis pada IoT dan konektivitas real time.

Sedangkan pada aspek hayati akan terjadi optimasi struktural yang menjadi konstruksi penunjang fungsi-fungsi fisiologi. Xenobot/Biobot, CRISPR-CAS9, sel punca, subsitusi biomaterial, 3D printing, sampai nano nutrient akan menjadi bagian dari upaya mengoptimasi fungsi anatomi, biokimia, dan fisiologi manusia.

Di sisi lain akan lahir tuntutan untuk memenuhi kebutuhan interkoneksi di antara semua sistem yang dikembangkan. Perlu metoda bridging agar semua teknologi dapat terintegrasi. Diperlukan platform dasar yang dapat menjadi “semesta” baru tempat dimana sistem biososial baru dapat diterapkan. Jika relasi inter spesies dan habitat dalam konteks mikrobioma dikenal sebagai Holobiont, maka mungkin kita dapat menyebut semesta baru ini sebagai Holoverse, dimana konsep holografik dan biografik menjadi bagian dari sebuah ekosistem baru yang dinamik.

Jembatan penghubung ini, saat ini dikembangkan dalam ranah Brain Computer Interface ataupun pengembangan berbagai sensor dalam konteks IoT yang sudah maujud dalam berbagai bentuk wearable device. Neuralink salah satu produk yang terus dikembangkan untuk menjembatani fungsi fisiologis, khususnya neurofisiologis dengan berbagai fungsi sosiologis dan ekologis.

Ke depan dengan mengintegrasikan teknologi synthetic living, nanomaterial, bioprinting, sel punca, dan rekayasa genetika (CAS-9) kita dapat membuat sel-sel neuron transmiter yang dapat membroadcast sinyal dalam karakteristik biofisika khusus yang dapat terkoneksi dengan sistem komputasi secara dua arah.

Tidak diperlukan chip lagi. Tapi sekumpulan sel neuron yang bahkan dapat menjadi bagian dari sistem pewarisan sifat secara herediter.

Manusia di masa depan dapat mengubah spesiesnya sendiri menjadi lebih adaptif dan memiliki berbagai fungsi yang diaugmentasi.

Pemikiran semacam ini yang semula masih bergenre fantasi, sudah banyak terbukti kemudian menjadi kenyataan. Jules Verne dan Isaac Assimov misalnya, banyak menulis kan berbagai hal musykil yang ternyata kini sudah dapat kita lihat dan rasakan teknologinya.

Pada hakikatnya mungkin memang itulah esensi dari eksistensi manusia ya ? Mencari dan mengembangkan diri sebagai sebentuk aktualisasi yang memproyeksikan makna presensi di kehidupan yang bersifat sementara ini 🙏🏾

Tauhid Nur Azhar

Sebelum Hwang Dong Hyuk sukses dengan karya Squid Game nya di Net Flix ada satu serial produksi mandiri Netflix yang sukses besar. Judulnya adalah House of Cards . Karya Mordecai Wicyzk dan Asif Satchu ini sudah ditawarkan berkeliling ke banyak stasiun untuk dibuat seri pilotnya untuk test pasar. Sayang tidak ada stasiun yang berani mengambil resiko. Tetapi Netflix yang semula adalah perusahaan penyewaan DVD justru memberi kesempatan produksi bahkan tanpa membuat demo pilot.

Mengapa Netflix berani mengambil keputusan sekrusial itu bahkan tanpa proses trial yang jamak dilakukan dalam industri ini ? Salah satu jawabannya adalah karena Netflix memiliki hasil analisa data pelanggannya. Hasil analisis data yang melibatkan aspek psikometris dan mengevaluasi berbagai faktor yang mempengaruhi keputusan menonton suatu tayangan itu menunjukkan bahwa drama politik dengan kandungan dark jokes di dalamnya memiliki segmen penggemar yang banyak di antara pelanggan Netflix.

Kuncinya adalah data. Darimana data tersebut berasal ? Tentu dari sandapan terkait dengan perilaku kita sebagai konsumen Netflix. Apa saja yang kita tonton, jika itu serial, apakah kita konsisten menontonnya secara rutin, apakah kita berhenti pada episode dan sesi tertentu, apakah ada episode yang kita ulang, seperti apakah profil pemain yang digemari, genre apakah yang senantiasa diikuti, kapan waktu menontonnya, dan banyak data lain yang secara tidak langsung memberikan gambaran mozaik tentang profil kita.

