Home Artikel Nasi Kuning, Strategi Komunikasi Budaya Sunan Bonang

Nasi Kuning, Strategi Komunikasi Budaya Sunan Bonang

41
0

Alhamdulillah, puji Tuhan penguasa semesta sekalian alam. Bangun pagi eh ternyata untuk smokol (sarapan dalam bahasa Manado) telah terhidang nasi kuning yang harumnya begitu menggoda segenap organ olfaksi saya. Edodoe enak sekali ini. Nasi kuning Cakalang aseli Sulawesi Utara. Ciri khas nya ada mihun dan tentu saja Cakalang fufu atau cakalang segar garo rica.

Tapi dari manakah asal usul Nasi Kuning itu ? Nasi yang dimasak dengan bumbu dan pewarna kunyit serta santan ini sebenarnya adalah bentuk adaptasi kultural yang menjadi metoda transformasi bertahap yang digagas oleh Sunan Bonang.

Sunan Bonang adalah putra dari Sunan Ampel dan Nyi Ageng Manila. Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465 di Rembang dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim, dan bersaudara dengan Sunan Drajat, Sunan Demak, Dewi Murtasiyah, dan Raden Faqih. Ayah dari Dewi Ruhul, Jayeng Katon, dan Jayeng Rono ini adalah wali yang ditugasi untuk syi’ar pada penganut Bhairawa Tantra.

Hubungannya dengan nasi kuning ? Ritual Bhairawa Tantra yang sudah dianut sejak era Medang Ratu Shima belakangan hari menjadi meresahkan karena mempraktekkan ritual molimo secara harafiah. Tumpengan daging manusia, korban perawan kenyes, minum arak, dan melakukan gangbang.

Ritual ini marak dilaksanakan di berbagai lokus Bhairawa Tantra di Asia, termasuk di tanah Jawa di sekitar abad ke 8 sampai dengan 14. Untuk itu Sunan Bonang melakukan strategi kebudayaan dengan pendekatan persuatif. Transformasi gradual dilakukan, dan berbagai budaya lokal yang telah menjadi core value secara ritual dipertahankan, hanya saja tanpa terasa dan smooth sekali filsafat dan nilai prinsipnya perlahan dialihkan ke pemahaman baru yang mampu menerbitkan cakrawala kesadaran.

Ajaran Bhairawa Tantra sendiri sebenarnya adalah sekte atau aliran fusi yang antara lain menggabungkan nilai dan ajaran Mahayana dan Syiwa, juga mungkin budaya lokal di wilayah penganutnya.

Dalam salah satu risalah di artikel digital Historia disebutkan bahwa sekte Bhairawa ini muncul pada abad ke-6 di Benggala sebelah timur (India), menyebar ke utara melalui Tibet, Mongolia, lalu masuk ke Tiongkok dan Jepang.

Persebaran ke timur masuk ke Asia Tenggara, termasuk ke Nusantara. Sekte ini tampak di Sumatra pada abad ke-11, kemudian menyebar ke timur sampai ke Jawa. Pada masa Singhasari sekte ini semakin berkembang dan kemudian muncul kembali di Sumatra pada masa Adityawarman. (Putri RH, 2016).

Salah satu bukti keberadaan sekte ini adalah temuan arca Bhairawa di Padang Roco Sumatera Barat yang menggambarkan sosok seseorang yang memegang sebilah pisau dan mangkuk. Dua ekor ular melingkari kakinya, mengenakan sarung kotak-kotak dengan hiasan tengkorak di tengahnya. Ikat pinggangnya berhias kepala kala. Kedua pergelangan tangan dan lengannya memakai gelang ular. Sosok ini berdiri di atas tubuh seseorang yang di bawahnya lagi disangga tumpukan tengkorak manusia.

Para arkeolog menautkan sosok arca ini dengan tokoh Adityawarman. Bangsawan ring 1 Majapahit yang menjadi pendiri kerajaan Pagaruyung dan diduga sebagai sosok yang sama dengan salah satu tokoh pimpinan ekspedisi Pamalayu di era Singhasari yang antara lain bertugas membangun aliansi di wilayah Sumatera sebagai pintu masuk ke Nusantara.

Strategi geopolitik Singhasari saat itu jelas merupakan hasil analisis terhadap potensi ancaman yang diduga akan datang dari Utara. Dalam hal ini emporium Mongol yang tengah gencar mengekspansi dunia. Dinasti Mongol di Tiongkok pasca penaklukan cina dikenal sebagai Dinasti Yuan. Eksistensi dinasti ini dimulai saat pengembara Mongol, yaitu Genghis Khan, menguasai sebagian dan akhirnya seluruh Tiongkok dari awal abad ke-13 hingga 1368. Kekuasaan Mongol bahkan kemudian membentang ke sebagian besar Asia dan Eropa timur.

Sayangnya saat itu armada Pamalayu Simghasari tidak dapat mencegat armada Mongol yang dikirim untuk menghukum Raja Kertanegara yang telah menciderai utusan khusus Kubilai Khan, Meng Ci, dikarenkan luasnya wilayah amatan dan begitu banyaknya pintu masuk dari Laut Cina Selatan ke selat Malaka.

