Home Artikel Dunia Meta, Homo Codingensis, dan Neuron Holoverse

Dunia Meta, Homo Codingensis, dan Neuron Holoverse

30
0

Bagaimana ya kira-kira jika teknologi sejenis Neuralink nya Elon Musk disintesiskan bersama blockchain, bitcoin nya Sakamoto, juga dengan metaversenya Meta atau Omniversenya NVIDIA? Lalu diadopsilah didalamnya sistem kredit sosial ala Cina sebagai embrio dari model regulasi dalam proses interaksi di dunia meta.

Untuk mensupport mimpi itu dikembangkan lah sumber catudaya hijau yang berkesinambungan dan tidak rakus dalam mengonsumsi materi tak terbaharukan di bumi. Maklumlah untuk mengoperasikan sebuah dunia meta dan berinteraksi di dalamnya diperlukan dukungan energi (listrik) yang tentu saja akan sangat meningkat konsumsinya. Maka reaktor fusi masa depan, angin, gelombang, surya, algae dan biofuel, hidrogen, air, dan konversi berbagai energi kinetik serta bio lainnya akan menjadi pilihan.

Konektivitas juga akan menjadi infrastruktur paling fundamental dalam dunia meta. Selain platform, aplikasi, dan sistem catudaya yang mumpuni, koneksi adalah kata kunci. Maka konsep low latency broadband internet system yang ditawarkan Musk melalui jejaring low earth orbit satelitnya yang antara lain memanfaatkan teknologi delay tolerant network yang “memayungi” bumi akan menjadi solusi nirkabel yang tak membutuhkan banyak kabel optik bawah laut sebagai konektor antar titik di muka bumi.

Jika semua prasyarat itu terpenuhi maka proses konstruksi dunia meta akan terakselerasi. Terlebih jika hampir semua kebutuhan hidup secara fisis (baca: materi) dapat direduksi untuk menekan ekses eksploitatif pada alam yang dengan ledakan hiper populasi akan semakin kehilangan daya dukung dan rawan terjadi bencana ekosistem, maka pilihan migrasi digital akan lebih rasional dan visibel dibanding eksodus ke Mars atau bulan misalnya.

Syarat tersedianya energi dan koneksi serta platform dan aplikasi yang menjamin kebersinambungan dunia meta adalah perancah utama yang harus dibangun. Selanjutnya tentu sistem dan model interaksi harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan populasi manusia maya yang akan menjadi penduduknya. Artinya model interaksi dunia meta secara spontan dan adaptif akan terus mengembangkan berbagai konsep yang dapat mengakomodir berbagai kebutuhan yang lahir dari proses interaksi itu sendiri. Demand pull jika dalam istilah pasar bebas. Ketika ada kebutuhan tentu akan ada penyedia, dan seterusnya.

Secara paralel migrasi digital yang diawali dengan konsep digital twin serta ditandai dengan berkembangnya immersive life yang menghadirkan alter realitas alias identitas ganda, juga akan diikuti dengan upaya konstruktif dalam mereduksi peran fisik dan materi, termasuk dalam aspek biologi.

Manusia yang selama ini konsumtif dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan untuk nutrisi yang sudah berkembang tidak saja sebagai bagian dari proses substitusi energi, melainkan juga sebagai rekreasi dan untuk memenuhinya telah melakukan banyak proses eksploitasi lahan dan sumber daya atas nama inovasi dan strategi ketahanan spesies, akan mulai bertransformasi dengan dipantik oleh disrupsi teknologi. Ke arah mana transformasi biologi ini akan bermigrasi? Ke kuadran dimana efisiensi sumber nutrisi akan menghasilkan super food di skala nano yang dapat dihasilkan oleh sistem smart farming hemat energi dan lokasi karena didesain menyerupai reaktor vertikultur, misal untuk budidaya dan prosesing spesies Algae.

Esensi nutrisi akan didesain dengan pendekatan AI di ranah bioinformatika. Kita hanya butuh molekul ATP, dan blok pembangunan seperti sedikit asam amino dan asam lemak serta beberapa jenis mineral dalam jumlah kecil. Pil nano akan menjadi sumber nutrisi fisis, sementara unsur rekreasi kuliner dapat disajikan dalam sebentuk paket stimulus aneka rasa melalui gerai-gerai gastronomi di dunia meta. Dimana paket rasa itu dapat langsung diterima oleh pusat asosiasi di otak pembeli melalui sistem hibrid yang di jembatani teknologi brain interface seperti Neuralink.