Lalu data itu setelah diolah menjelma menjadi informasi tentu saja. Syaratnya ? Tentu terverifikasi, terklasifikasi, tervalidasi, dan berkorelasi dengan suatu kondisi serta memiliki kapasitas dan utilitas secara fungsional. Informasi dapat menjadi label maupun elemen analisis yang pada gilirannya merupakan komponen utama dari referensi dan preferensi yang masuk ke dalam ranah pengerahuan. Dimana konstruksi pengetahuan adalah data dan informasi yang memiliki cetak biru fungsional untuk menghasilkan ketrampilan mental dan sistem sehingga dapat mengambil keputusan serta memberikan respon terukur secara sistematik.

Dalam konteks analisa data, 3 ranah utama yang kerap digunakan adalah prediktif, preskriptif, dan deskriptif analitik yang semuanya membutuhkan data dengan prasyarat dan kondisi 4V:

Velocity alias kecepatan dalam mengoleksi dan memfilter data sehingga sesuai dengan kebutuhan metoda analisa,

Variety kemampuan mengakuisisi keragaman data dari berbagai sumber. Terkait dengan representasi dan kelayakan data yang akan digunakan dalam proses analisis.

Volume atau kuantitas data yang amat menentukan kesahihan data set yang dapat digunakan sebagai asupan dalam proses data training dan

Veracity, atau akurasi dan reliabilitas data yang dipergunakan sebagai data set.

Berdasar fungsi dan keluaran yang diharapkan tentu diperlukan juga pemilihan model dan tipe sistem analitik, khususnya terkait dengan aplikasi kecerdasan artifisial yang hendak digunakan.

Data serial dengan kondisi ajeg yang kerap digunakan dengan asumsi tidak ada perubahan lingkungan yang signifikan misalnya, tentu harus diperbaharui jika terjadi dinamika berbagai faktor yang mempengaruhi. Misal prediksi Gordon Moore terkait dengan pertumbuhan eksponensial jumlah transistor dalam komputer misalnya, dengan maraknya pemanfaatan teknologi nano, khususnya dalam aspek material elektro dan mekatronik maka tentu terjadi akselerasi yang tidak fit lagi dengan asumsi awal.

Hal ini dapat terjadi pada penggunaan subset Deep Learning_ pada analisa genomik yang memerlukan variabilitas data sesuai prinsip 4V agar dapat memberikan hasil analisa optimal.

Sebagai contoh kongkret penerapan kecerdasan artifisial dalam bidang biomedik antara lain dapat disimak dalam artikel berjudul Large-scale chemical-genetics yields new Mycobacterium tuberculosis inhibitor classes yang ditulis oleh EO Johnson et Al dan dipublikasi di Nature pada 2019, dimana skrining anti mikroba anti mycobacterium tuberculosa/MTb dilakukan dengan menggunakan data komponen kimia dari berbagai bahan dan kompatibilitasnya dengan berbagai titik tangkap di bakteri patogen. Penjelasan lebih terperinci dapat disimak di publikasi berjudul Applications of machine learning in drug discovery and development yang ditulis Vamathevan J, et al di
Nature Reviews Drug Discovery volume 18, halaman 463–477 (2019). Pada riset Johnson pencarian materi berefikasi tinggi sebagai farmakoterapi pada MTb antara menggunakan pendekatan KA unsupervised learning.

Persoalan menjadi lebih kompleks jika dinamika pengaruh yang terjdi bersifat acak dan polanya belum sepenuhnya terpetakan. Tetapi justru kondisi inilah yang paling ideal bagi penerapan KA. Karena menurut Budi Rahardjo, PhD dari ITB, jika semua data dan pola sudah dimiliki dan kita bisa membuat rumusnya, maka KA atau AI tentu tidak terlalu dibutuhkan. Karena dengan formula sederhana yang dijalankan di spreadsheet seperti Excel misalnya, kita sudah dapat memprediksi hasil dari berbagai kondisi yang belum terjadi. Khususnya pada reaksi reaksi dan fenomena yang bersifat linier dan ajeg.

Maka kompleksitas desain dan kemampuan mengambil keputusan mandiri adalah salah satu keunggulan sistem KA yang semestinya menjadi komplementasi dalam bidang kecerdasan kognitif yang dapat menghasilkan super sinergi dan melahirkan kapasitas humanoid terintegrasi.

Tapi tentu akan tersisa sebuah pertanyaan besar, khususnya setelah kasus Cambridge Analytica di pilpres Amerika terkuak. Mesin dan analisa data ternyata dapat memanipulasi sistem pertimbangan dan pengambilan keputusan manusia. Dengan kata lain, jangan-jangan bukan kita yang mendorong Netflix memproduksi sebuah serial, melainkan framing Netflix dkk yang membuat otak kita akhirnya seragam memilih serial tertentu yang kita sukai. Selera adalah komoditas kognisi yang dikondisikan secara sistematis melalui piranti teknologi informasi. Maka rezim mesin cerdas dapat saja kelak menciptakan suatu komunitas manusia “ideal” sesuai dengan kriteria ideal yang dipelajari dan “diyakini” mesin bukan ?

