Trik Lindungi Data Pribadi

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa yang harus kita lakukan untuk melindungi data pribadi di ranah online? Berikut telah kami rangkumkan 10 tips dan trik dari Yuwinanto yang bisa Anda coba untuk melindungi data pribadi agar terhindar dari kejahatan online.

  • Sering-seringlah mencari nama Anda sendiri melalui mesin pencari Google. Kedengarannya memang aneh, tetapi setidaknya inilah gambaran untuk mengetahui sejauh mana data Anda dapat diketahui khalayak luas.
  • Mengubah nama Anda. Saran ini tidak asing lagi karena sebelumnya, Chief Executive Google Eric Schmidt telah mengatakannya supaya ketika dewasa tidak dibayang-bayangi masa lalu.
  • Mengubah pengaturan privasi atau keamanan. Pahami dan gunakan fitur setting pengamanan ini seoptimal mungkin.
  • Buat kata sandi sekuat mungkin. Ketika melakukan registrasi online, sebaiknya lakukan kombinasi antara huruf besar dan kecil, angka, dan simbol supaya tak mudah terlacak.
  • Rahasiakan password yang Anda miliki. Usahakan jangan sampai ada yang mengetahuinya.
  • Untag diri sendiri. Perhatikan setiap orang yang men-tag foto-foto Anda. Segera saja untag foto tersebut jika Anda tidak mengenali siapa yang “mengambil” foto tersebut.
  • Jangan gunakan pertanyaan mengenai tanggal lahir, alamat, nama ibu karena pertanyaan tersebut hampir selalu digunakan sebagai pertanyaan keamanan untuk database bank dan kartu kredit. Ini memberi peluang bagi peretas untuk mencuri identitas dan mencuri uang Anda.
  • Jangan tanggapi pos-el yang tak jelas. Apabila ada surat elektronik dari pengirim yang belum diketahui atau dari negeri antah berantah, tak perlu ditanggapi. Kalau perlu, jangan dibuka karena bisa saja pos-el itu membawa virus.
  • Selalu log out. Selalu ingat untuk keluar dari akun Anda, khususnya jika menggunakan komputer fasilitas umum.
  • Wi-FI. Buat kata sandi untuk menggunakan wi-fi, jika tidak, mungkin saja ada penyusup yang masuk ke jaringan Anda.

Sumber

Literasi Privasi adalah Kunci

Tidak hanya penting dijaga di dunia nyata (offline), masalah privasi ini sangat penting untuk dijaga di dunia maya (online), agar kita sebagai pengguna aktif di dunia siber terjaga dari beragam tindak kejahatan dunia siber (cybercrime). Salah satu kuncinya adalah dengan memperkuat literasi privasi. Park (2011) menjelaskan bahwa literasi privasi di dunia online merupakan sebuah prinsip untuk mendukung, mendorong dan memberdayakan pengguna untuk melakukan pengendalian serta melindungi informasi identitas digital mereka. Konten informasi yang dibagikan dan tergolong konten pribadi yaitu seperti nama asli atau nama, tanggal lahir, alamat, dan berbagai macam informasi pribadi lainnya (Dwyer, 2007).

Rundhovde dalam Sari (hlmn. 3) sendiri melihat pengetahuan sebagai aspek yang berpengaruh dalam literasi privasi. Dalam penelitiannya tersebut Rundhovde memusatkan pada perspektif pengetahuan yang meninjau rasionalitas dan pengetahuan privasi berbasis fakta dari pengguna melalui perspektif pengetahuan yang terdiri dari 6 elemen, yaitu:

