Beranda Artikel Pengetahuan Afektif dan Budaya Vernakular Digital Perempuan

Pengetahuan Afektif dan Budaya Vernakular Digital Perempuan

233
17

Ditulis oleh; Ressa Ria Lestari

Pendahuluan 

Dalam dua dekade, teknologi digital telah menciptakan ruang digital yang mengubah cara baru manusia berinteraksi, mengekspresikan diri, dan memaknai pengalaman sehari-harinya. Jika melihat dari kacamata antropologi, transformasi digital yang terjadi bukanlah sesuatu yang berlangsung secara homogen. Ruang yang tercipta pun bukan ruang yang netral, bukan juga ruang dengan entitas universal. Ruang ini tumbuh dan melekat dengan konteks sosial, budaya, lokalitas dan moralitas komunitas dari para penggunanya secara organik. Seperti halnya teknologi dimaknai dalam unsur kebudayaan, teknologi digital pun merupakan produk budaya yang dihasilkan dari proses adaptasi. Sebagai sebuah alat teknologi digital memiliki spesifikasi yang sama atau universal, namun dalam konteks pengguna ini disesuaikan, dimaknai dan dijalankan berdasarkan konteks sosial, budaya, ekspresi dan bahasa lokal. Inilah yang kemudian disebut dengan budaya vernakular digital (Miller et al., 2016; Spyer, 2017).

Seiring berkembangnya budaya digital vernakular, muncul bentuk-bentuk baru produksi pengetahuan di antara penggunanya. Emosi, afeksi, dan pengalaman tubuh yang sebelumnya tidak dianggap sebagai bagian dari pengetahuan formal, ternyata memiliki peran yang signifikan dalam menciptakan pemahaman kolektif. Fenomena ini kemudian memunculkan pertanyaan reflektif, apakah pengetahuan dan pengalaman tubuh perempuan terakomodir dan diakui juga di ruang digital? Sebagai sebuah esai reflektif, esai ini disusun dengan menggunakan metode studi literatur dan observasi platform media sosial. Dalam konteks platform media sosial, perempuan tidak hanya menggunakannya sebagai platform komunikasi, tetapi juga menjadi arena untuk mengekspresikan diri, membangun identitas, dan berbagi pengalaman emosional yang seringkali mengalami represi di ranah luring. 

Sintesis dalam esai ini akan terbagi menjadi tiga bagian pembahasan. Pada bagian pertama, narasi membahas hasil observasi singkat tentang bagaimana media sosial menjadi ruang bagi perempuan mengekspresikan diri dan membagikan pengalaman emosionalnya. Bagian kedua berisi tentang keterkaitan antara pengetahuan afektif dan pengalaman tubuh perempuan. Di bagian ketiga, narasi mendiskusikan tentang epistemologi feminis dan budaya digital vernakular perempuan. 

Ruang Digital dan Perempuan 

Ruang digital seringkali dinarasikan sebagai ruang yang memberikan kerentanan kepada perempuan, karena pada kenyataannya ruang digital merupakan perpanjangan struktur sosial di dunia luring, termasuk patriarki. Ini yang kemudian menimbulkan kerentanan-kerentanan yang dialami perempuan seperti halnya di dunia luring. Maka dari itu, ruang digital tidak bisa dilihat sebagai arena netral. Kerentanan yang tercermin di dunia digital bukan hanya perihal kekerasan berbasis gender, tetapi juga tentang bagaimana perempuan dimaknai, diawasi dan dinilai melalui logika afektif dan moralitas yang diterjemahkan ke dalam praktik digital sehari-hari. 

Berdasarkan data yang dikeluarkan SafeNet, pada kuartal pertama tahun 2025 terdapat 422 aduan kasus kekerasan gender berbasis digital di Indonesia. Angka ini meningkat pada kuartal kedua menjadi 655 aduan. Dari data CATAHU (Catatan Tahunan) Komnas Perempuan, terjadi lonjakan kasus kekerasan gender berbasis digital sebesar 40,8% pada tahun 2024. Ini mencakup ancaman daring, distribusi konten pelecehan, pelanggaran privasi dan lainnya. Data-data juga menunjukkan bahwa pelecehan daring, penyebaran konten tanpa izin, cyberstalking, dan ancaman (moral dan seksual) menjadi bagian dari pengalaman digital perempuan. 