Misi diplomasi Adityawarman dan Kebo Anabrang saat itu antraa lain ditandai dengan diserahkannya arca Amogaphasa ke raja Dharmasraya di Muara Jambi. Menurut prasasti Padang Roco arca Amoghapasa adalah patung batu baginda Amoghapasa sebagai salah satu perwujudan Lokeswara atau Kertanegara. Patung ini merupakan hadiah dari Kertanagara raja Singhasari kepada Tribhuwanaraja raja Melayu di Dharmasraya pada tahun 1208 Saka atau 1286 Masehi. Sekaligus sebagai simbol supremasi Singhasari saat itu, dimana penyerahan dilakukan oleh armada samudera yang sangat kuat dan seolah mempertontonkan kekuatan militer maritim Singhasari. Kerajaan pedalaman yang pemimpinnya memiliki visi maritim kuat. Kelak semangat ini diwariskan kepada emporium Majapahit yang masih memuliakan nilai filosofis cakrawala mandala atau cakrawala dipantara yang menjadi visi global Kertanegara.

Keberhasilan armada Majapahit yang dibangun Mpu Nala sejak masa pemerintahan Maharani Tribhuwana Tunggadewi tidak terlepas dari warisan wawasan global Singhasari. Merujuk pada penjelasan dalam Kakawin Nagarakrtagama, wilayah yang berada dalam kendali Majapahit, antara lain adalah Pahang, Melayu, Gurun, Bakulapura, Sunda, dan Mandura. Prasasti lain juga menyebut betapa kuatnya kendali regional/kawasan Majapahit. Dapat disimak di Prasasti Tuhanaru (1245 Saka/1323 M) yang menjelaskan soal wilayah yang masuk sebagai daerah pumpunan dan angsana.

Pumpunan adalah daerah di sekitar keraton dan angsana merupakan wilayah luas di luarnya. Sedangkan mitra atau rekan yang setara adalah negara-negara di Asia Tenggara yang menjadi aliansi atau bagian dari pakta pertahanan semesta yang masuk dalam visi Surya Majapahit.

Kembali kepada nasi kuning ya. Sunan Bonang yang melakukan kampanye budaya dan salah satu peristiwa yang cukup fenomenal terjadi di Pagu Pamenang Kediri dimana penganut Bhairawa memiliki ikon sesembahan berupa patung raksasa Toto Kerot, berlangsung dalam dinamika kultural yang menarik dan kaya simbol. Salah satu simbil tersebut adalah tumpeng. Tumpeng yang semula manusia perlahan digeser menjadi tumpeng nasi yang berasal dari beras (Oriza sativa sp) yang diyakini masyarakat tradisi Jawa sebagai anugerah Dewi Sri. Lalu diberi warna kuning dari kunyit sebagai perlambang kemakmuran yang merupakan simbolisasi dari emas. Bukankah Jawadwipa dan Swarnadwipa adalah pulau-pulau emas Nusantara ? Politik kesejahteraan Sunan Bonang yang masuk dengan strategi komunikasi budaya yang halus terbukti mampu membangun pendekatan persuatif yang efektif.

Beberapa karya Sunan Bonang tercatat dalam beberapa riset peneliti Belanda seperti Scrieke yang menyebut karya intelektual Sunan Bonang sebagai Het Boek Van Bonang. Karya tulis Sunan Bonang yang sampai hari ini masih dapat terdokumentasi dengan baik antara lain adalah Suluk Wujil yang dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr. Suluk ini ditransliterasi oleh Prof Purbatjaraka ke dalam bahasa Belanda dan diberi judul De Geheime Leer van Soenan Bonang.

Selain Suluk Wujil yang berkisah tentang cantrik atau santri Sunan Bonang yang berasal dari Majapahit dan dialektika antara guru murid yang membahas berbagai hal dan kearifan dalam kehidupan, Sunan Bonang juga menulis kitab tasawuf berjudul Tanbihul.

Sebagai penutup dan bahan renungan hari ini, ternyata nasi kuning dan nasi tumpeng itu sebenarnya dapat dikategorikan sebagai model strategi komunikasi budaya yang cerdas (smart) ya ? Ketika nilai inti dan perilaku dapat dimodifikasi dengan bantuan perencanaan infrastruktur dan instrumen sosial budaya yang tepat, kebiasaan dan pemahaman baru dapat diterbitkan di cakrawala nalar dengan mengedepankan prinsip belajar bersama. Hingga tumbuh sense of belonging yang kuat dari segenap lapisan masyarakat terhadap pranata budaya baru yang dimaksudkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas peradaban.

Belajar dari strategi komunikasi budaya Sunan Bonang ini, tak ada benturan dan konflik diametral yang radikal terjadi. Banyak nilai dan kearifan diakomodasi, sehingga peralihan menjadi pilihan yang menyenangkan. Damai dan tentram tanpa kekerasan dan paksaan, meski tentu tak dapat dipungkiri pastilah ada benturan dan tarik menarik kepentingan yang menimbulkan eskalasi ketegangan.

Tampaknya para pemimpin dunia harus belajar pada Sunan Bonang untuk mengonstruksi strategi diplomasinya ya ? Dimana kepentingan dapat diselaraskan dengan kebutuhan yang tidak mengusik kekhawatiran dan kecemasan secara berlebihan. Biarkan tekanan menjadi eustress yang membangun dan mendorong lahirnya kreativitas dalam perubahan.

Monggo dimakan nasi kuningnya. Keburu dingin loh πŸ€­πŸ™πŸΎπŸ™πŸΎ

Previous articleManusia, Angka, Aksara, dan Persepsi yang Dikonstruksi Logika
Next articleDunia Uta Uta Vs Dunia Atu Atu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here