Jadi teringat hasil eksperimen Stanley Milgram di pertengahan 60an. Sebagai Profesor psikologi muda di Universitas Yale, Milgram pernah membuat eksperimen perilaku yang mengejutkan. Judul gaul proyek risetnya itu “guru dan setrum.” 500 an orang berbagai profesi dilibatkan dalam program riset tersebut. Mereka diminta menjadi “guru” yang memberi pertanyaan dan apabila “murid”, dalam hal ini diperankan oleh para mahasiswa Milgram, tidak dapat menjawab, maka mereka akan disetrum. Setiap kegagalan menjawab akan berkonsekuensi pada ditingkatkannya tegangan setrum. Mulai dari 15 V sampai 450 V, dengan asumsi awal bahwa tidak akan ada orang yang tega memberikan hukuman maksimal 450 V yang tentu bersifat mematikan. Ternyata oh ternyata, 65% peserta program “tega” menyetrum sampai level maksimal 450 V.

Hipotesa Milgram saat itu adalah : manusia dapat menyakiti orang lain jika berada di dalam situasi inferior dan di bawah otoritas sistem yang lebih superior. Konsekuensi hari ini adalah superioritas sistem dapat maujud melalui suatu sistem otonom yang terus belajar, bertumbuh, dan berkembang serta menciptakan berbagai tatanan dan regulasi yang sesuai dengan hasil belajar dan pengalaman yang dialaminya.

Kira-kira bagaimana ya jika kondisi itu pada suatau saat benar dapat tercipta ?

Bagaimana ya kira-kira jika teknologi sejenis Neuralink nya Elon Musk disintesiskan bersama blockchain, bitcoin nya Sakamoto, juga dengan metaversenya Meta atau Omniversenya NVIDIA? Lalu diadopsilah didalamnya sistem kredit sosial ala Cina sebagai embrio dari model regulasi dalam proses interaksi di dunia meta.

Untuk mensupport mimpi itu dikembangkan lah sumber catudaya hijau yang berkesinambungan dan tidak rakus dalam mengonsumsi materi tak terbaharukan di bumi. Maklumlah untuk mengoperasikan sebuah dunia meta dan berinteraksi di dalamnya diperlukan dukungan energi (listrik) yang tentu saja akan sangat meningkat konsumsinya. Maka reaktor fusi masa depan, angin, gelombang, surya, algae dan biofuel, hidrogen, air, dan konversi berbagai energi kinetik serta bio lainnya akan menjadi pilihan.

Konektivitas juga akan menjadi infrastruktur paling fundamental dalam dunia meta. Selain platform, aplikasi, dan sistem catudaya yang mumpuni, koneksi adalah kata kunci. Maka konsep low latency broadband internet system yang ditawarkan Musk melalui jejaring low earth orbit satelitnya yang antara lain memanfaatkan teknologi delay tolerant network yang “memayungi” bumi akan menjadi solusi nirkabel yang tak membutuhkan banyak kabel optik bawah laut sebagai konektor antar titik di muka bumi.

Jika semua prasyarat itu terpenuhi maka proses konstruksi dunia meta akan terakselerasi. Terlebih jika hampir semua kebutuhan hidup secara fisis (baca: materi) dapat direduksi untuk menekan ekses eksploitatif pada alam yang dengan ledakan hiper populasi akan semakin kehilangan daya dukung dan rawan terjadi bencana ekosistem, maka pilihan migrasi digital akan lebih rasional dan visibel dibanding eksodus ke Mars atau bulan misalnya.

Syarat tersedianya energi dan koneksi serta platform dan aplikasi yang menjamin kebersinambungan dunia meta adalah perancah utama yang harus dibangun. Selanjutnya tentu sistem dan model interaksi harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan populasi manusia maya yang akan menjadi penduduknya. Artinya model interaksi dunia meta secara spontan dan adaptif akan terus mengembangkan berbagai konsep yang dapat mengakomodir berbagai kebutuhan yang lahir dari proses interaksi itu sendiri. Demand pull jika dalam istilah pasar bebas. Ketika ada kebutuhan tentu akan ada penyedia, dan seterusnya.

Secara paralel migrasi digital yang diawali dengan konsep digital twin serta ditandai dengan berkembangnya immersive life yang menghadirkan alter realitas alias identitas ganda, juga akan diikuti dengan upaya konstruktif dalam mereduksi peran fisik dan materi, termasuk dalam aspek biologi.