Dibalik segala macam kerentanan-kerentanan yang dialami perempuan, perempuan menggunakan dan memaknai ruang digital secara beragam. Perempuan menunjukan praktik-praktik yang membuka berbagai kemungkinan bagi perempuan untuk bernegosiasi dengan norma patriarkal, membangun strategi perlindungan diri, dan menciptakan ruang afektif yang lebih aman dan suportif. Keberagaman cara perempuan memaknai ruang digital memperlihatkan bahwa relasi perempuan dengan teknologi tidak pernah bersifat satu arah. Ruang digital dapat memproduksi ketidakadilan gender, namun perempuan juga mempraktikan agensi dan solidaritas disana. 

Dalam observasi yang dilakukan di beberapa platform media sosial, setidaknya ada tiga pola yang terlihat. Pertama, perempuan memanfaatkan ruang digital untuk mengatur visibilitas diri mereka secara strategis. Hasil observasi di platform instagram menunjukkan bagaimana pengguna dari kelompok ibu rumah tangga menampilkan kehidupan domestik melalui dua nada afektif yang berbeda. Mereka menampilkan emosi kebahagian, seperti unggahan tentang tumbuh kembang anak dengan menyematkan emoticon-emoticon yang menandakan senyuman dan lambang hati. Pada hari yang sama, mereka juga membagikan unggahan kondisi dapur yang berantakan, anak yang tantrum, atau kalimat-kalimat keluhan tentang suami atau mertua. Namun, tidak jarang pulang unggahan terkait ekspresi kelelahan itu ditutup dengan kalimat afirmasi seperti “tetap bersyukur” atau “namanya juga ibu-ibu”. Praktik digital seperti ini menunjukkan perempuan memodulasi emosi. Pemilihan caption, emoji, hingga timing pengunggahan bukan secara acak, tapi melalui proses pengaturan intensitas, arah, dan ekspresi emosi agar sesuai dengan kebutuhan diri, situasi sosial, atau norma budaya yang dianutnya. Perempuan melakukan ini bukan untuk menekan atau meniadakan emosi, tetapi sebagai cara mereka mengelola bagaimana emosi muncul, dirasakan, dan ditampilkan. 

Pola kedua menunjukkan bahwa perempuan menciptakan semacam ruang-ruang aman (safe space) yang tumbuh dari kebutuhan kolektif tentang perawatan ditengah kerasnya dunia digital. Dalam sebuah unggahan tentang konflik menantu dan mertua di platform Thread yang dimulai dengan pertanyaan “boleh ga yah sebagai menantu membatasi diri sama mertua, pdhl dulunya berusaha banget jdi menantu yg baik dan pengen dekat, tp karna satu dan lain hal jd memilih untuk membatasi diri?”. Unggahan tersebut memicu rangkaian respon berupa emoticon yang menunjukan dukungan, empati dan komentar afirmatif seperti “boleh kok, cut off juga gapapa… set your boundaries for your sanity.” Dalam satu hari, satu unggahan curahan hati individual berubah menjadi pembahasan kolektif tentang peran gender dan ketidaksetaraan domestik. Di ruang ini, perempuan bukan hanya mengekspresikan emosi personalnya saja, tetapi memprosesnya bersama. Ruang digital memfasilitasi perubahan bentuk dari pengalaman personal menjadi pemahaman sosial dan membentuk semacam affective community

Pada pola yang ketiga, perempuan turut mengembangkan dan melakukan pertukaran pengetahuan yang berbasis pengalaman nyata dan praktik bertahan hidup. Observasi pada berbagai platform menunjukkan bahwa perempuan melakukan praktik saling berbagi strategi teknis dan afektif, mulai dari tips terkait urusan domestik seperti tips menyimpan bahan makanan agar lebih awet hingga tips menambah pemasukan ekonomi sembari menjalankan peran ibu rumah tangga. Pengetahuan-pengetahuan vernakular seperti ini pada dasarnya adalah bentuk affective knowledge, yaitu pengetahuan yang lahir bukan dari institusi formal, tetapi dari pengalaman perempuan yang kemudian diolah menjadi strategi bertahan hidup dan bersolidaritas. 

