Home Artikel Membasuh Jiwa Penuh Amarah : Tempat Itu Bernama Pochinski

Membasuh Jiwa Penuh Amarah : Tempat Itu Bernama Pochinski

13
0

Waktu mundur selama 20 detik, bergerak begitu cepat hingga saatnya saya dan 100 orang lainya harus naik sebuah pesawat di sebuah pulau kecil. Tak lama setelah itu kami dipaksa untuk terjun menggunakan parasut mencari tempat mendarat. “cari tempat yang banyak senjatanya” ujar seorang teman terdengar di headset yang saya gunakan. “iya kita barbar saja” sahut teman saya yang lain. “oke kita turun di Pochinski” jawab saya bicara melalui microphone. “oke” jawab teman ke-4 saya.

Setelah kami turun dari parasut kami langsung masuk ke rumah-rumah kosong. rumah-rumah yang telah lama ditinggalkan tanpa ada furniture di dalamnnya. Kami tidak berbekal apa-apa hanya tangan kosong. Namun dentuman senjata disana-sini terus terdengar. Terdengar pula letusan granat dari jarak jauh dan suara senjata AKM yang khas dari jarak yang lebih dekat membredel.

Kami ber-4 terus merangkak setengah tiarap untuk menghindari dari penglihatan orang lain. Kami masuk dari satu rumah ke rumah lain mencoba mencari senjata untuk bertahan hidup. Saya menemukan sebuah hand gun beserta pelurunya. kemudian sebuah vest atau rompi pelindung untuk mengurangi ‘damage‘ saat ada peluru menerjang dada. “I got supply” terdengar suara dari sebelah kiri dari headset saya. Ternyata teman memberi tahu kepada saya kalau dia mendapatkan suply untuk bertahan hidup. Sebuah senjata, tepatnya senjata jenis AR tipe Scar-L dan beberapa kotak peluru. Saya mendekati sumber suara dan mengambil senjata tersebut.

Tidak selang beberapa lama saya mendengar langkah kaki, di map pun terlihat bahwa di sekitar saya ada orang lain. Saya kemudian mengendap-ngendap dan mengurangi pergerakan. Hal ini dilakukan agar keberadaan saya tidak diketahui orang itu dan saya bisa lebih dulu tahu posisi dia ada dimana. Tapi tak disangka ternyata orang tersebut ada di luar jendela dan dia lebih dulu menembak saya. Dor! Dor! kaki saya kena dan indikator darah langsung menunjukan pengurangan hingga setengah. Reflex saya mengarahkan senjata ke dada lawan drrrrrrrrr…. beruntung jenis senjata yang saya miliki lebih bagus dari senjata lawan dan orang itu seketika mati.

Perasaan gugup, bahagian, marah, takut dan luapan adrenalin bercampur jadi satu menghasilkan dopamin dalam otak yang memberikan ketenangan dan kesenangan. Saya ada di dalam sebuah permainan video gim berjenis battle royal. Dimana kami ber-4 harus bertahan hidup melawan 96 orang lainya. Karena ternyata 100 orang yang berangkat bersama dari pulau kecil tadi adalah musuh kecuali 3 orang teman saya.

Satu demi satu musuh saya coba kalahkan. Karena setelah baku tembak pertama tadi, musuh semakin banyak berdatangan. Mungkin karena lokasi keberadaan kami telah ditemukan. Kami bertiga menjaga jarak untuk saling memperhatikan. Khawatir lawan ada di sekitar kita.

Peperangan terus berlangsung, saya terus bertahan dan menembak musuh meskipun sesekali kami harus saling nge revive kawan karena tertembak dan knock off. Perasaan setelah menembak lawan begitu memuaskan, jadi ingin dan ingin lagi. Pochinki biasa dipilih sebagai tempat pendaratan karena tingkat pertempuran cukup Intens.

Pochinski adalah salah satu wilayah dalam peta Erangel dalam Video Gim PUBG. Wilayah ini terkenal sebagai wilayah paling barbar dalam gim ini karena di wilayah ini terdapat banyak senjata untuk di “pick up” dan memiliki lokasi bangunan yang saling berdekatan. Lokasi yang paling ideal melakukan pertempuran.

Setelah pulang beraktifitas dari kantor biasanya saya sekali dua kali bermain Video Gim PUBG dan sering memilih Pochinski sebagai tempat pendaratan. Setelah penat bekerja biasanya saya butuh ruang untuk melampiaskan emosi. Di tempat inilah saya biasa melakukanya, kadang sendiri atau mengajak kawan-kawan.

Banyak Psikolog Indonesia menyebutkan bahwa Video Game Kekerasan akan meningkatkan agresifitas anak-anak. Mungkin tidak untuk saya, karena setelah saya bermain game saya biasa lebih tenang dan bahagia. Apalagi kalau bisa bertahan hingga akhir permainan dan mendapatkan Chicken Dinner.

Saya lebih percaya pada hasil penelitian dari Tim peneliti dari Jerman yang dipimpin oleh Dr Gregor Szycik, dari Hanover Medical School. Pada penelitian tersebut menunjukan bahwa konten kekerasan pada video game tidak mempengaruhi kepribadian seseorang termasuk meningkatkan agresivitas seseorang dalam jangka panjang.

Dia melakukan serangkaian tes pada Gamer yang telah bermain video game Call Of Duty selama empat tahun. Para Gamer ini bermain sekitar dua jam dalam sehari. Kemudian Dr Szycik melakukan tes yang sama kepada non-gamer.

Mereka diberi kuesioner psikologis kemudian dites melalui MRI. Setelah itu mereka diberikan gambar untuk memancing tanggapan emosional. Hasil dari pengujian tersebut menunjukan bahwa tidak ada perbedaan sikap yang ditunjukan oleh Gamer ataupun non-gamer.

Penelitian tersebut menunjukan kepada kita bahwa apabila video gi digunakan dalam batas waktu yang tepat (maksimal dua jam sehari) ternyata tidak akan berdampak apa-apa, terutama pada orang Dewasa. Bahkan Video Gim bisa jadi media untuk membasuh rasa amarah dari hiruk pikuk pekerjaan. Seperti melakukan pertempuran di sebuah tempat yang disebut dengan pochinski.

Previous articleDunia Meta, Homo Codingensis, dan Neuron Holoverse
Next articleMedan Bentur-Ruang Lentur, Teorema Reposisi Personal dalam Interaksi Sosial

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here