Next Talks 8# : Privasi dan Perlindungan Data Pribadi di Video Game Bersama M Fajar Muharom

Bentuk data terbagi menjadi dua : 

DATA PRIBADI UMUM : Nama, agama 

DATA PRIBADI SPESIFIK (Social Profiling(?)) = pandangan politik, informasi kesehatan, jejak digital dkk. 

 

Bagaimana perlindungan data di games saat ini?

Jika, platform game dari facebook telah terbobol datanya dan kasus tersebut terbilang baru. Permasalahan nya saat ini adalah banyak orang yang menggunakan fasilitas log – in by dimana orang tersebut melakukan log – in melalui sosial media dan karena itu data tersebut bisa ditarik.  

Untuk apa pengembang game mengumpulkan data tersebut?

Secara positif, tujuanya untuk mengenal karakteristik pelanggan. Game yang dibuat akan ditargetkan untuk usia berapa lalu karakter pelanggan seperti apa. Social profiling sebutan dari kegiatan ini. Contoh, mengumpulkan/membeli item berbagai konsumen dari game dengan tersedianya voucher dkk. 

Secara negatif, isu politik terlibat atas lingkungan game tersebut. Data diambil untuk melihat sifat emosional dari pengguna atau mengambil profil Facebook pengguna, salah satunya untuk diperjualbelikan. 

Karena saat ini game juga tersedia untuk orang dewasa, data tersebut dijual untuk diperjualbelikan. Potensi tersebut harus diperhatikan, data – data sepele juga memberikan informasi secara signifikan kepada pengembang game. 

Traffic sampai 200 Megabyte per – bulan. Facebook memberikan layanan gratis tanpa tahu tujuan nyata tersebut, sampai menemukan iklan – iklan bermunculan yang tidak berhubungan. Algoritma dari pencarian tersebut bisa dilacak oleh Facebook. 

Bagaimana cara/tips agar kita terhindar dari pembajakan tersebut? 

  1. Kesadaran diri pribadi bahwa ada banyak data pribadi yang disepelekan. 
  2. Teknologi penting. Saat memainkan social media, lebih baik dibaca terlebih dahulu Term of Policy nya. Kebanyakan pengguna baru suka mengabaikan perjanjian tersebut hingga  pengguna kaget dengan promosi yang digenjor untuk pengguna. 
  3. Membatasi postingan pribadi di internet. Belum ada regulasi yang mengatur berapa lama perusahaan tersebut mempunyai data kita. Menjaga password juga penting. Alangkah baiknya melakukan pergantian password secara berkala. Menurut penelitian dari Kominfo 10% dari pengguna masih ada orang indonesia yang berbagi password kepada suami istri. 

Peran pemerintah itu seperti apa pada isu kali ini?

Dari 2015 pemerintah mengajukan UU PDP lalu tahun 2019 masuk Polegnas dan merupakan prioritas walaupun saat ini ada Omnibus. Pemerintah memiliki peran penting. Negara di ASEAN Tenggara yang sudah memiliki UU PDP baru Malaysia (2010), Filipina, Singapura lalu Thailand sudah memiliki UU tersebut sedangkan indonesia tidak. Ada tiga cakupan PDP (1) Data owner, (2) Data controller dan (3) Data Processor.  Perlu regulasi karena data pribadi tersebut harus memenuhi kerangka hukum keseluruhan karena saat ini hukum yang menaungi data pribadi terbagi menjadi 32 sektoral. Perlu satu UU yang bisa mencangkup semuanya. Orang bisa membagi data dengan siapapun dengan alasan pengembangan padahal kita sebagai pemilik data dimanfaatkan. UU PDP pasal 10 menyatakan bahwa setiap orang pemilik data bisa mengajukan keberatan mengenai profiling. 