Keberagaman perempuan dalam menggunakan dan memaknai ruang digital menunjukkan bahwa selain mengalami kerentanan menjadi korban dalam ekosistem digital, perempuan juga memiliki peran aktif dan strategis dalam memberikan kontribusi memproduksi dan mengembangkan pengetahuan feminis. Ketika teknologi memperbesar risiko patriarki, perempuan secara kolektif membangun mekanisme perlindungan, ruang aman dan memproduksi pengetahuan untuk mendukung ketahanan emosional dan sosial mereka. 

Dengan demikian, ruang digital yang sarat bias gender, tidak hanya memproduksi ketidakadilan, tetapi juga membuka kemungkinan-kemungkinan bagi perempuan untuk menunjukkan keberdayaan melalui produksi dan pengembangan pengetahuan berbasis pengalaman. Namun, ironisnya, potensi, strategi dan kontribusi perempuan seringkali tidak diakui sebagai pengetahuan yang valid. Pengetahuan yang muncul dari emosi, solidaritas dan pengalaman keseharian perempuan dianggap “subjektif” dan “tidak ilmiah”. Padahal, praktik-praktik yang dilakukan perempuan ini  memungkinkan untuk menciptakan infrastruktur sosial yang lebih adil ditengah ekosistem dunia digital yang memberikan kerentanan. 

Perempuan, Pengalaman Tubuh dan  Pengetahuan Afektif

Pengalaman perempuan di ruang digital tidak dapat dipisahkan dari pengalaman tubuhnya, baik sebagai entitas biologi maupun sosialnya. Dalam antropologi feminis, tubuh perempuan bukan sekedar “objek” yang mengalami tekanan sosial, tetapi juga sebagai subjek yang memproduksi, mendistribusikan, dan merasakan pengetahuan (Ahmed, 2014; Tiidenberg, 2023). Tubuh perempuan merekam sejarah kerja perawatan, ekspektasi moral, dan tekanan patriarkal yang mempengaruhi intensitas emosional dan beban afektif dalam kehidupannya. Beban ini semakin jelas terlihat dalam konteks digital (Gill & Orgad, 2022; Dobson, 2023). Ketika perempuan berhadapan dengan tumpukan pekerjaan domestik, kelelahan atas kerja perawatan, hingga kecemasan atas rasa aman, afeksi lahir dari relasi antara tubuh, beban gender dan struktur kekuasaan yang kemudian membentuk kehidupan sosial mereka (Butler, 1990; Ahmed, 2014). 

Di ruang digital, tubuh perempuan hadir melalui representasi visual, performativitas dan bahasa emosional yang dikendalikan oleh norma-norma sosial. Unggahan berupa foto, video, emoji dan pilihan kata di media sosial mencerminkan bagaimana tubuh perempuan berada pada ruang yang ambigu, di satu sisi membuka peluang, namun disisi lain memunculkan risiko. Pengalaman seperti rasa lelah yang dibagikan melalui unggahan di instagram, kecemasan mengalami diskriminasi atau penghakiman, atau rasa lega ketika mendapatkan dukungan dari sesama menjadi bentuk afeksi yang berakar pada pengalaman yang melekat pada perempuan (Pink et al, 2016; Horst & Miller, 2012). Tubuh perempuan menjadi semacam instrumen epistemik yang memungkinkan mereka memiliki kemampuan untuk memahami dan membaca situasi lingkungan yang mereka tempati (Csordas, 1994). 