Manusia yang selama ini konsumtif dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan untuk nutrisi yang sudah berkembang tidak saja sebagai bagian dari proses substitusi energi, melainkan juga sebagai rekreasi dan untuk memenuhinya telah melakukan banyak proses eksploitasi lahan dan sumber daya atas nama inovasi dan strategi ketahanan spesies, akan mulai bertransformasi dengan dipantik oleh disrupsi teknologi. Ke arah mana transformasi biologi ini akan bermigrasi? Ke kuadran dimana efisiensi sumber nutrisi akan menghasilkan super food di skala nano yang dapat dihasilkan oleh sistem smart farming hemat energi dan lokasi karena didesain menyerupai reaktor vertikultur, misal untuk budidaya dan prosesing spesies Algae.

Esensi nutrisi akan didesain dengan pendekatan AI di ranah bioinformatika. Kita hanya butuh molekul ATP, dan blok pembangunan seperti sedikit asam amino dan asam lemak serta beberapa jenis mineral dalam jumlah kecil. Pil nano akan menjadi sumber nutrisi fisis, sementara unsur rekreasi kuliner dapat disajikan dalam sebentuk paket stimulus aneka rasa melalui gerai-gerai gastronomi di dunia meta. Dimana paket rasa itu dapat langsung diterima oleh pusat asosiasi di otak pembeli melalui sistem hibrid yang di jembatani teknologi brain interface seperti Neuralink.

Pasar pasar maya dengan basis Block Chain dengan alat tukar cryptocurrency dan Non Fungible Token akan menjadi pasar tradisional baru, dimana kebutuhan primer disediakan. Dan kebutuhan primer itu berada dalam ranah digital. Seperti kedai gastronomi tadi, yang dijual adalah rasa atau sensasi, karena konsep fisik sudah tidak relevan dengan karakter dunia meta.

Di titik inilah kemudian social credit system berfusi dengan NFT dan block chain, di mana setiap proses interaksi tentu akan melahirkan model model sosial secara autopoietik dua arah. Ekses manipulatif dan eksploitatif akan lahir sebagai bagian dari polaritas konstruktif-dekonstruktif. Sistem hukum kemasyarakatan berbasis kredit sosial akan menjelma menjadi hukum adat baru di dunia meta.

Lalu apa yang terjadi dengan berbagai inovasi teknologi lintas sektor yang saat ini juga tengah marak terjadi? Semua akan menjadi bagian dari sistem katalis transformasi dan proses eksodus besar ke dunia meta. Sistem transportasi hyperloop misalnya, akan menjadi model terotomasi (self operated system) untuk mendukung logistik dunia meta dan bukan lagi untuk mobilisasi manusia secara fisik untuk berpindah dalam ruang geografi. Sistem transportasi nirawak akan menjadi pilihan untuk mendukung rantai pasokan energi dan hal hal esensial yang diperlukan dalam menjalankan platform dunia meta.

Bahkan ke depan jika aspek fisik sudah tidak sepenuhnya bersifat hayati, dimana manusia dan mesin sudah berhasil melakukan mind coding yang gejalanya hari ini sudah dimulai dengan pendekatan deep mind , maka entitas digital bisa saja tak lagi memerlukan tubuh hayati. Mungkin akan lahir tubuh tubuh binari atau entitas koding bernama Homo Codingensis. Bukankah gen dan DNA yang saat ini kita kenal juga adalah kode yang menjalankan operasi biologi beralgoritma?

Sebenarnya konsep menuju migrasi digital ini sudah menunjukkan gejalanya di media sosial. Pendekatan imersif sesungguhnya tidak hanya pada simulasi dan pemanfaatan citra visual untuk berbagai kepentingan saja, tetapi sudah mulai menjadi bagian terintegrasi dalam sistem prokreasi yang menjadikannya tools bagi ekspresi imajinasi. Bukankah kita kerap me retouch foto dan video mulai dari wajah sendiri sampai pemandangan alam yang kita abadikan? Mengapa? Karena kita punya imajinasi atau gagasan ideal tentang tampilan yang sejalan dengan selera dan perspektif estetika yang kita miliki. Maka kelak di dunia meta semua akan cantik dan ganteng serta serba indah sejalan dengan harapan dan gagasan yang dituangkan dalam sebentuk entitas digital yang merepresentasikan proyeksi personal.

Bentang alam pun akan maujud dalam berbagai versi “benua” dan bioma sesuai dengan kesepakatan pembuatnya. Sifat pro kreator manusia akan berkelindan dengan pasukan mesin pendukungnya dan akan memainkan peran tidak lagi dalam domain role playing game tetapi mencoba menjadi the creator of universe. Sebuah permainan yang secara bawah sadar sejujurnya selalu kita dambakan untuk dapat kita lakukan. Bukankah kita selalu ingin mengubah dunia, alih-alih mengubah diri sendiri yang jauh lebih memungkinkan?