Pertanyaan : 

(Sahid) Ijin nanya kang, saya beberapa kali memasukkan data pribadi di dunia digital, utamanya beberapa platform yang mengharuskan verifikasi data pribadi agar bisa menggunakan fitur-fiturnya. Nah tanda-tanda apa saja yang dapat dilihat agar tahu bahwa sebenarnya data pribadi kita sudah diketahui oleh pihak lain, selain tempat yang pernah kita masukkan data tersebut ?


Jawaban : Mengenai tanda – tanda data kita sudah bocor, jangankan menggunakan KTP atau no. hp, nomor hp yang belum teregistrasi aja sudah ada tawaran pinjaman. Untuk e-mail, bisa dicek di situs https://haveibeenpwned.com/. Nanti ada warning dari pihak tersebut jika terdeteksi kesalahan penggunaan e-mail. Verifikasi data pribadi harus dilakukan, wajib. 

(Kak Rhino) Di Indonesia sendiri, sebagai perbandingan negara lain apakah ada aksi atau regulasi yang diterapkan negara lain? 

Dari Perusahaan lain dan Google menerapkan General Data Privacy . Negara seperti Eropa sudah melakukan standarisasi regulasi tersebut. Bisa dilihat UU di Indonesia bahwa pelaku yang memasukan data pribadi/melakukan kejahatan terkait penggunaan data bisa didenda hingga 60 Miliar Rupiah. 

(Kak Khemal)Video game kan dimainkan oleh anak2, cuman biasanya kan menggunakan data orang tua, kan pake hp orang tua,. gimana menurut kang fajar?


E-mail minimal 13 tahun dan rata – rata penggunaan e-mail tersebut yang dimainkan anak – anak dibawah itu. Saat ini, orang – orang sudah bisa membuka akun Facebook dengan no. HP sehingga anak – anak memiliki akses tersebut. Orang tua memiliki peran dalam hal ini. Rating masih belum diketahui oleh banyak orang tua dan orang tua berpikiran bahwa games tersebut ditargetkan untuk satu kelompok saja, yaitu orang dewasa. Google Family Link bisa digunakan oleh orang tua untuk mengontrol akses anak – anak pada Video Games. Cara lain adalah dengan memberikan HP sendiri kepada anak, daripada memberikan satu HP tetapi data pribadi menjadi taruhannya, karena anak – anak masih belum cukup teredukasi mengenai perlindungan data pribadi tersebut. 

 

(Rhino Andreas) Kemungkinan terburuk dari kejahatan siber ini apa saja? 

Sangat mungkin atas terjadi nya kejahatan dalam skala Internasional.  Bisa dilihat dari karakteristik pemainya. Kejahatan siber seksual juga mulai marak terjadi. Karena akun tersebut anonim, semakin tinggi risiko atas terjadinya kejahatan seksual. Risiko kejahatan Pedofilia juga bisa terjadi karena sudah ada banyak anak dibawah umur bermain game berbasis online; saling terkoneksi satu sama lain dan terhubung dengan berbagai pemain. 

Dari kita sendiri, upaya yang apa bisa kita lakukan untuk mengajak orang terdekat (keluarga, sirkel pertemanan) untuk menjaga privasi data pribadi? 

  1. Sadar atas tindakan sendiri terdahulu 
  2. Melakukan pendekatan tidak langsung seperti share link di grup.

(Alifpan) Jika data kita telah dipakai oleh beberapa pihak, untuk membekukan kembali atau mengembalikan data kita 
agar tidak beredar itu seperti apa ya?

Untuk mengembalikan data yang telah beredar, sulit untuk dilakukan. Kita hanya bisa lebih aware untuk kedepannya atau bisa meng-setting kembali opsi perihal privasi kita. Intinya harus hati – hati pada masa kedepan. 

(Khemal) Banyak sumber game yang tidak terdapat dari sumber yang terpercaya, sebagai bagian dari NXG kak Khemal juga merasa khawatir atas isu ini. 

Program yang dikelola oleh kak Fajar “Ekspedisi Literasi” : Keliling ke daerah terpencil (3T) yang belum terekspos aspek literasi nya. Kak Fajar yakin kalo informasinya sampai ke daerah tersebut, tetapi tidak ada pihak ahli secara langsung di daerah tersebut. 