Dari pengalaman yang melekat inilah muncul pengetahuan afektif, yaitu pengetahuan yang lahir dari pengalaman tubuh dan emosi yang kemudian diolah menjadi pemahaman sosial. Ketika perempuan membagikan pengalaman lelahnya, menceritakan ketakutan dan kecemasannya, dan mengekspresikan kegelisahan tentang peran domestik, respon yang muncul dari perempuan lain memvalidasi bahwa pengalaman tersebut bukan sekedar pengalaman personal, tetapi sebagai bagian dari pola sosial yang diakui bersama (Spyer, 2017; Sinanan, 2017). Validasi emosional ini tidak hanya tentang berempati lalu mengurangi beban psikologis. Ini menghasilkan pemahaman kolektif tentang struktur ketidakadilan yang tidak selalu terlihat. Pada prinsipnya, pengetahuan afektif itu bersifat relasional dan kolektif, ia lahir dari pengalaman tubuh perempuan yang beresonansi dengan tubuh perempuan lainnya, mengubah pengalaman privat menjadi pengetahuan sosial dan politis (Ahmed 2004; Stewart, 2007). 

Dalam konteks ruang digital, pengetahuan afektif menjadi hal yang penting karena emosi perempuan seringkali disalah artikan, diremehkan dan dianggap tidak rasional.  Dalam epistemologi dominan yang berbasis objektivitas maskulin, pengalaman tubuh dan emosi perempuan sering diposisikan sebagai sesuatu yang tidak ilmiah (Code, 1991; Collins, 2000). Feminis menolak pemikiran bahwa pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui cara-cara rasional, objektif dan bebas emosi. Feminis justru menegaskan bahwa afeksi adalah cara mengetahui yang sah dan valid. Emosi, pengalaman tubuh dan relasi sosial dapat juga dijadikan sebagai sumber pengetahuan. Afeksi memungkinkan perempuan untuk membaca dinamika kekuasaan, memahami risiko digital dan mengembangkan strategi bertahan hidup yang bersifat situasional namun efektif (Wang, 2021; Lupton, 2016). Melalui afeksi pula, perempuan berpotensi membangun otonomi, solidaritas, serta kemampuan untuk menavigasikan ruang digital yang sarat bias gender. 

Hubungan antara pengalaman tubuh perempuan dan pengetahuan afektif menunjukkan bahwa pengalaman emosional bukanlah penghalang dalam proses pengetahuan. Ini dapat menjadi pondasi dari bagaimana perempuan memahami dunia digital dan posisi mereka di dalamnya. Tubuh perempuan menjadi titik awal lahirnya bentuk-bentuk pengetahuan yang berakar dari pengalamanan, relasi, dan empati. Di tengah ekosistem digital yang beresiko, pengetahuan afektif ini bukan hanya alat navigasi, tetapi juga sumber keberdayaan kolektif yang memungkinkan perempuan membangun ruang digital yang lebih adil, suportif, dan manusiawi.

Epistemologi Feminis dan Budaya Digital Vernakular Perempuan 

Epistemologi feminis menawarkan kerangka penting untuk memahami bagaimana perempuan membangun pengetahuan dari pengalaman, pengetahuan yang berakar pada tubuh, sejarah sosial, dan relasi sehari-hari, bukan pada klaim objektivitas yang abstrak. Dalam kajian kontemporer, para pemikir feminis menekankan bahwa pengetahuan tidak pernah bebas nilai; ia dibentuk oleh kondisi material dan afektif yang dialami subjek (Ahmed 2017; Collins 2000). Dengan demikian, pengalaman perempuan tidak hanya mencerminkan beban gender, tetapi juga mengandung wawasan tentang struktur sosial yang mengatur kehidupan mereka. Epistemologi feminis menggeser fokus dari “bagaimana perempuan digambarkan” menjadi “bagaimana perempuan mengetahui,” sehingga membuka pemahaman baru tentang peran emosi, intuisi, dan embodied experience dalam produksi pengetahuan.