Jadi mungkin kelak kita tak lagi akan mendengar lirik lirik lagu seperti “ayumu tenananan, ora editan…” karena kita semua akan tenanan menjadi editan 🤭🙏🏾

Tauhid Nur Azhar

Pagi ini di Detik ada berita berjudul bombastis, Remaja Penusuk Ibu di Jakbar Kecanduan Game Online. Meski saya tidak ingin terjebak dalam mekanisme penyimpulan dini, tetapi kepala berita seperti ini saya rasa dapat menggiring opini publik utk langsung menyalahkan game saat ada perilaku yg dirasa secara subjektif oleh reporter/penulis naskah sebagai pemicu terjadinya suatu peristiwa yg menjadi isi berita.

Memang tak dapat dipungkiri juga bahwa komunitas hikikomori sebagaimana yg telah terindentifikasi serius di Jepang mulai merebak secara global. Suatu keniscayaan memang, migrasi digital dan mulai terdelusinya entitas faktual menjadikan manusia mulai berhendaya dalam interaksi sosial. Tetapi sekali lagi interaksi sosial yg mana ? Bukankah secara digital dan di dunia daring pun setiap bentuk interaksi adalah sosial ? Kan hanya beda cara, proses, serta mekanisme ? Apakah hal tersebut merubah esensi komunikasi sebagai proses pertukaran pesan ? Saya kira tidak. Karena berbicara soal text dan kontext maka interaksi dan komunikasi dalam berbagai wahana tetap akan membawa text sesuai kontext. Maka fenomena hikikamori boleh jadi adalah suatu gegar budaya di era transformasi yg secara jamak memang biasa menimbulkan turbulensi.

Lalu kira-kira nanti apa yang salah jika avatar kita, hologram kita, ataupun jaras-jaras real time kita saling bertukar sapa di dunia maya ? Tidak kepanasan, kehujanan, dan juga tidak menimbulkan emisi gas buang dan jejak karbon karena permutasi dan pergerakan akan menimbulkan ekses ikutan.

Emang dunia maya tidak mengonsumsi energi ? Mengonsumsi juga, tapi akan makin efisien dgn sumber energi terbaharukan melalui berbagai sumber daya yg tersedia. Tampaknya akan sedikit mereduksi konsumsi energi dibanding kita ke sana kemari dgn mobil, motor, bahkan bus dan kereta api. Dunia sudah tua, kadang tak mampu lagi meladeni kerakusan kita. Bagaimana jika kita duduk manis di sudut kamar tidur saja ?

Lalu mengembara, bahkan berwisata pikiran melalui perantara teknologi maya ? Tipe baru penjelajah dunia, Mind Traveler. Dengan AI dan DL serta teknologi citra yg semakin luar biasa, Borobudur bahkan bisa tampak lebih indah dan dapat hadir di kamar kita kapan saja. Bayangkan konsumsi avtur pesawat utk ke Jogja bisa berkurang berapa ? Lalu Lion Air bagaimana ? Ya dia jadi perusahaan transportasi gagasan dong, deliver tempat-tempat cantik di seluruh penjuru dunia dalam bentuk paket digital yg bisa diunduh dan dinikmati, baik secara low cost atupun premium. Termasuk pramugari virtualnya ya.

Usaha UMKM kuliner bagaimana ? Semua jadi developer kuliner dong, yang membangun algoritma dan adu koding untuk menghasilkan komposisi stimulan biolistrik lewat medan elektromagnetik atau Direct Current Stimulation yang akan disalurkan melalui helm jelajah rasa langsung ke pusat asosiatif di korteks otak kita. “Gitu aja kok repot”kata Gus Dur guru saya.

Bayangkan betapa banyak lahan di bumi yang tak lagi dieksploitasi dan dikonversi menjadi ladang gandum hanya sekedar untuk memperturutkan syahwat para pemuja Indomie. Bayangkan juga betapa berkurangnya efek gas rumah kaca yg bisa ditimbulkan oleh pelepasan gas dari be’ol dan kentut sapi, jika para meat lover tak perlu lagi pergi ke resto bakar-bakar sendiri. Beri karet berteknologi nano dengan material cerdas yg bisa menyesuaikan tekstur dan densitas serta kandungan air menyerupai daging, dan “setrum” otaknya dgn “Gyu” implant yg menyediakan berbagai menu bakaran daging ala Japanese.

Semua tentu ada harganya. Bayar pake cicit nya bit coin ya. Saya beri nama alat tukar baru ini Digicring alias digital kencring…alias recehan dijital. Gimana ngedapetinnya ? Kerja ? Nambang kayak Harvest Moon ? Bener sekali. Digicring bisa didapatkan dari pemberian point-point oleh orang-orang yang berinteraksi dengan kita, jika mereka beri like atau bintang. Itu jadi “duit” baru yg bisa ditukar produk di market place Bro…maka banyak beramal, membantu dan menyenangkan orang akan membuat kita kaya raya dan sejahtera lahir batin. Matilah kapitalis, selamat tinggal sosialis komunis.