Pasar pasar maya dengan basis Block Chain dengan alat tukar cryptocurrency dan Non Fungible Token akan menjadi pasar tradisional baru, dimana kebutuhan primer disediakan. Dan kebutuhan primer itu berada dalam ranah digital. Seperti kedai gastronomi tadi, yang dijual adalah rasa atau sensasi, karena konsep fisik sudah tidak relevan dengan karakter dunia meta.

Di titik inilah kemudian social credit system berfusi dengan NFT dan block chain, di mana setiap proses interaksi tentu akan melahirkan model model sosial secara autopoietik dua arah. Ekses manipulatif dan eksploitatif akan lahir sebagai bagian dari polaritas konstruktif-dekonstruktif. Sistem hukum kemasyarakatan berbasis kredit sosial akan menjelma menjadi hukum adat baru di dunia meta.

Lalu apa yang terjadi dengan berbagai inovasi teknologi lintas sektor yang saat ini juga tengah marak terjadi? Semua akan menjadi bagian dari sistem katalis transformasi dan proses eksodus besar ke dunia meta. Sistem transportasi hyperloop misalnya, akan menjadi model terotomasi (self operated system) untuk mendukung logistik dunia meta dan bukan lagi untuk mobilisasi manusia secara fisik untuk berpindah dalam ruang geografi. Sistem transportasi nirawak akan menjadi pilihan untuk mendukung rantai pasokan energi dan hal hal esensial yang diperlukan dalam menjalankan platform dunia meta.

Bahkan ke depan jika aspek fisik sudah tidak sepenuhnya bersifat hayati, dimana manusia dan mesin sudah berhasil melakukan mind coding yang gejalanya hari ini sudah dimulai dengan pendekatan deep mind , maka entitas digital bisa saja tak lagi memerlukan tubuh hayati. Mungkin akan lahir tubuh tubuh binari atau entitas koding bernama Homo Codingensis. Bukankah gen dan DNA yang saat ini kita kenal juga adalah kode yang menjalankan operasi biologi beralgoritma?

Sebenarnya konsep menuju migrasi digital ini sudah menunjukkan gejalanya di media sosial. Pendekatan imersif sesungguhnya tidak hanya pada simulasi dan pemanfaatan citra visual untuk berbagai kepentingan saja, tetapi sudah mulai menjadi bagian terintegrasi dalam sistem prokreasi yang menjadikannya tools bagi ekspresi imajinasi. Bukankah kita kerap me retouch foto dan video mulai dari wajah sendiri sampai pemandangan alam yang kita abadikan? Mengapa? Karena kita punya imajinasi atau gagasan ideal tentang tampilan yang sejalan dengan selera dan perspektif estetika yang kita miliki. Maka kelak di dunia meta semua akan cantik dan ganteng serta serba indah sejalan dengan harapan dan gagasan yang dituangkan dalam sebentuk entitas digital yang merepresentasikan proyeksi personal.

Bentang alam pun akan maujud dalam berbagai versi “benua” dan bioma sesuai dengan kesepakatan pembuatnya. Sifat pro kreator manusia akan berkelindan dengan pasukan mesin pendukungnya dan akan memainkan peran tidak lagi dalam domain role playing game tetapi mencoba menjadi the creator of universe. Sebuah permainan yang secara bawah sadar sejujurnya selalu kita dambakan untuk dapat kita lakukan. Bukankah kita selalu ingin mengubah dunia, alih-alih mengubah diri sendiri yang jauh lebih memungkinkan?

Jadi mungkin kelak kita tak lagi akan mendengar lirik lirik lagu seperti “ayumu tenananan, ora editan…” karena kita semua akan tenanan menjadi editan 🤭

Konsep digital twin yang saat ini juga dikaji oleh Prof Suhono⁩ dan tim dari ITB, memang membuka banyak kemungkinan untuk mengembangkan potensi manusia sekaligus mengekstensi fungsi dan juga konsep realitas. Maka ada yang menyebutnya hiper realitas. Saya senang dengan istilah ekstensi realitas.

Isu ini sebenarnya sudah cukup lama menjadi fantasi dan harapan dari banyak cendekiawan serta penggila sains seperti Wachowsky bersaudara yang dengan jenius menuangkannya dalam sebentuk karya cinema yang berbentuk trilogy: Matrix. Kita mengenal Keanu Reeves sebagai tokoh sentralnya. Tak hanya soal teknologi dan paralelitas yg dikupas dan dibahas, melainkan juga soal konsep spiritualitas. Kehadiran the Oracle dan the One seolah mengartikulasikan peran2 yang selama ini kita kenal dalam ranah spiritual.
Tentu sebagian besar dari plot dalam film tersebut adalah refleksi dari opini pribadi dan persepsi penulis skenario terhadap proses hidup dan kehidupan. Tetapi gagasan besarnya terkait hijrah digital dan kehidupan multi dimensi sarat dengan pendekatan filosofis dan tasawuf.