Dalam konteks budaya digital vernakular, epistemologi ini memperoleh relevansi baru. Digitalisasi memungkinkan perempuan mengekspresikan jenis-jenis pengetahuan yang sebelumnya sulit memperoleh legitimasi dalam wacana arus utama. Platform digital memperantarai praktik komunikasi yang intim dan situasional, sehingga menciptakan ruang bagi bentuk pengetahuan yang bersifat naratif, emosional, reflektif, dan relational (Tiidenberg 2023; Dobson 2023). Penggunaan bahasa sehari-hari, estetika visual yang familiar, serta gaya komunikasi khas komunitas lokal membentuk pola pengetahuan vernakular: sebuah cara mengetahui yang tidak bersandar pada kategori-kategori formal, tetapi pada kompleksitas pengalaman hidup yang diartikulasikan melalui media digital.

Dalam budaya digital Indonesia, cara mengetahui yang vernakular ini tampil melalui bentuk-bentuk ekspresi yang terdengar sederhana seperti cerita singkat, ungkapan halus, humor, atau petunjuk praktis, namun mengandung pembacaan yang tajam terhadap dinamika sosial. Epistemologi feminis membantu memperjelas bahwa ekspresi tersebut tidak sekadar komunikasi, melainkan tindakan kognitif yang memetakan kondisi sosial secara afektif. Pengetahuan vernakular bekerja melalui kepekaan terhadap perubahan suasana, pembacaan terhadap relasi kuasa, dan kemampuan memahami struktur moral yang mengatur interaksi digital (Gill & Orgad 2022). Dengan kata lain, perempuan mengembangkan cara membaca dunia yang tidak selalu eksplisit, namun sangat presisi dalam mengidentifikasi ketimpangan, tekanan sosial, dan perubahan mood kolektif.

Selain itu, epistemologi feminis memandang afeksi sebagai dimensi penting dari pengetahuan. Alih-alih menganggap emosi sebagai hambatan dalam memahami realitas, pendekatan ini justru mengakui bahwa afeksi memungkinkan perempuan menangkap nuansa sosial yang tidak terlihat oleh pendekatan rasional. Afeksi membantu perempuan mengenali perubahan kecil dalam ritme interaksi, memahami ketegangan moral, dan menilai keamanan hubungan digital (Stewart 2007; Ahmed 2014). Melalui afeksi, perempuan mengembangkan kapasitas untuk mengetahui dan merespons dunia sosial secara embodied, yaitu dengan melibatkan tubuh, pengalaman sensorial, dan intuisi yang terasah oleh kehidupan sehari-hari.

Budaya digital vernakular memperkaya epistemologi feminis dengan menyediakan medium di mana bentuk-bentuk pengetahuan ini dapat direkam, dipertukarkan, dan disampaikan kepada orang lain. Interaksi digital menciptakan kondisi komunikatif yang memungkinkan perempuan mengartikulasikan pemahaman mereka secara spontan, cair, dan responsif terhadap situasi. Di sini, pengetahuan tidak didefinisikan oleh institusi formal, tetapi oleh praktik komunikasi yang berkembang organik dalam komunitas. Ketika perempuan saling menanggapi ekspresi emosional atau refleksi situasional, mereka tengah membangun affective attunement. Suatu keselarasan emosional yang menghasilkan pemahaman kolektif tentang kondisi sosial (Jackson & Welles 2023).

Dengan demikian, epistemologi feminis dalam budaya digital vernakular perempuan menegaskan bahwa pengetahuan tidak hanya hadir dalam bentuk teori atau argumentasi eksplisit. Ia juga muncul melalui cara perempuan merasakan lingkungan sosial, menanggapi perubahan suasana, dan berbagi pemahaman melalui estetika dan bahasa digital yang mereka ciptakan sendiri. Pendekatan ini membuka kemungkinan untuk melihat perempuan bukan hanya sebagai subjek yang menavigasi risiko digital, tetapi juga sebagai produsen pengetahuan yang menentukan bagaimana realitas sosial dipahami, diinterpretasi, dan direspons dalam kehidupan digital sehari-hari.