Lalu soal tubuh bagaimana ? Ga gerak, ga jalan, mager…nanti diabetes loh. Kan ga makan juga ? Energi dan protein cukup didapatkan dari pil nano. Rasa dari chip Nusa Selera 🤭 Kaki tangan dan lain sebagainya akan rudimenter ya ? Begitulah. Manusia akan mengecil, jadi hijau karena bahkan bisa fotosintesa, dan matanya membulat besar sekali karena selalu tinggal dalam ruangan. Sementara di luar sana tetumbuhan , hewan, dan mata air akan memulihkan dirinya dalam keriaan tasbih semesta.

Eh…ntar dulu…makhluk kecil, kaki dan tangan lemah, kulit hijau, mata belo’ alias bolotot besar tanpa iris (item semua karena pupil harus benar-benar lebar), kok mengingatkan pada sesuatu ya ?….oh iya….alien ? Lah siapa tahu memang alien adalah makhluk berperadaban yg bijaknya sudah lebih dulu dari kita. Atau itu memang saudara-saudara kita dari masa depan yg napak tilas mencari jejak leluhurnya ? Jadi masuk akal juga kan ya kunjungan-kunjungan alien itu ? Kangen sama nenek moyangnya yg primitif dan bertahan hidup secara vegetatif eksploitatif. Menisbatkan banyak dosa pada tuntutan kebutuhan. Kebutuhan yang gak diatur dan dikendalikan tentu maksudnya. Maka tazqiyatun nafs kan menjadi metoda utama untuk mendamaikan pikiran dengan dunia ?

Eh BTW alien ijo juga ga berambut, karena rambut seperti juga tulang, perlu vitamin D dan hormon yang bergantung pada matahari. Kalau ngerem terus di kamar kan ga kena cahaya matahari. Maka kalo menurut saya sih, hikikamori adalah calon-calon spesies baru manusia loh…

Sebuah kota itu pasti berjiwa dan akan “menjiwai” setiap jiwa yang hidup di dalamnya. Lalu jiwa kota dan jiwa-jiwa manusia di dalamnya akan bersintesa dan bersimbiosa. Mereka saling mengomplementasi, saling melengkapi. Dalam tinjauan psikologi klasik, pengondisian ditentukan oleh stimulus yg diterima dari lingkungan.

Dan ketika kota dan manusia-manusia di dalamnya bersintesa maka lahir makhluk bergenre “chimera”. Dalam mitologi Yunani makhluk ini adalah penghabluran karakteristik biologis dari berbagai spesies. Artinya apa ? Kita dan kota adalah makhluk yang menyatu dan kehilangan salah satunya dapat menimbulkan fenomena “phantom limb”. Maka otak kota adalah akumulasi dari otak kita. Insula, ACC, dan PFC kita semua.

Makhluk yg tumbuh dan lahir serta saling mempengaruhi secara vis a versa. Smart Anthropomorphic City tepatnya. Saat kota punya sistem hemat energi maka setiap sel/manusia di dalamnya akan menjalankan program yang sama dalam level subordinasi berskala lebih mikro, demikian pula pada berbagai fungsi lainnya.
Maka desain dan infrastruktur yg didayai energi regulasi (energi itu siklus dan regulasi potensi loh, ingat hukum kekekalan energi dan termodinamika. It’s all about conversion).

Konversi tentu perlu regulasi dan struktur peta jalan yang menjamin arah gaya dari energi kinetik kota yang menggerakkan strategic business unit berupa manusia sebagai warga, mengalir dan menciptakan resultante-resultante dari berbagai arah gaya yang tervektoring untuk mendorong perubahan yang terukur dan terintegrasi. Kota dan Kita akan menjadi jaringan syaraf maya yang nyata, virtual konseptual tetapi sekaligus nyata dan faktual. Jika mengacu pada konsep Neuromorphic yang dinisbatkan pada machine, maka machine punya MCS atau machine common sense, saya yakin bioma, habitat, dan kota, juga ekosistem akan punya “common sense”.

Neuromorphic principles mendorong lahirnya teknologi memristor yang menyajikan performa belajar dengan kemampuan membangun sinergi komunikasi melalui adaptasi fungsi sinaptik yang didukung ilmu material dan mikrosirkuit. Intinya kota dan kita akan membangun jejaring very-large-scale integration yang menjadi node-node syaraf yang bisa mendistribusikan kecerdasan ke setiap simpul dan level pengambilan keputusan. Kota dan Kita akan membangun “consciousness”nya, seperti Insula yg hadirkan kesadaran dan kontrol homeostasis atau hasilkan keseimbangan.

