Home Artikel Program Belajar Merdeka tapi Bertujuan

Program Belajar Merdeka tapi Bertujuan

34
0

Tak dapat dipungkiri bahwasanya pengetahuan dan ilmu adalah konstruksi utama dari peradaban. Hal yang tentu saja telah disadari sejak ribuan tahun lalu, saat Hammurabi menuliskan teks hukum pertama yang dikenal manusia. Karya tulis itu dalam bahasa Akkadia yang digunakan di Babilonia kuno, dikenal pula sebagai code of Hammurabi yang waktu penulisannya diprakirakan di antara 1755 sampai dengan 1750 tahun sebelum masehi.

Juga saat abad ke 7 Brahmagupta memperkenalkan angka nol yang menjadi notasi pembawa perubahan fundamental di dunia, karena dari hadirnya lah lahir konsep binari dan dan sistem komputasi sampai data terkoneksi hari ini. Bahkan semua formula yang membutuhkan model matematika memerlukan kehadirannya. Meski sejarah juga mencatat bahwa sejak 300 SM bangsa Babilonia juga sudah memiliki notasi untuk kosong, tapi sejak 0 dari India yang kemudian dibawa ke Bayt Al Hikmah dalam bentuk kitab yang dibawa oleh seorang astronom India ke Khalifah Al Mansyur di Baghdad, mulai terjadilah revolusi dalam matematika. Kitab matematika India itu sendiri dalam katalog perpustakaan Bayt Al Hikmah, tercatat sebagai Shind Al Hindi Kabir .

Kelak dari isi kitab itulah Bapak Aljabar dunia, Al Khawarizmi terinspirasi untuk memperbaiki beberapa persamaannya dengan memasukkan angka nol. Selanjutnya beliau menulis hasil perhitungan ulang dan teori-teori barunya setelah mengenal angka 0 dalam sebuah kitab yang berjudul Algoritmi de Numero Indorum. Dan dari inspirasi yang terkandung dalam kitab inilah lahir konsep dan pendekatan algoritma.

Maka hari ini kita belum tentu mengenal Tokopedia, Bjorka, ataupun Cambridge Analytica, tanpa adanya penemuan angka, angka nol, metoda komputasi, dan tentu saja aksara sebagai sarana literasi.

Selanjutnya dari tahap literasi akan berkembang edukasi dan juga riset serta inovasi. Ini rahim bagi kelahiran teknologi. Mulai dari penemuan roda sampai ke alat transportasi bercatudaya berbagai jenis energi. Mulai dari penemuan sifat arus listrik sampai pemanfaatan fiber optik. Mulai dari penemuan berbagai sifat elemen kimia dalam tabel Mendeleyev sampai ke pemanfaatan teknologi Maglev.

Di satu titik, penguasaan ilmu yang semakin strategis memerlukan suatu konstruksi replikasi dan pengembangan keilmuan yang dapat menjamin proses alih informasi dan penguasaan keilmuan yang dapat memastikan bahwa ilmu dan pengetahuan yang dipelajari dapat memberikan hasil setara dengan yang sebelumnya, dan tentu lebih baik lagi jika menjadi lebih berdayaguna serta dapat berkontribusi secara adekuat (berkesinambungan) dan maksimal.

Untuk itu pendidikan diharapkan memiliki keluaran (outcome) yang identik dengan karakteristik peserta didik yang telah dikonstruksi semenjak awal. Dan pada gilirannya tentu akan memerlukan suatu pendekatan instruksional berikut model institusinya yang bersifat deterministik-mekanistik. Semangat memerdekakan ilmu dan pengetahuan dapat termarjinalkan dalam peran institusi pendidikan sebagai manufaktur peradaban yang berada dalam tekanan tuntutan kebutuhan sumber daya dari industri yang membutuhkan.

Padahal konsep awal pendidikan dan pengembangan kampus adalah adanya tempat belajar bermetodologi yang dapaz menjamin kesahihan dan keabsahan materi dalam disiplin ilmu yang diajarkan. Memberi bekal intelektualitas agar peserta didik dapat menjadi manusia terdidik yang kreatif dan inovatif serta kontrubutif terhadap permasalahan yang berkembang secara dinamis di habitatnya.

Maka pendirian universitas pertama di abad ke 9, di Maroko tepatnya, ditujuan sebagai benteng pemelihara keilmuan agar dapat dipelajari dan dikembangkan secara lintas generasi.

Didirikan oleh Fatimah Al-Fihri, Al-Qarawiyyin adalah Universitas tertua di dunia, yang telah mulai beroperasi sejak 859 M. Institusi pendidikan tinggi ini adalah universitas pertama di dunia. Universitas Al-Qarawiyyin terletak di kota Fez, dan tercatat di Guinness Book of World Records dan UNESCO, sebagai perguruan tinggi tertua dunia.