Dalam film lain, peran AI dalam mengekstensi fungsi kognisi, bahkan digambarkan justru terjadi reverse stream dari aplikasi teknologi yang dapat sepenuhnya mengadopsi kapasitas intelektualitas programmernya dapat dilihat di film Transcendence produksi tahun 2014 yang dibintangi oleh Johny Depp.

Fusi ataupun integrasi antara sistem komputasi dengan sistem fisiologi akan sangat terbantu dengan perkembangan teknologi material. Keberhasilan proses rekayasa xenobot atau biobot membuka jendela peluang untuk mengintegrasikan berbagai kemajuan lintas disiplin seperti nanomaterial, optogenetika, sampai bioinformatik (metoda in-silico) terkanalisasi dalam upaya mengembangkan teknologi garda depan yg dapat meningkatkan kapasitas fungsional manusia.

Persoalan etika yang akan muncul adalah perubahan konsep dan persepsi terkait batas dan norma baru yang menyertai kemampuan manusia yang teraugmentasi sedemikian rupa.

Sementara arah pengembangan human centric technology akan menyasar pada perubahan di skala mikro dan makro yang antara lain meliputi perubahan pola interaksi sosial (lintas dimensi-digital twin) dengan berbasis pada IoT dan konektivitas real time.

Sedangkan pada aspek hayati akan terjadi optimasi struktural yang menjadi konstruksi penunjang fungsi-fungsi fisiologi. Xenobot/Biobot, CRISPR-CAS9, sel punca, subsitusi biomaterial, 3D printing, sampai nano nutrient akan menjadi bagian dari upaya mengoptimasi fungsi anatomi, biokimia, dan fisiologi manusia.

Di sisi lain akan lahir tuntutan untuk memenuhi kebutuhan interkoneksi di antara semua sistem yang dikembangkan. Perlu metoda bridging agar semua teknologi dapat terintegrasi. Diperlukan platform dasar yang dapat menjadi “semesta” baru tempat dimana sistem biososial baru dapat diterapkan. Jika relasi inter spesies dan habitat dalam konteks mikrobioma dikenal sebagai Holobiont, maka mungkin kita dapat menyebut semesta baru ini sebagai Holoverse, dimana konsep holografik dan biografik menjadi bagian dari sebuah ekosistem baru yang dinamik.

Jembatan penghubung ini, saat ini dikembangkan dalam ranah Brain Computer Interface ataupun pengembangan berbagai sensor dalam konteks IoT yang sudah maujud dalam berbagai bentuk wearable device. Neuralink salah satu produk yang terus dikembangkan untuk menjembatani fungsi fisiologis, khususnya neurofisiologis dengan berbagai fungsi sosiologis dan ekologis.

Ke depan dengan mengintegrasikan teknologi synthetic living, nanomaterial, bioprinting, sel punca, dan rekayasa genetika (CAS-9) kita dapat membuat sel-sel neuron transmiter yang dapat membroadcast sinyal dalam karakteristik biofisika khusus yang dapat terkoneksi dengan sistem komputasi secara dua arah.

Tidak diperlukan chip lagi. Tapi sekumpulan sel neuron yang bahkan dapat menjadi bagian dari sistem pewarisan sifat secara herediter.

Manusia di masa depan dapat mengubah spesiesnya sendiri menjadi lebih adaptif dan memiliki berbagai fungsi yang diaugmentasi.

Pemikiran semacam ini yang semula masih bergenre fantasi, sudah banyak terbukti kemudian menjadi kenyataan. Jules Verne dan Isaac Assimov misalnya, banyak menulis kan berbagai hal musykil yang ternyata kini sudah dapat kita lihat dan rasakan teknologinya.

Pada hakikatnya mungkin memang itulah esensi dari eksistensi manusia ya ? Mencari dan mengembangkan diri sebagai sebentuk aktualisasi yang memproyeksikan makna presensi di kehidupan yang bersifat sementara ini 🙏🏾

Tauhid Nur Azhar

Previous articleKecerdasan Artifisial dan Kita
Next articleMembasuh Jiwa Penuh Amarah : Tempat Itu Bernama Pochinski

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here