Mikro-mikro sirkuit ini dapat dimulai dari penataan ruang publik seperti taman piknik, JPO, dll. VSLI yang terdiri dari mikro-mikro sirkuit juga dapat berupa integrasi antar komponen infrastruktur seperti LRT-MRT-Busway-Trotoar-dan jalur sepeda. Sistem yang diberlakukan akan menjadi layer of learning dan menjadi aktuator knowledge growing system.Budaya tertib, antre, dan cashless misalnya. Akan lahir nilai sebagai bagian dari maturasi kesadaran, goalnya tercipta masyarakat Madani berakhlaq mulia.

Kita hidup di sebuah dunia yang terbukti semakin paralel meski belum lintas dimensi. Alam virtual yang semula hanya tersedia sebagai peluang dan potensi, kini maujud nyata melalui perkembangan teknologi dan sistem komputasi. Ada ruang hidup baru yang berwujud semesta sebagaimana bagian barat Amerika sebelum datangnya para petualang Eropa. Maka judul di atas adalah diskursus antara Sartre dan Clifford Geertz yang lebih dikenal dengan idiom santri-abangannya. Abad kecerdasan ditandai dengan terelaborasinya data menjadi pengetahuan dan terkonvergensinya pengetahuan menjadi sains yang memerlukan metodologi dan alasan.

Perspektif berikutnya tentulah iman dan kebijaksanaan (wisdom). Alam daring dengan ciri kemudahan komunikasi akan melahirkan peradaban saling mengunci dan terkoneksi (connected). Untuk selanjutnya tentulah akan lahir kerjasama dan kolaborasi yang menghadirkan produk serta tatanan. Pro kreasi. Inilah keistimewaan manusia yang punya daya cipta dan sistematika berpikir adi daya. Kita membangun, menciptakan, dan disadari ataupun tidak, juga menghancurkan. Bahkan bukan cuma menghancurkan, melainkan meluluhlantakkan. Katastropik. Bukankah dengan logika sederhana dan premis-premis bersahaja saja sudah langsung terlihat kasat mata, bahwa manusia mengkreasikan bencana dan berperan sebagai korban di dalamnya. Alam hanya menjalankan peran dan ketetapannya, tapi manusia punya kesempatan. Punya pilihan. Punya daya nalar. Punya daya kreasi dan kemampuan untuk menyelaraskan antara gagasan dan aksi. Lalu alam baru yang dinamai dunia Saiber mulai menggeser batasan ruang dan waktu.

Bahkan manusia telah menciptakan mesin-mesin peradabannya yang mengadopsi nyaris sempurna kemampuan istimewa otak manusia. Big Data, data mining, AI, DL dan knowledge growing system nya Mas Arwin Sumari telah melahirkan dunia autonomous dimana manusia perlahan tapi pasti mulai kehilangan kendali terhadap nilai2 kemanusiaannya.
Mari kita simak lahir dan bergulirnya mesin pencari dan berbagai aplikasi perpanjangan inderawi; peta, layanan daring multiguna, sampai habitat baru yang dibangun lewat media sosial. Mesin yang semakin cerdas mulai membangun lapis perasaan dan kesadaran. Sadarkah kita jika setiap jejak digital kita dapat memberikan engine gambaran tentang siapa kita ? Preferensi kita, dinamika emosi kita, psikografik, bahkan prediksi jalan hidup kita yang bahkan kita sendiri belum yakin akannya.

Ada konsep filter bubble yg menghasilkan algorithmic enclave (Merlyna Lim, 2017) dimana pola dan kebiasaan yang tercermin dalam aktivitas di alam saiber akan memerangkap kita dalam jebakan infrastruktur manufaktur jiwa. Apa itu manufaktur jiwa ? Kita akan masuk ke dalam balon-balon preferensi yang mengepung kita dengan data dan fakta yang dipakaikan sesuai dengan pola yang kita tampilkan. Dengan kata lain, kita menciptakan posibilitas lahirnya dunia kita sendiri, dan itu dirancang dengan cerdasnya oleh mesin dan sistem yang kita buat sendiri. Kita terkepung dengan data yang kita sukai dan kita rasa sesuai dengan kebutuhan kita. Mesin menawarkan efek psikadelik halusinogenik yang tak kalah trengginas dengan Meskalin dan senyawa sejenisnya seperti Psylocibin dari jamur tahi sapi. Lalu bukan hanya preferensi suka dan kegembiraan saja yang direkonstruksi oleh engine yang dibangun oleh para engineer yang ahli dalam perkara engineering. Perkara reka dan merekayasa. Maka kebencian, kemarahan, dan variabel penderitaan juga direkayasa hingga kita terekadaya. Sebagaimana yang oleh Daniel Keats Citron lebih ditekankan pada proses pelabelan negatif yg destruktif pada seseorang atau sesuatu hal hingga patut untuk dibenci dan disakiti (Hate Crimes in Cyber space, 2014).

