Home Artikel Manusia, Angka, Aksara, dan Persepsi yang Dikonstruksi Logika

Manusia, Angka, Aksara, dan Persepsi yang Dikonstruksi Logika

33
0

Budaya membaca dan kapasitas literasi suatu bangsa tampaknya berkorelasi dengan capaian tingkat kemakmuran dan kesejahteraan bangsa tersebut. Literasi memantik pola pikir sistematik yang tertata dan terkelola dengan kaidah-kaidah akademik yang terstruktur serta bermetodologi.

Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang memiliki tingkat resiliensi tinggi karena adanya kemampuan mengembangkan inovasi dan bersifat adaptif secara kreatif. Untuk mencapai kondisi ini tentu diperlukan peran aktif dari negara yang memiliki akses dan piranti legal sebagai konsekuensi dari mandat yang telah diberikan rakyat, untuk menciptakan ekososistem yang kondusif bagi giat kreatif yang diharapkan dapat menjadi rahim bagi janin-janin inovasi solutif.

Tapi kata kuncinya adalah literasi. Sistematika dalam mengelompokkan, mengelola, dan menganalisa data, hingga dapat menjadi informasi dan pada gilirannya dapat mengonstruksi pengetahuan. Literasi sendiri berawal dari simbolisasi makna yang maujud dalam bentuk aksara, kata, kalimat, rima, tata bahasa atau gramatika, dan juga pendekatan semiotika yang bergabung dalam ilmu linguistik sebagai bagian dari upaya mengekstraksi makna yang tersebar dalam bentuk tanda-tanda yang terangkai sebagai bahasa.

Secara definisi semiotika yang berasal dari kata semeione adalah suatu kajian ilmu tentang proses pengkajian tanda. Kajian semiotika menganggap bahwa fenomena sosial pada masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda, semiotik itu mempelajari sistem- sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang memungkikan tanda-tanda tersebut mempunyai arti. (Ramdani AH, 2016).

Sedangkan linguistik kerap didefinisikan sebagai ilmu tentang bahasa atau ilmu yang mengkaji, menelaah atau mempelajari bahasa secara umum, yang mencakup bahasa daerah, bahasa Indonesia, atau bahasa asing. Oleh karena itu, linguistik disebut juga linguistik umum (general linguistics) jika mengkaji bahasa atau lingua tanpa dibatasi jenis bahasa tertentu. Sementara linguistik khusus adalah ilmu linguistik yang mempelajari satu jenis bahasa secara khusus.

Definisi lain tentang linguistik, antara lain diajukan oleh Kridalaksana (1983) yang menyatakan bahwa linguistik adalah ilmu yang mempelajari, mengkaji atau menelaah hakikat dan seluk bahasa yang dimiliki manusia sebagai alat komunikasi atau dengan kata lain linguistik adalah ilmu tentang
bahasa atau ilmu yang menyelidiki bahasa secara ilmiah.

Sementara cabang dari ilmu linguistik terdiri dari fonetik dan fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik.

Secara definisi fonetik adalah kajian yang membahas proses ujaran. Fonetik menerangkan bagaimana bunyi-bunyi tertentu dihasilkan baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya.
Sedangkan fonologi adalah bidang linguistik umum yang mempelajari fungsi bunyi untuk membedakan atau mengidentifikasi kata.

Sementara morfologi didefinisikan sebaga cabang linguistik yang menganalisis struktur, bentuk dan pembentukan, serta klasifikasi kata. Objek penelitiannya adalah morfem, yakni satuan gramatikal terkecil yang mempunyai makna.

Cabang lain dari linguistik adalah sintaksis. Dimana sintaksis mengkaji kata dalam hubungannya dengan kata-kata lain atau unsur-unsur lain sebagai suatu satuan ujaran. Satuannya meliputi kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana.

Cabang terakhir dari linguistik adalah semantik. Dimana semantik adalah ilmu yang mempelajari makna bahasa. Ruang lingkup yang dibicarakan dalam semantik meliputi hakikat makna, jenis makna, relasi makna, perubahan makna, dan berbagai hal yang berhubungan dengan makna bahasa.(MSD, MS Effendy, 2020)

Kapasitas prokreasi manusia dan berkembangnya area wicara pada otak manusia (Broca dan Wernicke) membuat manusia memerlukan tanda sebagai simbol komunikasi inter populasi. Lahirlah kata yang disusul oleh aksara.

Aksara pertama yang terdeteksi dalam sejarah adalah huruf Cuneus dari era bangsa Sumeria yang hidup sekitar 3000 tahun lalu di lembah antara sungai Eufrat dan Tigris. Lalu kata dapat dikemas dalam rangkai aksara, dan manusia pun mengembangkan kemampuan membaca sebagai konsekuensi dari lahirnya bahasa.