  1. Technology Skills yaitu kemampuan dalam hal kognitif atau pemikiran yang dimiliki pengguna dalam memahami berbagai aspek teknologi saat menggunakan PC dan Internet, media sosial Instagram dan pemahamannya terkait pengaturan privasi di Instagram.
  2. Assigning Responsibilities merupakan pemahaman pengguna dalam menentukan keputusan pihak mana yang bertanggung jawab dalam melindungi informasi pribadinya apabila terdapat penyalahgunaan informasi.
  3. Knowledge of Risks adalah pengetahuan yang mencakup pemahaman dan kesadaran pengguna terhadap risiko atau ancaman yang muncul dalam penggunaan media interaksi online seperti media sosial.
  4. Understanding Exposure yaitu pemahaman yang dimiliki pengguna mengenai pemaparan informasi pribadi secara online, pemahaman konsep tentang data virality (mudah tersebar) dan data persistence (bersifat permanen) serta implikasi praktisnya terhadap pengungkapan informasi, dan pemahaman terkait mekanisme pengendalian informasi yang disediakan oleh layanan Instagram.
  5. Notion of Information Sensitivity adalah penilaian pengguna tentang kategori informasi yakni self-identifying, access-enabling dan expressive information yang memiliki kerentanan dapat disalahgunakan sehingga memiliki kepentingan untuk dilindungi.
  6. Managing Vulnerability merupakan pengetahuan pengguna yang berasal dari pengalaman, untuk menciptakan rasa aman dan terkendali dari kerentanan informasi pribadi, sehingga mampu menentukan pilihan strategi untuk melindungi informasi.

sumber

Apa Itu Privasi dan Ruang Personal?

Privasi merupakan konsep abstrak yang mengandung banyak makna. Privasi merupakan suatu hal yang sangat penting baik bagi individu maupun lembaga atau instansi untuk berhadapan dan berinteraksi dengan individu lain atau lembaga lain. Penggambaran populer mengenai privasi antara lain adalah hak individu untuk menentukan apakah dan sejauh mana seseorang bersedia membuka dirinya kepada orang lain, atau, privasi adalah hak untuk tidak diganggu.

Kata privasi sendiri merujuk pada padanan dari Bahasa Inggris “privacy”, yakni kemampuan satu atau sekelompok individu untuk mempertahankan kehidupan dan urusan personalnya dari publik, atau untuk mengontrol arus informasi mengenai diri mereka. Privasi berhubungan dengan sejauh mana seseorang secara fisik dapat “diakses” orang lain, yaitu menginginkan individu untuk mengendalikan keputusan tentang siapa yang memiliki akses fisik melalui akal, persepsi, pengamatan, atau kontak tubuh. (DeCew dalam Krisnawati, 2016:182). Sementara itu, berdasarkan kacamata hukum, masalah mengenai privasi ini telah tercantum pada Undang-Undang Teknologi Informasi ayat 19 yang menyatakan bahwa privasi adalah hak individu untuk mengendalikan penggunaan informasi tentang identitas pribadi baik oleh dirinya sendiri atau oleh pihak lainnya.

Lebih jauh lagi, Prabowo dalam Yuwinanto (3-7) menyebutkan bahwa terdapat beberapa faktor yang memengaruhi privasi seseorang, diantaranya adalah faktor personal, faktor situasional, dan faktor budaya.

  1. Faktor Personal

Perbedaan dalam latar belakang pribadi akan berhubungan dengan kebutuhan akan privasi. Penelitian Walden menemukan adanya perbedaan jenis kelamin mempengaruhi kebutuahan akan privasi dan cara merespon kondisi padat atau sesak.

  1. Faktor Situasional

Kepuasan terhadap kebutuhan akan privasi sangat berhubungan dengan seberapa besar lingkungan mengijinkan orang-orang di dalamnya untuk menyediri. Situasi fisik sekitar juga mempengaruhi kebutuhan privasi seseorang.

  1. Faktor Budaya

Dalam beberapa riset, menunjukan bahwa pada tiap-tiap budaya tidak ditemukan adanya perbedaan dalam banyaknya privasi yang diingikan, tetapi sangat berbeda dalam cara bagaimana mereka mendapatkan privasi. Desain lingkungan yang dipengaruhi budaya, seperti rumah adat juga mempengaruhi privasi. Artinya setiap budaya memiliki standar privasi masing-masing dan juga cara mereka memperoleh privasi.