Penutup

Dalam akhirnya, pembacaan terhadap pengalaman perempuan dalam budaya digital vernakular menunjukkan bahwa ruang digital tidak dapat dipahami hanya sebagai lanskap teknologi, tetapi sebagai ruang sosial yang hidup, ruang di mana afeksi, tubuh, dan pengetahuan saling bertaut dalam dinamika yang sering kali paradoksal. Kerentanan dan agensi perempuan hadir bukan sebagai dua kutub yang berlawanan, melainkan sebagai dua arus yang saling mengalir dan membentuk cara perempuan mengetahui, merasakan, dan menavigasi dunia digital. Pengalaman sehari-hari yang tampak sederhana, sebuah unggahan, sebuah emoji, sebuah komentar singkat, ternyata menyimpan lapisan-lapisan pengetahuan yang kaya tentang ketidakadilan, resistensi, kehangatan, dan solidaritas yang tumbuh secara vernakular. Dengan mengakui nilai epistemik dari afeksi dan pengalaman tubuh perempuan, kita tidak hanya memperluas definisi pengetahuan itu sendiri, tetapi juga membuka ruang untuk memahami bagaimana perempuan, melalui praktik digital keseharian mereka, terus membentuk dunia sosial yang lebih manusiawi, meskipun di tengah ekologi digital yang sering kali tidak aman. Narasi-narasi ini mengingatkan bahwa pengetahuan bukan hanya soal apa yang diketahui, tetapi juga soal siapa yang mengetahui, dari mana ia berbicara, dan bagaimana ia merasakan.

Referensi

Ahmed, S. (2004). The cultural politics of emotion. Edinburgh University Press.

Ahmed, S. (2014). Willful subjects. Duke University Press.

Ahmed, S. (2017). Living a feminist life. Duke University Press.

Butler, J. (1990). Gender trouble: Feminism and the subversion of identity. Routledge.

Code, L. (1991). What can she know? Feminist theory and the construction of knowledge. Cornell University Press.

Collins, P. H. (2000). Black feminist thought: Knowledge, consciousness, and the politics of empowerment (2nd ed.). Routledge.

Csordas, T. (1994). Embodiment and experience: The existential ground of culture and self. Cambridge University Press.

Dobson, A. S. (2023). The digital intimate publics: Gender, affect, and social media cultures. Palgrave Macmillan.

Gill, R., & Orgad, S. (2022). Confidence culture. Duke University Press.

Horst, H., & Miller, D. (2012). Digital anthropology. Berg Publishers.

Jackson, S. J., & Welles, B. F. (2023). #HashtagActivism: Networks of race and gender justice. MIT Press.

Lupton, D. (2016). The quantified self. Polity Press.

Miller, D., Costa, E., Haynes, N., McDonald, T., Nicolescu, R., Sinanan, J., Spyer, J., Venkatraman, S., & Wang, X. (2016). How the world changed social media. UCL Press.

Pink, S., Horst, H., Postill, J., Hjorth, L., Lewis, T., & Tacchi, J. (2016). Digital ethnography: Principles and practice. Sage Publications.

Sinanan, J. (2017). Social media in Trinidad. UCL Press.

Spyer, J. (2017). Social media in emergent Brazil. UCL Press.

Stewart, K. (2007). Ordinary affects. Duke University Press.

Tiidenberg, K. (2023). Sex and social media. Emerald Publishing.

Wang, X. (2021). Social media in rural China. UCL Press.

17 KOMENTAR

  1. **oradentum**

    oradentum is a comprehensive 21-in-1 oral care formula designed to reinforce enamel, support gum vitality, and neutralize bad breath using a fusion of nature-derived, scientifically validated compounds.

  2. **ignitra**

    ignitra is a thoughtfully formulated, plant-based dietary supplement designed to support metabolic health, balanced weight management, steady daily energy, and healthy blood sugar levels as part of a holistic wellness approach.

  3. **gl pro**

    gl pro is a natural dietary supplement formulated to help maintain steady, healthy blood sugar levels while easing persistent sugar cravings. Instead of relying on typical drug-like ingredient

  4. **finessa**

    finessa is a natural supplement made to support healthy digestion, improve metabolism, and help you achieve a flatter belly. Its unique blend of probiotics and nutrients works together to keep your gut balanced and your body energized

Leave a Reply to gluco6 Batal membalas

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini