Home Artikel Spesies Homo Hikikomori Wujud Evolusi Manusia Berikutnya

Spesies Homo Hikikomori Wujud Evolusi Manusia Berikutnya

485
1

Pagi ini di Detik ada berita berjudul bombastis, Remaja Penusuk Ibu di Jakbar Kecanduan Game Online. Meski saya tidak ingin terjebak dalam mekanisme penyimpulan dini, tetapi kepala berita seperti ini saya rasa dapat menggiring opini publik utk langsung menyalahkan game saat ada perilaku yg dirasa secara subjektif oleh reporter/penulis naskah sebagai pemicu terjadinya suatu peristiwa yg menjadi isi berita.

Memang tak dapat dipungkiri juga bahwa komunitas hikikomori sebagaimana yg telah terindentifikasi serius di Jepang mulai merebak secara global. Suatu keniscayaan memang, migrasi digital dan mulai terdelusinya entitas faktual menjadikan manusia mulai berhendaya dalam interaksi sosial. Tetapi sekali lagi interaksi sosial yg mana ? Bukankah secara digital dan di dunia daring pun setiap bentuk interaksi adalah sosial ? Kan hanya beda cara, proses, serta mekanisme ? Apakah hal tersebut merubah esensi komunikasi sebagai proses pertukaran pesan ? Saya kira tidak. Karena berbicara soal text dan kontext maka interaksi dan komunikasi dalam berbagai wahana tetap akan membawa text sesuai kontext. Maka fenomena hikikamori boleh jadi adalah suatu gegar budaya di era transformasi yg secara jamak memang biasa menimbulkan turbulensi.

Lalu kira-kira nanti apa yang salah jika avatar kita, hologram kita, ataupun jaras-jaras real time kita saling bertukar sapa di dunia maya ? Tidak kepanasan, kehujanan, dan juga tidak menimbulkan emisi gas buang dan jejak karbon karena permutasi dan pergerakan akan menimbulkan ekses ikutan.

Emang dunia maya tidak mengonsumsi energi ? Mengonsumsi juga, tapi akan makin efisien dgn sumber energi terbaharukan melalui berbagai sumber daya yg tersedia. Tampaknya akan sedikit mereduksi konsumsi energi dibanding kita ke sana kemari dgn mobil, motor, bahkan bus dan kereta api. Dunia sudah tua, kadang tak mampu lagi meladeni kerakusan kita. Bagaimana jika kita duduk manis di sudut kamar tidur saja ?

Lalu mengembara, bahkan berwisata pikiran melalui perantara teknologi maya ? Tipe baru penjelajah dunia, Mind Traveler. Dengan AI dan DL serta teknologi citra yg semakin luar biasa, Borobudur bahkan bisa tampak lebih indah dan dapat hadir di kamar kita kapan saja. Bayangkan konsumsi avtur pesawat utk ke Jogja bisa berkurang berapa ? Lalu Lion Air bagaimana ? Ya dia jadi perusahaan transportasi gagasan dong, deliver tempat-tempat cantik di seluruh penjuru dunia dalam bentuk paket digital yg bisa diunduh dan dinikmati, baik secara low cost atupun premium. Termasuk pramugari virtualnya ya.

Usaha UMKM kuliner bagaimana ? Semua jadi developer kuliner dong, yang membangun algoritma dan adu koding untuk menghasilkan komposisi stimulan biolistrik lewat medan elektromagnetik atau Direct Current Stimulation yang akan disalurkan melalui helm jelajah rasa langsung ke pusat asosiatif di korteks otak kita. “Gitu aja kok repot”kata Gus Dur guru saya.

Bayangkan betapa banyak lahan di bumi yang tak lagi dieksploitasi dan dikonversi menjadi ladang gandum hanya sekedar untuk memperturutkan syahwat para pemuja Indomie. Bayangkan juga betapa berkurangnya efek gas rumah kaca yg bisa ditimbulkan oleh pelepasan gas dari be’ol dan kentut sapi, jika para meat lover tak perlu lagi pergi ke resto bakar-bakar sendiri. Beri karet berteknologi nano dengan material cerdas yg bisa menyesuaikan tekstur dan densitas serta kandungan air menyerupai daging, dan “setrum” otaknya dgn “Gyu” implant yg menyediakan berbagai menu bakaran daging ala Japanese.

Semua tentu ada harganya. Bayar pake cicit nya bit coin ya. Saya beri nama alat tukar baru ini Digicring alias digital kencring…alias recehan dijital. Gimana ngedapetinnya ? Kerja ? Nambang kayak Harvest Moon ? Bener sekali. Digicring bisa didapatkan dari pemberian point-point oleh orang-orang yang berinteraksi dengan kita, jika mereka beri like atau bintang. Itu jadi “duit” baru yg bisa ditukar produk di market place Bro…maka banyak beramal, membantu dan menyenangkan orang akan membuat kita kaya raya dan sejahtera lahir batin. Matilah kapitalis, selamat tinggal sosialis komunis.

Lalu soal tubuh bagaimana ? Ga gerak, ga jalan, mager…nanti diabetes loh. Kan ga makan juga ? Energi dan protein cukup didapatkan dari pil nano. Rasa dari chip Nusa Selera 🤭 Kaki tangan dan lain sebagainya akan rudimenter ya ? Begitulah. Manusia akan mengecil, jadi hijau karena bahkan bisa fotosintesa, dan matanya membulat besar sekali karena selalu tinggal dalam ruangan. Sementara di luar sana tetumbuhan , hewan, dan mata air akan memulihkan dirinya dalam keriaan tasbih semesta.

Eh…ntar dulu…makhluk kecil, kaki dan tangan lemah, kulit hijau, mata belo’ alias bolotot besar tanpa iris (item semua karena pupil harus benar-benar lebar), kok mengingatkan pada sesuatu ya ?….oh iya….alien ? Lah siapa tahu memang alien adalah makhluk berperadaban yg bijaknya sudah lebih dulu dari kita. Atau itu memang saudara-saudara kita dari masa depan yg napak tilas mencari jejak leluhurnya ? Jadi masuk akal juga kan ya kunjungan-kunjungan alien itu ? Kangen sama nenek moyangnya yg primitif dan bertahan hidup secara vegetatif eksploitatif. Menisbatkan banyak dosa pada tuntutan kebutuhan. Kebutuhan yang gak diatur dan dikendalikan tentu maksudnya. Maka tazqiyatun nafs kan menjadi metoda utama untuk mendamaikan pikiran dengan dunia ?

Eh BTW alien ijo juga ga berambut, karena rambut seperti juga tulang, perlu vitamin D dan hormon yang bergantung pada matahari. Kalau ngerem terus di kamar kan ga kena cahaya matahari. Maka kalo menurut saya sih, hikikamori adalah calon-calon spesies baru manusia loh…

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.