  1. Kepadatan

Banyaknya orang dalam suatu tempat mempengaruhi jarak sosial.

 

Sementara itu Robert Gifford (dalam Yuwinanto, 3-7) berpendapat bahwa ruang personal mempengaruhi privasi, berikut beberapa unsur yang mempengaruhi ruang personal seseorang:

  • Jenis Kelamin: Umumnya laki-laki memiliki ruang yang lebih besar, walaupun demikian faktor jenis kelamin bukanlah faktor yang berdiri sendiri.
  • Kepribadian: Orang-orang yang berkepribadian terbuka, ramah atau cepat akrab biasanya memiliki ruang personal yang lebih kecil. Demikian halnya dengan orang-orang yang lebih mandiri lebih memilih ruang personal yang lebih kecil. Sebaliknya si pencemas akan lebih mengambil jarak dengan orang lain, demikian halnya dengan orang yang bersifat kompetitif dan terburu-buru.
  • Trauma: Pengalaman traumatis seseorang mempengaruhi sikapnya saat ini
  • Ketertarikan: Ketertarikan, keakraban dan persahabatan membawa pada kondisi perasaan positif dan negatif antara satu orang dengan orang lain. Namun yang paling umum adalah kita biasanya akan mendekati sesuatu jika tertarik. Dua sahabat akan berdiri pada jarak yang berdekatan dibanding dua orang yang saling asing. Sepasang suami istri akan duduk saling berdekatan dibanding sepasang laki-laki dan perempuan yang kebetulan menduduki bangku yang sama di sebuah taman.
  • Rasa Aman/Ketakutan: Kita tidak keberatan berdekatan dengan seseorang jika merasa aman dan sebaliknya. Kadang ketakutan tersebut berasal dari stigma yang salah pada pihak-pihak tertentu,misalnya kita sering kali menjauh ketika berpapasan dengan orang cacat, atau orang yang terbelakang mental atau bahkan orang gemuk. Mungkin rasa tidak nyaman tersebut muncul karena faktor ketidakbiasaan dan adanya sesuatu yang berbeda.
  • Jarak Sosial: Sesuai dengan teori jarak sosial Edward Hall yang membedakan empat macam jarak yang menggambarkan macam-macam hubungan, seperti jarak intim, jarak pribadi, jarak sosial, jarak publik.

 

Sumber

Kita Memasuki Era dimana Informasi Menjadi Komoditi

Masih jelas dalam ingatan saya, saat mengikuti kelas sejarah di bangku SMA dulu, dijelaskan oleh sang guru bahwa komoditi yang paling dicari dunia di Jalur Sutra (Asia) adalah rempah-rempah, salah satu yang terkenal berasal dari Indonesia. Tapi, kita, hari ini ada dalam masa di mana informasi menjadi komoditi yang sangat berharga. Kondisi ini dikenal dengan istilah digital dossier, yaitu pengumpulan informasi tentang seseorang dalam jumlah yang banyak dengan menggunakan teknologi digital.

Dalam perkembangan ekonomi yang modern seperti sekarang ini, informasi, termasuk juga data pribadi, merupakan asset yang sangat berharga karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi sehingga banyak dimanfaatkan oleh kalangan bisnis. Di Amerika saja, pada tahun 2014 bisnis data pribadi melalui cloud computing (sistem komputasi awan) mencapai 80 juta USD atau sekitar 10% dari pemasaran industry informasi dan teknologi secara keseluruhan. (Paolo Balboni dalam Dewi, 2016:23) Hal ini menjukkan bahwa bisnis cloud computing menjadi salah satu bisnis yang menjajikan di masa sekarang dan yang akan datang. Beberapa perusahaan yang menggunakan teknologi cloud computing diantaranya adalah Yahoo Email dan Google Email.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Bisnis soal data pribadi ini pun angkanya fantastis, mencapai Rp. 3,6 Triliyun atau naik sekitar 70% dibandingkan tahun 2014 dan pasar cloud computing diperkiraka masih akan tumbuh 20% dengan kenaikan pada segmen korporasi sehingga akan menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang menerapkan cloud computing tertinggi di Asia Pasifik. (Dewi, 2016:23) Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi yang telah menggunakan cloud computing yang dikelola PT.Telkom telah dimanfaatkan untuk berbagai sektror industry seperti pertanian, pendidikan, kesehatan, keuangan dan perbankan, hotel, transportasi, dan pertambangan. (Telkomcloud dalam Dewi, 2016:23)