Perlahan tapi pasti bahasa verbal dapat ditransliterasi menjadi berbagai bentuk literatur. Dimulai dari penulisan di tablet, seperti Rossetta Stone yang memuat 3 inskripsi sebagai berikut; tulisan teratas disajikan dalam hieroglif Mesir Kuno, yang kedua dalam aksara demotik Mesir, dan yang ketiga dalam bahasa Yunani Kuno.

Batu atau tablet ini berisikan sebuah maklumat yang dikeluarkan di Memfis, Mesir pada tahun 196 SM, di masa dinasti Ptolemaik atas nama Raja Ptolemaios V. Isinya adalah informasi seputar kegiatan raja dalam mendistribusikan persembahan ke kuil-kuil dan adanya bencana alam berupa banjir dahsyat akibat luapan sungai Nil.

Sementara di Indonesia prasasti yang pertama kali ditemukan adalah prasasti Yupa yang ditemukan di pedalaman Kalimantan Timur. Prasasti Yupa yang ditemukan teridentifikasi berasal dari abad ke-5 masehi yang berangka tahun 475 M. Terdiri dari 7 prasasti yang diduga berasal dari era kerajaan Kutai saat dipimpin oleh Raja Mulawarman.

Prasasti yupa terdiri dari prasasti Muarakaman I yang berisi 12 bait informasi tentang silsilah Raja Mulawarman yang disebut Sri Maharaja Kundungga. Dimana ia berputra Aswawarman yang memiliki tiga orang anak. Disebutkan juga dalam prasasti itu bahwa Raja Mulawarman telah melakukan upacara persembahan bahusuwarnnakam, yang dapat diartikan emas sangat banyak.

Prasasti Yupa kedua atau Muarakaman II berisi penjelasan tentang persembahan Raja Mulawarman kepada para Brahmana yang jika diartikan maka menyebutkan bahwa Sri Mulawarman sebagai raja mulia dan terkemuka, telah memberikan sedekah berupa 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana yang seperti api di tanah yang suci Waprakeswara.

Sementara Yupa III sampai VII ada sebagian yang inkripsinya tidak terbaca, dan dari yang terbaca sebagian besar menceritakan tentang persembahan seperti Jivandana atau persembahan untuk kesempurnaan jiwa, penaklukan kerajaan lain, dan sedekah dari raja dalam berbagai bentuk.

Di sisi lain, transformasi budaya komunikasi lisan ke tulisan, telah melahirkan banyak manuskrip yang mengubah peradaban manusia. Contohnya antara lain adalah Kitab Mahabharata disusun oleh Vyasa Krisna Dwipayana di India pada sekitar 400 SM. Kisah yang semula ditulis dalam bahasa Sanskerta ini kemudian disalin dalam berbagai bahasa.

Dan selain proses transkripsi terjadi pula proses adaptasi yang memunculkan kearifan lokal sebagai bagian dari proses akulturasi dan dinamika budaya yang bersifat adaptif dan bertumbuh. Di Indonesia ada tokoh Punakawan yang merepresentasikan kearifan wong cilik sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dalam suatu konsep bernegara. Vox Populi Vox Dei dan Salus Populi Suprema Lex dari aliran filasafat Yunani bertransformasi dalam kehadiran tokoh setengah dewa yang menjabat Lurah Karang Tumaritis dan bergelar Ki Semar Bodronoyo yang sejatinya adalah Betara Ismaya, saudara kandung satu telur dengan Betara Manikmaya dan Betara Antaga. Manikmaya lebih dikenal sebagai Betara Guru, raja para dewa atau dalam tradisi India dikenal sebagai Syiwa.

Kearifan glokal yang merupakan produk asimilasi berbagai nilai yang mengonstruksi bianglala peradaban dapat dilihat pada karya-karya komik wayang RA Kosasih yang banyak mewarnai khazanah pengetahuan generasi yang terlahir di era 70an. Bhagavatgita dalam episode epos Bharatayudha yang berisi nasehat Betara Kresna dari Dwarawati kepada Raden Harjuna tentang sikap ksatria dan bagaimana hidup itu tantangan dan tragedi yang mau tidak mau harus dijalani dan dihadapi, dapat dihantarkan dengan ringan dan mengalir melalui visualisasi komik Kosasih yang sangat hidup dan terasa riil.

Tak hanya literasi dan transformasi budaya saja yang berkembang karena adanya pengembangan bahasa, tetapi juga aspek matematika dan logika tentang semesta berkembang dalam bahasa angka dan formula yang menghadirkan pemahaman tentang himpunan, matriks, model, geometri, kalkulus, sampai algoritma, dan tentu saja pada akhirnya teknologi komputasi.