Alam saiber yang sesungguhnya tanpa ruang ini juga melucuti dan menanggalkan segenap identitas dan karakter yang kita sematkan pada peran yang kita jalani dalam proses interaksi di dimensi materi. Anonimitas menjadi ciri pribadi virtual. Transparan sekaligus getas. Fleksibel sekaligus dapat mengeras. Makhluk-makhluk di dunia daring bersifat invisible, alias tidak terlihat yang berkorelasi dengan hilangnya ketakutan untuk bertanggungjawab. Kejahatan lintas dimensi menjadi kehilangan aturan dan alat bukti. Semua ini pada gilirannya akan diikuti oleh terjadinya banjir bit yang terangkai sebagai informasi. Di tengah banjir informasi yg menyebabkan cognitive exhausted ini, ada beberapa informasi yg dapat “singgah” bahkan menetap di benak kita. Priming. Tim dari Stanford memberi contoh kongkret betapa otak manusia bekerja berdasarkan asumsi yang berbasis dari pengalaman dan informasi yang diterima sebelumnya. Tim ini meminta kita untuk menatap sebuah gambar berupa bercak-bercak tinta di bidang putih dan entah apa yang terlintas di sistem asosiasi visual kita tentang bentuk apa yang tergambar di sana.

Tapi sebuah petunjuk kecil yang menunjukkan adanya seekor anjing Dalmatian sedang merunduk dan minum akan membuat kita takkan pernah lagi lupa gambar apa itu sesungguhnya setiap kali gambar itu ditunjukkan pada kita. Daerah visual primer yang telah mendapat asupan data dari beberapa area fungsi luhur (higher function) dan sistem memori akan selalu menampilkan interpretasi terhadap citra berdasar pengetahuan yang telah diinstalkan. Selain itu hasil riset menunjukkan bahwa karakter info yg bersifat trailer vision atau info yg bersifat suspense/ drama serta penuh kejutan disukai oleh otak kita. Mengapa ? Karena kita lelah dengan banjir data yang tak “menarik” untuk dianalisa. Kita perlu drama, kita perlu misteri, kita perlu kondisi “uncertainty”. Karena kita berharap bahwa kejutan dapat menjadikan lini masa kehidupan kita akan dipenuhi letupan2 kecil kebahagiaan yang menjanjikan serangkaian kenikmatan.

Maka kita pun mengenal konsep loss aversion, rasa kehilangan pada “sesuatu” yang menurut kita “semestinya” menjadi milik kita. Maka sebagian dari kita menisbatkan ritual agama dan pengalaman spiritualitas adalah fragmen2 kenikmatan yang dapat terus memberikan harapan dan menumbuhkan motivasi untuk terus dapat merasakan sensasinya. Terdengar seperti sex dan judi ya ? Atau kuliner dan petualangan ekstrem ? Yah demikianlah kira2. Penelitian di School of Medicine nya University of Utah menunjukkan bahwa pengalaman spiritual terkait dengan simbol dan prosesi keagamaan pada probandus di sana mengaktivasi pusat reward yang bernama nukleus akumben dan daerah ventro medial prefrontal cortex (vmPFC) yang berfungsi sebagai pusat pemilahan, pembobotan, dan penilaian berkonotasi moral. Serta menyita perhatian karena teraktivasinya area focused attention yang secara anatomi dikenal sebagai inferior frontal junction. Konstruksi persepsi dari sensasi ini terbentuk antara lain karena konstruksi simbol (semiotika).

Menurut Edelman (1964) dalam proses transmisi pesan melalui simbol semiotika, dikenal dua kategori simbol yaitu; referential dan condensation symbol. Ada peristiwa atau fenomena yang menjadi rujukan dan jika terjadi secara serial maupun paralel akan terkonsentrasi sebagai suatu kebenaran, kita menyebutnya sebagai fakta. Apakah semua fakta selalu benar ? Kembali pada konsep referensi dan kondensasi serta priming. Sebuah fakta akan melahirkan banyak kebenaran. Dan kebenaran akan selalu memerlukan alasan. Tibalah kita di abad alasannya Sartre, hingga jika ada fakta yang ingin kita benarkan, kita pun akan membuat alasannya. Sekaligus kita terjebak dalam jejaring pemaknaan (signifikansi), apakah kebenaran itu penting untuk kita carikan alasan ? Maka ujung pencarian sebenarnya sederhana saja, menemukan sebuah kebenaran yang tak lagi memerlukan alasan dan sederet teori tentang kebermaknaan. Kebenaran di seberang alasan dan makna.