Pada abad berikutnya berturut-turut berdiri perguruan tinggi Al Azhar di Mesir yang dibangun di masa kejayaan dinasti Fatimiyah dan dipersembahkan sebagai bentuk apresiasi terhadap Fatimah Az Zahra, putri terkasih Rasulullah SAW. Sejarah mencatat Abu Tamim Maad al Muizz li Dinillah (Al Moezz) Khalifah Fatimiyah keempat dan imam Ismaili ke-14 dan menjabat dari 953 sampai 975, adalah salah satu inisiator berdirinya perguruan tinggi Al Azhar.

Dari catatan sejarah, upaya pendirian perguruan tinggi ini juga berkorelasi dengan upaya mengembangkan peradaban yang sudah sejak awal didesain untuk bersifat sciencetific based . Sehingga pada masa pemerintahan Al Moezz, pusat kekuatan dinasti Fatimiyah dipindah ke ibukota negara baru di wilayah Mesir pada masa itu.

Dinasti Fatimiyah mendirikan kota al-Qahirah (Kairo) yang artinya “Kemenangan” pada 969 sebagai kota yang diharapkan menjadi center of excellent peradaban pada masanya. Maka tak heran pusat pendidikan dan perniagaan difokuskan untuk dikembangkan di ibu kota baru tersebut, termasuk perguruan tinggi yang kelak dikenal sebagai Universitas Al Azhar.

Pendirian Al-Azhar ini kemudian diikuti oleh Alma Mater Studiorum Universita di Bologna, yang mulai beroperasi sejak 1088. Lalu menyusul Universitas Paris dan Oxford, serta tetangganya, Cambridge mewarnai percaturan pendidikan tinggi di wilayah benua biru.

Inovasi dan teknologi berkembang seiring dengan kajian dan riset saintifik yang terus melaju tak terhalang. Konsekuensinya adalah lahir komodifikasi keilmuan dengan conveyor belt berupa proses pendidikan sistematik berjenjang dalam konsep ekosistem industri pendidikan. Produknya adalah komoditas cendekia yang fit dengan dinamika kebutuhan di dunia kerja yang notabene adalah dunia industri juga. Mulai dari jasa sampai manufaktur, berawal dari peneliti dan keahlian profesi, sampai berbagai jenjang vokasional yang lahir seiring dengan tuntutan fungsi dan teknologi. Kita mengembangkan ilmu dan ilmu mengembangkan kita agar sesuai dengan derajat perubahan yang telah diinisiasi.

Tentu secara filsafat ilmu, pendekatan ontologi yang digagas Thales, Plato, dan Aristoteles masih relevan dengan perkembangan sistem pendidikan saat ini. Konsep kajian kongkret terhadap suatu kondisi adalah dasar dari lahirnya cara berpikir bermetodologi yang mengedepankan objektivitas dalam proses pengamatan dan pengukuran.

Sementara secara hakikat tentu diperlukan penelusuran epistemologis yang meliputi pembahasan tentang asal mula, sumber, ruang lingkup, nilai validitas, dan kebenaran dari pengetahuan.

Sedangkan nilai dan norma secara aksiologis adalah perancah bagi konstruksi pemikiran yang utuh dan tertata serta mengikuti pola pemahaman yang telah dikembangkan melalui berbagai pendekatan, termasuk pendekatan empirisme dalam ranah ontologi.

Persoalan yang berkembang adalah lahirnya desakan kebutuhan untuk melakukan standarisasi dalam sistem pendidikan
Sebagaimana layaknya sebuah industri, maka komoditas pendidikan seolah harus memenuhi proses QC, dan itu diawali dari penentuan tujuan, mekanisme, sampai evaluasi melalui berbagai model asessment.

Perkembangan penerapan ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang, pada gilirannya juga akan mendorong pertumbuhan pohon keilmuan yang jumlah percabangannya kini bisa bersifat eksponensial. Rimbun dan banyak cabang yang saling silang berkelindan dan beririsan. Lalu dari pohon ilmu itu pulalah dibangun “cetak biru” sistem pendidikan yang mengedepankan konsep repetitif replikatif, dan ajeg dalam mempertahankan kualitas hasil lulusan.

Semua topik dalam materi pembelajaran harus sudah sesuai dengan tujuan dan sub tujuan serta alokasi waktu dan model pembelajarannya. Metoda dan materi akan terstandarisasi dan capaian keluaran sejak awal telah dapat ditentukan, sehingga model asessment dalam proses evaluasi sudah dapat mengukur kapasitas akademik dan kompetensi yang akan dihasilkan. Dalam beberapa disiplin ilmu tertentu bahkan uji kompetensi sudah menjadi persyaratan dalam perolehan kewenangan untuk berhak menjalankan layanan profesional.

Sebagai contoh di perguruan tinggi misalnya, untuk kegiatan akademik dalam satuan waktu semester sudah ada Rencana Pembelajaran Semester (RPS). Dimana RPS adalah dokumen perencanaan pembelajaran yang disusun sebagai panduan bagi mahasiswa dalam melaksanakan kegiatan perkuliahan selama satu semester untuk mencapai capaian pembelajaran yang telah ditetapkan.

Untuk itu di tingkat program studi akan dielaborasi beberapa pendekatan yang lebih teknis seperti adanya Capaian Pembelajaran Lulusan dan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah . Dimana CPL dinyatakan sebagai kemampuan yang diperoleh melalui internalisasi pengetahuan, sikap, keterampilan, kompetensi, dan akumulasi pengalaman kerja selama mahasiswa menempuh pembelajaran di perguruan tinggi.

Ada pula pengukuran berbagai indikator lain, khususnya terkait dengan luaran seperti pengukuran capaian PLO (Program Learning Outcome) yang didefinisikan sesuai dengan kurikulum yang berlaku.

Pengukuran PLO ini dilakukan dengan melakukan kategorisisasi terhadap CLO (Course Learning Outcome) yang didapat dari masing-masing nilai mata kuliah.

Lumayan kompleks ya ? Akan tetapi secara filosofis tampak benang merah yang menghubungkan berbagai proses terkait proses akademik tersebut semata ditujukan agar kualitas lulusan dapat memenuhi kriteria standar yang telah ditetapkan, serta dapat mengamalkan ilmu yang telah didapatkan di berbagai tempat, sesuai dengan sebaran kebutuan dari industri atau sektor lain yang membutuhkan.

Intinya pendidikan tinggi kita saat ini dapat diasumsikan tengah menjalani sebuah proses deterministik dengan pola berulang, dimana dosen dan sarana-prasarana belajar adalah bagian dari suatu conveyor belt yang bertugas menjadi satu unit industri yang berjalan linier.

Tentu model belajar hibrid atau blended learning yang pasca pandemi banyak menjadi pilihan, kita harapkan tidak hanya sekedar menjembatani kebutuhan belajar mengajar dalam konteks delivery, melainkan juga dapat menyentuh berbagai aspek yang lebih fundamental seperti arah dan model pendidikan merdeka yang dapat mengakomodir keunggulan nilai pendidikan eksisting, serta berbagai dinamika terkait dengan minat, bakat, peluang/kesempatan yang ada pada peserta didik.

Di lain pihak, tentu saja kemampuan esensial minimum akademik harus terpenuhi sebagai prasyarat peserta didik dapat mengembangkan keilmuan di tahap selanjutnya. Di sisi lain pengayaan dan perspektif akademik terhadap kebutuhan ilmu yang diminati dapat memberikan kemerdekaan peserta didik untuk belajar melalui berbagai cara. Magang, mengambil mata kuliah elektif yang diperluas, dimana pengertian mata kuliah elektif adalah mata kuliah yang dipilih oleh peserta didik dari sejumlah pilihan yang disediakan oleh institusi penyelenggara pendidikan tinggi dan berasal dari daftar mata kuliah pilihan. Atau bahkan mengambil mata kuliah pilihan lintas disiplin serta mengembangkan atau terlibat dalam proses penelitian yang diharapkan dapat memperluas cakrawala keilmuan.

Sebagian dari fungsi-fungsi ini sudah terakomodir oleh program MBKM (merdeka belajar kampus merdeka) nya Mas Menteri. Hal yang perlu kita kembangkan lebih lanjut adalah pembebasan konsep deterministik dalam belajar dengan memberi ruang stokastik, dimana probabilitas yang tercipta diharapkan dapat mendorong lahirnya kreativitas dan proses belajar bertujuan yang merupakan hasil kesepakatan antara institusi dan peserta didik. Sehingga perguruan tinggi sebagai rahim dari peradaban dapat berperan sebagai tabung reaksi yang menyediakan media bagi terjadinya reaksi antar unsur di dalamnya dengan dibantu oleh enzim katalis dalam bentuk kurikulum dan materi belajar yang adaptif terhadap dinamika perubahan dan shifting tuntutan kebutuhan di dunia nyata. πŸ™πŸΏπŸ‡²πŸ‡¨

Previous articleAda Apa dengan PSE Lingkup Privat ?
Next articleManusia, Angka, Aksara, dan Persepsi yang Dikonstruksi Logika

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here