Namun sangat disayangkan, yang menjadi permasalahannya adalah, sebagian besar diantara kita belum terlalu “ngeh” (sadar, red) tentang pentingnya menjaga data pribadi. Karena, berdasarkan data dari Karpersky Lab menyebutkan bahwa sebanyak 44% pengguna media sosial menjadikan data pribadi milik mereka dapat diakses oleh publik. Informasi pribadi yang dibagikan di media sosial tersebut tentu dapat berisiko besar untuk disalahgunakan dan terjadi pelanggaran privasi.

Salah satunya adalah masalah penipuan dan kebocoran data.Pada pertengahan tahun 2014, tepatnya dibulan juni di Tokyo, Jepang, sedikitnya 303 pemilik akun LINE mengadu kepada polisi telah tertipu oleh akun yang seolah dia kenal. Selain itu, tepat di akhir bulan Mei 2014, beberapa warga Korea yang menggunakan LINE mengalami kejadian penipuan yang sama. Setelah kasus tersebut diselidiki oleh pihak yang berwajib ternyata akun tersebut dari pembajak untuk menipu pengguna LINE supaya membeli web-money (uang elektronik) yang ditawarkan oleh pelaku yang tidak bertanggung jawab (Susilo, Richard, dalam Afandi, 2017:784). Sementara itu, di Thailand, Aplikasi LINE dituduh oleh pemerintah Thailand secara sengaja membuka peluang bagi pihak ketiga untuk mengakses dan melihat percakapan penggunanya. Sejumlah pakar teknologi di Thailand telah melakukan tes untuk menguji kemanan data privasi pengguna LINE, dan hasilnya mereka berhasil ‘mengintip’ sejumlah sesi percakapan pengguna LINE dengan mudah. Disebutkan bahwa para pakar tersebut hanya memerlukan sebuah software khusus yang menurut mereka umum dimiliki oleh para penyelenggara jasa telekomunikasi seperti operator seluler dan penyedia layanan Internet Service Provider (ISP) (Maulana dalam Afandi, 2017:784)

Masalah lainnya yang terkait dengan privasi juga terjadi di Amerika Serikat. Berdasarkan United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), pada tahun 2013, ditaksir sebanyak 822 juta data privasi telah terekam dalam kegiatan ecommerce dan telah dikumpulkann dalam online marketplace system. Hampir sekitar 152 juta nama, identitas konsumen, enkripsi pasword, nomor kartu debit dan kredit, serta informasi yang berkaitan dengan apa yang konsumen harap untuk dibeli/permintaan konsumen telah direkam. Jika diprosentase, pelaku yang berasal dari sektor bisnis sekitar 53% dari total pihak yang melakukan pelanggaran data privasi, dan jelas tujuannya untuk kepentingan bisnis. Menurut Indriyani (2017: 204-206) data privasi yang sering di-collect adalah pasword akun, nama pengguna akun, dan percakapan di email. Hal yang serupa juga terjadi di Afrika Timur pada tahun 2015. Dimana terdapat penyedia e-commerce melakukan pengumpulan data privasi pada mesin pembayaran otomatis yaitu nomor dan identitas pengguna kartu kredit tanpa sepengetahuan pemilik data dengan memanfaatkan peralatan Skimming dengan tujuan mendatangkan konsumen daring lebih banyak. (Indriyani, 2017: 204-206)

Sumber