Menurut kak Fajar isu merupakan permasalahan bersama. Perlunya ada kolaborasi antar – organisasi karena literasi itu segmen nya sangat luas. Salah satu caranya adalah dengan kegiatan sosialisasi. 

(Widya A Kusumaningrum) Bagaimana cara mendeteksi data tersebut aman atau sudah bocor?

Untuk HP : Jika sudah banyak tawaran dan promo muncul di dalam SMS iklan yang tidak jelas asalnya, maka no. HP sudah bocor. 

Untuk e-mail: https://haveibeenpwned.com/ 

Untuk FB dan IG : Menggunakan auto autentikasi  2 faktor. 

(Kak Fajar) Apakah kepentingan pengembang game tersebut untuk mengambil data kita?

(Kak Rhino) Ada potensi juga bahwa lokasi kita di-track

Akun kita di Google sangat besar kemungkinannya untuk di-track. Untuk kemudahan, kak Fajar sudah mulai menyimpan file di Cloud. Tetap ada resiko dari kegiatan digital kita. Satu cara yang ampuh adalah dengan meminimalisirkan risiko tersebut. 

Dibalik kemudahan ruang siber, juga ada resiko adanya serangan siber tersebut. 

Final Statement dari kak Fajar : 

Ada empat hal yang disampaikan : 

  1. Saat menggunakan internet dan melakukan suatu aktivitas ,harus mempertimbangan risiko tersebut. (posting foto dkk)
  2. Membatasi postingan data di Internet. Saat data sudah keluar dan dimiliki oleh orang lain maka sangat sulit untuk mengembalikan data tersebut. 
  3. Selalu Update. Umur bukan halangan untuk mencari ilmu mengenai isu tersebut. 

(Mengulik mengenai teknologi yang kita pakai, cek privasi dan permission check). 

4. Aktifkan autentikasi dua faktor. 

Sering perkembangan teknologi, kita juga harus update kesadaran diri kita mengenai penggunaan privasi data kita. 

Konsep Perlindungan Hukum tentang Privasi Online

Sejumlah negara telah mengakui perlindungan data sebagai hak konstitusional atau dalam bentuk “habeas data” yakni hak seseorang untuk mendapatkan pengamanan terhadap data yang dimilikinya dan untuk pembenaran ketika ditemukan kesalahan terhadap datanya. Portugal adalah salah satu contoh negara yang telah mengakui perlindungan data sebagai hak konstitusional, yaitu Pasal 35 Undang-Undang Dasr miliknya. Selain itu, Armenia, Filipina, Timor-Leste, Colombia dan Argentina adalah negara-negara dengan perbendaan sejarah dan budaya yang juga telah mengakui peran perlindungan data dalam memfasilitasi proses demokrasi dan telah menjamin perlindungan data privasi di dalam konstitusi mereka. (Dewi, 2016:26)

Asean Rights Declaration yang baru saja diadopsi negara-negara ASEAN juga secara jelas mengakui ha katas data privasi (Pasal 21). Dewasa ini, setidaknya ada lebih dari 75 negara telah banyak negara yang undang-undangnya mengatur perlindungan data (Graham Greenleaf dalam Dewi, 2016:26).

Di Indonesia sendiri, isu mengenai pentingnya perlindungan hak atas privasi mulai menguat seiring dengan makin meningkatnya jumlah pengguna telepon seluler dan internet dalam beberapa tahun terakhir. Pasal 26 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik mensyaratkan bahwa penggunaan setiap data pribadi dalam sebuah media elektronik harus mendapat persetujuan pemilik data bersangkutan. Setiap orang yang melanggar ketentuan ini dapat digugat atas kerugian yang ditimbulkan. Ancaman hukumannya tidak main-main, yakni denda hingga 6 tahun penjara atau denda hingga 1 miliar.

 

Sumber