Teknik komputasi dikembangkan berbasis bahasa sistem angka biner. Dimana sistem bilangan biner modern ditemukan oleh Gottfried Wilhelm Leibniz pada abad ke-17 dan muncul dalam artikelnya penjelasan de l’ Arithmétique Binaire. 0 yang ditemukan Brahmagupta dan mendapat simbol ” di peradaban Sumeria, bersama 1, diolah menjadi bahasa utama dalam algoritma pemrograman yang berkembang karena adanya pemikiran brilian dari Khawarizmi. Sistem ini merupakan dasar dari semua sistem bilangan berbasis digital.

Sistem biner dapat dikonversi ke sistem bilangan Oktal atau Hexadesimal. Sistem ini dikenal dengan istilah bit atau Binary Digit. Pengelompokan biner dalam komputer selalu berjumlah 8, dengan istilah 1 byte/bita. Dalam istilah komputer, 1 byte = 8 bit. Kode rancang bangun komputer, seperti ASCII, American Standard Code for Information Interchange menggunakan sistem pengkodean 1 byte.

Perkembangan teknologi komputasi telah melahirkan pendekatan otomasi dan optimasi sumber daya. Untuk mewujudkan kemampuan dan kapasitas sistem komputasi, diperlukan bahasa yang dapat dipergunakan untuk memprogram dalam bahasa mesin. Salah satu bahasa pemrograman yang dapat kita jadikan contoh nyata adalah bahasa c++.
C++ adalah bahasa pemrograman komputer yang dibuat oleh Bjarne Stroustrup, yang merupakan perkembangan dari bahasa C dikembangkan di Bell Labs (Dennis Ritchie).

Elemen penting dalam C++ adalah variabel yang merupakan penanda identitas untuk mengakomodir nilai. Untuk menampung nilai itu ada slot di memori atau RAM. Sedangkan tipe-tipe data yang ada di variabel C++ antara lain adalah;
Bool: tipe data berupa nilai boolean, yaitu True or False.
Char: tipe data huruf dari A sampai Z
Int: tipe data berupa angka.
Float dan Double: tipe data berupa angka pecahan atau desimal.
String: tipe data berupa kumpulan karakter.

Intinya angka dan aksara adalah simbol yang merepresentasikan suatu makna atau nilai dan dapat dioperasikan dalam berbagai moda. Baik moda sastra maupun moda matematika. Juga moda kimia serta moda fisika dan juga moda hayati dari berbagai makhluk yang punya pola dan perulangan yang dapat dikalkulasi, diprosakan, disekuensing, distoikiometrikan, bahkan diresapkan dalam bentuk sastra qolbu yang menentramkan.

Stoikiometri sendiri merupakan ilmu yang menghitung hubungan kuantitatif dari reaktan dan produk dalam reaksi kimia (Alfian, 2009). Maka dari contoh bahasa di ranah kimia ini kita dapat melihat bahwa angka dan aksara senantiasa menjadi perancah logika yang dalam konstruksi bahasa dapat menjadi cara atau metoda manusia untuk menjawab berbagai misteri dalam hidupnya, bahkan menciptakan solusi secara holistik dan terintegrasi.

Mengapa ?

Karena dengan bahasa dan simbol-simbol sarat nilai dan makna itulah kita berinteraksi dan membangun jejaring komunikasi. Kita dapat melihat korelasi antar faktor dalam konteks regresi, kita dapat melakukan pendekatan stokastik untuk hal-hal yang bersifat probabilistik, kita dapat mengurai tubuh manusia, hewan, dan tumbuhan dengan pendekatan terstruktur anatomi fisiologis yang tak menimbulkan multi persepsi, bahkan kita dapat menumbuhkan imajinasi dan energi prokreasi dalam sebait narasi, sebaris puisi, ataupun dalam selarik syair lagu, juga dalam rumus fisika dan matematika, serta berbagai sintaks yang merepresentasi sejumlah tanda yang terkait dengan peran, proses, dan fungsi yang diwakilinya.

Maka manusia, angka, dan aksara adalah titik simpul (nodes) utama dalam bangun peradaban yang dikonstruksi oleh struktur logika yang menghasilkan persepsi. Lalu persepsi akan melahirkan deskripsi, narasi, dan juga berbagai pola komunikasi.

Dengan kata lain, angka dan aksara adalah elemen utama dalam bahasa semesta. Bahasa yang mempersatukan setiap elemen di dalamnya dalam suatu aliran kesadaran yang berbasis pada pemahaman. 🙏🏿❤️

Previous articleProgram Belajar Merdeka tapi Bertujuan
Next articleNasi Kuning, Strategi Komunikasi Budaya Sunan Bonang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here