Beranda Artikel Dari Barak ke Layar: Mendidik Anak di Era GIM

Dari Barak ke Layar: Mendidik Anak di Era GIM

486
2

Oleh: Fikri Andhika

Di satu sore yang murung namun hangat, seorang anak laki-laki duduk terpaku di depan layar ponsel. Jemarinya menari cepat, matanya tak berkedip. Di balik ketenangan wajahnya, tersimpan strategi, ambisi, dan semangat bersaing yang tak kalah dari para atlet di lapangan. Dia bukan hanya sedang bermain gim — dia sedang bertanding. Dalam dunianya, ini bukan pelarian. Ini adalah arena.

Namun dunia orang dewasa memandang layar itu berbeda.

Beberapa waktu lalu, pernyataan Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, menggetarkan ruang publik. Ia mengusulkan agar anak-anak yang terlalu lama bermain gim dikirim ke barak militer. Seolah layar perlu dilawan dengan barak. Seolah sistem dan disiplin adalah lawan dari hiburan digital.

Ide itu sontak mengundang pro dan kontra. Sejumlah pihak menilai pendekatan semacam itu bisa menjadi “terapi kejut” bagi anak-anak yang kecanduan gim. Bahkan Menkomdigi, dalam sebuah wawancara, menyatakan kesiapannya untuk mengembangkan program ini jika hasilnya terbukti positif.

Namun, apakah benar solusi atas kebiasaan bermain gim adalah menyulapnya menjadi ancaman?

GIM, seperti pisau di dapur, tak pernah punya niat baik atau buruk. Ia hanya alat. Dan seperti alat lainnya, ia bergantung pada tangan yang memegang, serta pemahaman yang melingkupinya.

Dalam kurun waktu yang tidak singkat, Indonesia telah menyaksikan anak-anak bangsa menaklukkan panggung E-Sports internasional. Mereka membawa nama merah-putih ke podium yang dulu hanya dihuni atlet dari cabang olahraga konvensional. Tak hanya itu, industri gim telah menjadi ladang subur bagi ekonomi kreatif. Anak-anak muda kini bermimpi menjadi game developer, caster, atau content creator — profesi-profesi yang sepuluh tahun lalu nyaris tak terbayangkan.

Namun kita tak bisa menutup mata terhadap sisi gelapnya. Ketika bermain melampaui batas, ketika dunia virtual menjadi pelarian permanen, saat itulah gim berubah rupa menjadi candu. Bukan pada gim letak masalahnya, melainkan pada pola konsumsi dan kurangnya pemahaman.

Dalam riset global, rata-rata waktu bermain yang sehat untuk anak dan remaja berkisar antara 1 hingga 2 jam per hari. Melebihi itu, risiko muncul: kurang tidur, prestasi akademik menurun, hingga gangguan emosi. Tapi menariknya, semua dampak buruk itu nyaris selalu berakar dari satu hal — kurangnya pendampingan.

Orang tua tak bisa lagi sekadar melarang. Mereka perlu hadir. Mereka perlu paham. GIM bukan sekadar soal menang atau kalah, hidup atau mati. Ia menyimpan narasi, seni, logika, bahkan empati. Sebagaimana buku dan film, ia bisa menjadi alat pembelajaran yang ampuh jika dimaknai bersama.

Maka daripada mengirim anak ke barak, mengapa tidak kita kirim orang tua ke ruang belajar? Ruang yang mengajarkan cara menemani anak bermain gim dengan bijak. Yang membantu mereka memahami mana gim yang mendorong kerja sama, kreativitas, dan refleksi — dan mana yang sekadar menguras waktu. Ruang yang menjembatani generasi, bukan menciptakan jurang.

Literasi digital bukan hanya tanggung jawab guru atau pemerintah. Ia adalah tanggung jawab bersama — orang tua, sekolah, komunitas, dan Negara. Kita perlu bergandengan tangan untuk menciptakan ekosistem digital yang sehat, inklusif, dan memberdayakan.

Karena di balik layar yang mereka tatap, anak-anak kita sedang membentuk dunia baru mereka. Bukan tugas kita untuk mematikannya, melainkan membimbingnya agar menyala dengan terang dan arah yang benar.

2 KOMENTAR

  1. Đây là thời buổi của công nghệ số, cho nên đa số mọi người đều chọn cách xem trực tiếp bóng đá trên điện thoại, máy tính,.. hơn là xem trên TV như trước. Để có thể xem được 1 trận bóng đá trực tiếp với chất lượng cao, đầu tiên bạn phải truy cập vào 1 website uy tín.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini